Blog Competition, Self Thoughts

Satu Langkah Kecil: Memulai Menjadi Narablog

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah
menyampaikan ke seorang teman saya kalau saya ingin sekali melakukan sesuatu
yang berbeda tahun ini tapi belum tahu apa. Awalnya ditertawakan sih. 
“Yah mau apa  lagi sih sudahlah jadi IRT saja, masak, mengurus
anak, gak usah mikir mau kerja deh!” 
Respon saya tidak terima dong.
Enak saja! Akhirnya saya paksa dia untuk membantu saya memikirkan apa yang
mau saya lakukan ke depannya.



Berdasarkan hasil brainstorming
berdua, muncullah beberapa ide untuk saya telaah sendiri selanjutnya. Misalnya
berjualan daring dengan menambah varian barang yang ditawarkan, menambah
keterampilan baru, dan memulai menulis di blogIde ketiga ini sempat membuat saya berpikir
lama, apakah saya mampu melakukannya? Beranjak dari situ, saya memulai menjelajah
blog. Mulai dari blog yang membahas kecantikan dan perawatan wajah, makanan,
pengasuhan anak, buku, keuangan, dan lainnya. Baca sana baca sini. â€œIh,
keren banget dia nulisnya! Ya ampun baru tahu ada kayak beginian diulas sama si
A. Oh, jadi begini ya kalau review makanan atau produk. Dari mana sih para
blogger mendapatkan uang? Kok bisa ya banyak sekali yang minta dipromosikan
oleh dia?”
dan masih banyak pertanyaan lainnya. Hasilnya? Saya mundur
teratur karena merasa jadi blogger
itu sepertinya berat.



Minat saya muncul kembali setelah membaca blog milik
seorang teman semasa kuliah dulu. Menurut saya, dia sangat produktif
menghasilkan tulisan dan karya meskipun tentunya masih repot dengan dua anak
dan peran sebagai isteri. Saya juga mendapati bahwa ia sudah memenangkan
beberapa kompetisi menulis di blog. Prestasi yang sangat hebat ditengah-tengah
peran ganda ibu rumah tangga. Dari blognya jugalah saya mulai membaca blog lain
yang sarat prestasi, salah satunya blogger tersebut adalah Mas Nodi. Sungguh, saya semakin terpecut untuk menulis. Kalau mereka bisa, mengapa saya
tidak?





TENTANG
STRES DAN KEJADIAN PENTING

Kalau menengok beberapa tahun terakhir, sebenarnya saya
banyak sekali mengalami pengalaman emosional yang kuat karena kejadian-kejadian
penting, misalnya menikah, pindah domisili ke luar pulau Jawa, kehilangan
pekerjaan, menanggalkan target karir dan pencapaian pribadi, menyesuaikan
dengan keluarga baru (mertua dan ipar), program kehamilan selama kurang lebih 3
tahun, hamil dan melahirkan, menyusui, mengurus anak dan rumah dan lainnya. Menurut
kacamata sebagian orang, hal ini adalah biasa dan wajar. Bagi saya, semua
pengalaman ini menguras tenaga, pikiran, dan emosi. Apalagi semuanya saya lalui
tanpa orangtua, saudara-saudara, teman-teman yang selama ini sudah menjadi significant others. Saya memasuki babak
baru kehidupan, yang masing-masing periodenya menuntut saya menyesuaikan diri
sekuat mungkin sampai tidak jarang saya sangat kelelahan dan merasa kalah.

Jadi, saya sedikit menggali tentang stres yang terkait dengan
kejadian-kejadian penting dalam hidup. Dua orang peneliti, Thomas Holmes dan
Richard Rahe (1967) menemukan bahwa perubahan apapun dalam hidup, baik itu
positif maupun negatif, adalah sesuatu yang penuh tekanan dan dapat memberikan
dampak negatif. Mereka mengembangkan Social Readjustment Rating Scale (SRRS),
sebuah skala berisi 43 daftar yang ditelaah
melalui penelitian menyeluruh terhadap partisipan, yang memberikan dampak
paling besar dalam hidup. Setiap item mewakili nilai (value) yang menggambarkan skala adaptasi yang dibutuhkan. Semakin
besar nilainya maka semakin besar juga adaptasi yang diperlukan. Daftar
lengkapnya bisa dilihat disini.

Sumber: www.statistica.com
Saya ingat sekali, di hari pertama setelah pernikahan, saya diminta
menyapu halaman rumah oleh ibu mertua. Saat itu saya sangat kaget sampai
menangis. Meskipun begitu, tetap saya lakukan apa yang diinstruksikannya. Tidak
sekalipun saya membayangkan akan diminta membersihkan halaman. Padahal fisik
saya letih luar biasa, setelah berjam-jam pesta adat batak di gedung, malam
hari masih dilanjutkan acara menantu memasuki rumah yang selesai sekitar jam 10
malam. Namanya pengantin baru inginnya santai-santai, kalau tidak dilayani ya
minimal jangan disuruh bekerja dulu. Sambil menyapu, saya menangis meratapi
diri sendiri “kok sedih amat ya, padahal
di rumah tidak sekalipun orangtua saya menyuruh melakukan apapun”
. Pikiran
saya menerawang teringat orangtua, pekerjaan, dan lainnya yang saya tinggalkan
di Jakarta yang berakhir di halaman rumah itu.

Ini baru awal segala kecanggungan saya tinggal bersama mertua. Pernah
juga dua kali memecahkan piring dan gelas karena tersentak kaget sewaktu
dipanggil mertua. Mertua saya bersuara keras dan lantang, itu memang
pembawaannya tetapi dulu saya belum tahu. Atau kejadian pada saat saya hampir
membakar dapur karena meletakkan kain lap dekat sekali dengan kompor dan
meninggalkan dapur untuk melakukan sesuatu. Saat ini saya bisa menertawakannya,
tetapi dulu saya hampir selalu merasa sedih karena apapun yang saya pegang
pasti jadi bencana.


KATARSIS
DAN MENULIS


Psikolog James Pennebaker dan rekan-rekannya
melakukan sebuah riset mengenai pentingnya emotional
venting
atau chatarsis dengan
kesehatan jangka panjang. Akar kata katarsis berasal dari bahasa Yunani yang
berarti untuk membersihkan. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
Daring, katarsis adalah
cara pengobatan orang yang berpenyakit saraf
dengan membiarkannya menuangkan segala isi hatinya dengan bebas
. Pennebaker dkk meminta para mahasiswanya,
dalam kelompok eksperimen, menuliskan
kejadian-kejadian sumber stres yang mereka alami termasuk perasaan mereka
mengenai perkuliahannya, sementara mahasiswa di kelompok kontrol
hanya diminta menuliskan hal-hal yang sepele. Pennebaker
dkk mendapati bahwa mencurahkan emosi (melalui tulisan) memberikan keuntungan
jangka panjang, termasuk didalamnya adalah sedikitnya jumlah kunjungan ke
dokter. Studi yang mendukung hal ini juga menyebutkan bahwa mencurahkan emosi
memberikan manfaat yang nyata, yaitu 
dapat membantu kita mengorganisasikan pikiran dan menemukan makna dari pengalaman yang dihadapi
(Meichenbaum, 1977; Silver & Wortman, 1980).

Penelitian yang dilakukan oleh Klein and Boals
(2001) menemukan bahwa ketika orang dewasa menulis mengenai kejadian-kejadian
penting dalam hidup mereka, memory terhadap
kejadian tersebut juga meningkat. Menulis bermanfaat untuk kemampuan kognitif
karena mensyaratkan penulis untuk memiliki perhatian yang fokus, mampu membuat
perencanaan dan berpikir ke depan, mengorganisasikan pikiran, berpikir
reflektif, dan lainnya.
Patricia McAdoo, seorang Psikolog Klinis, menyebutkan bahwa kita cenderung
memandang sesuatu berdasarkan versi
pribadi, melihat segala sesuatu dari kacamata sendiri. Mengubah perspektif dan
menulis dari sudut lain membantu kita menjadi lebih fleksibel dalam berpikir
dan memungkinkan kita melihat bahwa tidak hanya ada satu versi dari kisah yang
kita alami. Ibaratnya, menulis itu melebarkan lensa pengalaman kita,
melonggarkan kekakuan mengenai siapa kita, dan bahkan dapat membuka kesempatan
menjadikan diri yang lebih baik.
Sumber: www.google.com
Tahun-tahun berlalu, sekarang sudah hampir lima tahun saya tinggal
disini. Sudah banyak penyesuaian yang saya lakukan. Saya mencari kesibukan
baru, mulai dari berolahraga dan mencari pekerjaan baru. Saya mencari
teman-teman baru di kota ini. Kadang keluar untuk sekedar ngopi atau ke toko buku. Pernah juga bersama teman-teman saya
mengadakan training outbound dan
seminar pendidikan. Belajar memasak dan membuat kue juga merupakan hal yang
saya pelajari disini (ya selain itu memang salah satu peran sebagai isteri).
Malahan sekarang saya mulai menjual hasil baking
saya, yaitu granola. Pencapaian baru. Saya bertahan.

Sumber: Pekanbaru Pos, 18 Nov 2016

Salah satu
hal yang saya lakukan yang menurut saya sangat membantu secara signifikan adalah
memiliki jurnal pribadi dimana saya bisa menuliskan apa saja yang saya alami,
pikirkan, dan rasakan tanpa kuatir penilaian baik buruk atau benar salah. Semua
saya tumpahkan disana. Mungkin ini yang dimaksud beberapa orang bahwa menulis
itu menyembuhkan. Hal-hal baik dan menyenangkan menjadi sesuatu yang memotivasi
saya, membuat saya bersyukur Tuhan menjadikan hari itu untuk saya. Ada kalanya
hal-hal buruk dan menyedihkan terjadi, disitu saya bisa mengungkapkan perasaan
saya, termasuk mengumpat dan memaki. Tidak ada yang menghakimi saya. Singkatnya
adalah dengan menulis saya dapat meluapkan semuanya sehingga merasa lebih baik.
Tetapi kali ini saya mau lebih lagi dari sekedar menulis jurnal. Harapan saya,
mungkin dengan menulis di blog, saya dapat melihat sesuatu dengan perspektif
yang lebih luas, mempunyai kesempatan berbagi dengan orang lain di luar sana,
dan menjadi berkat melalui tulisan saya. Kesempatan untuk menimba ilmu-ilmu
baru, belajar dari yang lebih senior, dan bisa menerbitkan buku karya saya
sendiri juga semakin terbuka untuk saya. Bahkan tidak menutup kemungkinan di
masa mendatang saya dapat menghasilkan uang melalui tulisan saya di era digital
ini.
Sumber Referensi:

7 Comments

  1. Artikelnya bgus mbak, oya gimana cara buat backlink mbak?

    1. Terima kasih mbak 🙂
      Di bagian bar bagian atas ada tulisan LINK mbak. tinggal klik saja dan copy paste url nya 🙂

  2. Salam kenal, mbak. I feel you 🙂 terus berkarya yah!

    1. Helena Magdalena

      Salam kenal juga, Mbak. Terima kasih dukungannya 🙂

  3. Semangat kak tetap ngeblog dan menginspirasi yah 🙂

    1. Helena Magdalena

      Terima kasih banyak mas. Mas ini salah satu inspirasi saya loh 🙂

  4. Saya pas sempat LDM kemarin juga menemukan kalau ngeblig tu ngaruh banget ya, ngerelease stres…. Apa itu bahasanya, katarsis ya…. 🙂 makasi sudah sharing Kak, enjoy banget baca blog Kakak…. Semangaaat!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *