Blog Competition, Education, Parenting

Lima Keterampilan Non Akademik Untuk Anak

Sudah pernah baca buku karya Amy Chua yang berjudul Battle Hymne of the Tiger Mother?
Ini adalah salah satu buku parenting yang banyak menuai pro-kontra karena isinya yang sangat provokatif. Saat ini sih saya belum selesai membaca buku ini, tapi sejauh ini sudah cukup membuat
saya merasa WOW, hehehe. Buku ini mengisahkan pengalaman pribadi Amy Chua dalam membesarkan kedua anak perempuannya dengan cara yang sangat Chinese yang bertentangan dengan pengasuhan ala Barat. Tapi saya bukan mau me-review buku, kok. Sekedar ingin membagi insight.

Membaca buku ini membuat saya tertegun, bahwa yang namanya orangtua pada dasarnya ingin yang terbaik bagi anak sebagai upaya mereka mempersiapkan masa depan yang cemerlang. Mengenai tipe pengasuhan apa yang dianut, semuanya kembali kepada nilai-nilai atau berbagai pertimbangan lainnya yang dimiliki orangtua.
 
Sumber: www.google.com


As
 I often said to the girls, “My goal as a parent is to prepare you for the future – not to make you like me.” (Amy Chua, Battle Hymne of  the Tiger Mother, 2011)

Saya setuju dengan ucapan tersebut. Sebagai orangtua, saya ingin yang terbaik untuk anak saya, terutama dalam menghadapi dunia dengan segala tantangannya. Saya ingin anak saya sukses, berhasil, dan mapan. Saya mau ia nantinya tidak punya keterbatasan finansial untuk memenuhi kebutuhan primer, sekunder, bahkan kebutuhan tertiernya. Saya yakin, pendidikan adalah cara untuk mencapainya. Pendidikan adalah cara mencapai kesuksesan.
 
Saya ingat sekali betapa orangtua saya menekankan kami, anak-anaknya, untuk selalu belajar dan mendapat peringkat yang bagus. Saya dituntut masuk ke sekolah negeri: SMPN 75, lalu ke SMAN 78, dan PTN. Betapa seringnya saya dicekoki cerita tentang kesuksesan uda-uda dan namboru saya yang namanya tersohor sampai ke kampung halaman di Samosir, Sumatera Utara. Bukan sombong, tapi saya hampir selalu bisa membanggakan orangtua saya dalam hal akademis. Semua yang mereka tuntut dapat saya usahakan, dan membanggakan mereka membahagiakan saya.
 
 
APAKAH CUKUP HANYA KEMAMPUAN AKADEMIS SAJA?
 
Saya ingat ketika anak saya baru mulai belajar berjalan di sewaktu usianya masih 9 bulan. Ia tidak seimbang, baru berjalan 1-2 langkah lalu sudah jatuh. Saat jatuh ia akan menangis, mencari saya, menunggu bagaimana saya merespon. Seperti ibu-ibu lain saya akan bilang, “Gapapa ya, Sola. Anak pintar. Sekarang bangun yuk, coba jalan lagi,” diiringi dengan tepuk tangan sambil bersorak.  Padahal hati carut marut lihat anak jatuh di depan mata. Ingin segera lari mengangkat, tapi ada sebagian diri saya menunggu dia bangkit sendiri. Saya memperhatikan tetapi tidak menolong setiap waktu.
 
Akan ada masa dimana kita tidak lagi bersama anak-anak kita. Yang ingin kita berikan adalah semua bekal untuk menghadapi masa depan. Ini semua tentang bagaimana mereka dapat bertahan tanpa
kita kelak.
 
Faktor yang menentukan kesuksesan bukan hanya prestasi akademis. Sebut saja tokoh terkenal yang tidak begitu sukses dalam pendidikan di sekolah, Thomas Alva Edison. Semasa kecil ia dianggap bodoh, tertinggal, dan putus sekolah tetapi akhirnya ia justru dikenal sebagai penemu lampu listrik setelah 9955 kali percobaan. Disini ada kegigihan, keuletan, semangat, dan sikap positif lainnya yang dimiliki Thomas Alva Edison.
 
Sumber : www.google.com
 
Nggak, saya nggak muluk-muluk mengharapkan anak saya menjadi penemu seperti Edison. Ya, kalau dia bisa sih saya amin-kan saja. Sebagai orangtua saya ingin dia sukses dalam versi terbaik dari dirinya. Mudah-mudahan saya dan suami diberi rejeki yang cukup untuk menyekolahkan anak, mendidiknya dalam nilai-nilai yang positif, dan mendukungnya dalam berbagai keterampilan –praktis atau softskill- yang pasti berguna bagi masa depannya kelak.
 
 
 
KETERAMPILAN NON AKADEMIK
 

Bicara soal keterampilan, menurut saya keterampilan non-akademik juga perlu dikembangkan. beberapa waktu yang lalu saya sempat bertanya mengenai pentingnya keterampilan non-akademik di instagram story. 65% dari teman-teman peserta voting setuju bahwa anak perlu diberikan les tambahan non-akademik.

Sumber : instagram pribadi


Hasil sharing menyebutkan beberapa keterampilan dasar yang perlu dajarkan kepada
anak antara lain:

 
BERENANG
Sumber : www.google.com

 

Berdasarkan data dari WHO, dilansir VOA Indonesia, lebih dari setengah jumlah orang yang tewas karena tenggelam berusia 25 tahun ke bawah, dan paling banyak anak di usia di bawah lima tahun.  Lebih mengerikannya, setiap tahun sekitar 372.000 orang mati tenggelam dan tingkat kematian tertinggi terdapat di wilayah Afrika, Pasifik Barat, dan Asia Tenggara. Jadi, kemampuan berenang ini sebenarnya adalah salah satu kemampuan bertahan hidup yang wajib dimiliki oleh anak.
 
Selain faktor diatas, berenang juga memberikan banyak manfaat kesehatan dan kesenangan bagi anak. Berenang membuat paru-paru sehat, meningkatkan kekuatan dan fleksibilitas, meningkatkan stamina, bahkan dapat memperbaiki postur tubuh. Kesadaran akan keterampilan ini sepertinya  sudah banyak disadari orangtua muda. Di Jakarta saja sudah banyak tempat les renang, bahkan mulai dari kelas bayi. Jadi ini adalah must have skill yang akan saya perkenalkan kepada anak di usianya nanti yang ke-dua. Siapa tahu nanti bisa jadi atlet juga J

 
MEMBELA DIRI
Sumber : www.google.com

 

Berdasarkan data KPAI, dikutip dari Tempo.com, kasus kekerasan pada anak pada anak di tahun 2018 mencapai 445 kasus, dimana 288 (51,2%) kasus di dalamnya adalah kekerasan fisik, verbal, dan seksual. Kekerasan bisa dilakukan oleh teman sebaya, guru, atau orang dewasa lainnya. Kejadian kekerasan sangat besar kemungkinannya terjadi di luar jangkauan kita, sehingga sangat penting bagi anak untuk dapat membela diri di saat-saat yang berbahaya.
 
Tidak ada salahnya mengikutsertakan anak pada kelas diri fisik seperti taekwondo atau martial art. Selain ituanak juga perlu dibekali kemampuan yang meliputi kewaspadaan terhadap lingkungan, belajar mempercayai insting, fokus pada menghindar daripada mengkonfrontasi, bagaimana mencari jalan keluar dari situasi yang berbahaya, dan kepada siapa anak harus mencari pertolongan.

 
BAHASA ASING
Sumber : www.google.com

 

Kemampuan berbahasa asing ini amat diperlukan, apalagi dunia kini semakin terhubung antara satu negara dengan negara lain. Terciptanya banyak kerjasama dan hubungan internasional mengharuskan anak-anak kita kelak dapat berkomunikasi menggunakan ragam bahasa yang berbeda-beda. Dalam belajar bahasa, bahasa Inggris masih jadi favorit untuk disandingkan dengan bahasa Indonesia, selain bahasa Mandarin. Nah, kita bisa mulai memaparkan bahasa asing ini kepada mereka sejak mereka masih kecil. Yang penting menurut saya adalah konsistensi dalam mempraktekkannya. 
 
Tapi nanti anaknya bingung kalau diajarkan bilingual?
 
Jangan kuatir! Menurut seorang ahli, Francois Grosjean, pada dasarnya anak itu (dimana pun berada) tumbuh tidak dengan satu bahasa saja. Misalnya, saya sendiri yang tumbuh dengan basis bahasa Batak dan bahasa Indonesia. Atau teman saya yang tumbuh dengan basis bahasa Jawa, Sunda, dan Minang.
 

Grosjean berpendapat bahwa anak akan mengembangkan kemampuan berbahasanya jika ada kebutuhan untuk itu dan interaksi di lingkungan menciptakan kebutuhan tersebut. Menurutnya, cara terbaik untuk mengajarkan anak bilingual atau lebih adalah dengan menggunakan satu bahasa di rumah, dan bahasa lain di luar rumah. Sehingga jelas di pikiran anak bahwa untuk berinteraksi di rumah ia harus menggunakan bahasa X, sedangkan diluar rumah ia harus menggunakan bahasa Y. Lebih lengkapnya mengenai paparan yang disampaikan Grosjean bisa dibuka disini.

CODING
Pada kenyataannya, semua pekerjaan di masa depan terkait erat dengan keterampilan pemrograman komputer. Jika kita tidak tahu bagaimana memprogram, kita hanya akan terus menjadi konsumen atas dunia yang semakin maju ini. Sehingga menjadi penting untuk tahu bagaimana menavigasi dunia di era digital ini dengan kemampuan mengatur dan mengoperasikan komputer.
 
Ada sebuah video menarik yang membuka mata saya akan kebutuhan keterampilan ini :
 

Sumber : https://code.org/promote

Meskipun terdapat banyak situs pembelajaran online, untuk keterampilan ini saya lebih setuju belajar praktek di tempat kursus dengan tutor yang berpengalaman. Tempat yang saya rekomendasikan adalah DUMET School yang menawarkan jadwal fleksibel, semi private, belajar sampai bisa, dan bahkan gratis konsultasi setelah lulus. 

Dalam modul Coding For Kids, anak-anak usia 6-12 tahun akan mempelajari bagaimana membuat game interaktif, dasar-dasar sebuah program, dan melatih cara berpikir murid agar lebih terstruktur. Setelah lulus, anak-anak akan bisa membuat hasil karya game sederhana sendiri dan akan lebih mudah menguasai bahasa program lain. Tidak hanya itu, DUMET School juga menawarkan modul Design For Kids yang memampukan anak untuk membuat karya desain grafis sederhana sendiri dan melatih daya kreatifitas anak.

Menariknya, DUMET School juga memberikan FREE TRIAL bagi anak dan saat ini juga sedang mengadakan promo harga untuk bundling dua modul sekaligus, diskon sampai dengan Rp. 1.500.000. 

Promo Bundling 2 program
 

Buat ibu-ibu, dua hal diatas penting banget ya kan? Anak bisa maksimal belajar dengan harga lebih terjangkau.

 
KESENIAN
Sumber : www.google.com

 

Sebagai mantan penyanyi paduan suara di masa lalu, bernyanyi adalah salah satu cara saya mengekspresikan diri. Sampai sekarang pun masih, hanya saja levelnya sudah turun menjadi penyanyi kamar mandi saja. Hahaha. Ya, kadang-kadang masih bernyanyi di gereja dan beberapa event undangan. Tidak hanya rasa senang saat bernyanyi, saya juga merasa dapat “melepaskan beban” sejenak dari rutinitas yang saya jalani.

Secara umum banyak manfaat yang bisa didapatkan dari kesenian, misalnya meningkatkan kreativitas, mendorong anak untuk meningkatkan kemampuan akademis, meningkatkan kepercayaan diri, kegigihan, fokus, dan kerjasama.

Tidak seperti saya yang hanya bisa mengolah vokal, saya ingin memberikan sebanyak mungkin pengalaman berkesenian terutama bermain alat musik kepada anak. Pilihan favorit saya sih masih piano dan biola. Kenapa? Ya karena saya suka aja, hehehe. Lebih lagi, jika kemampuan bermusik ini dikembangkan secara professional, anak dapat menjadikannya sebagai salah satu sumber pemasukannya kelak.

 

Nah itu tadi beberapa keterampilan non-akademik yang bisa kita ajarkan kepada anak untuk mempersiapkannya menjalani kehidupannya sekarang dan kelak. Tentu semuanya dibarengi dengan doa, konsistensi, kesabaran, kemampuan orangtua mengatur keuangan. Hahaha. Karena semua pakai biaya, Jendral! Semangat J




Tulisan ini diikutsertakan pada DUMET School Blog Competition Periode Februari 2019

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *