Blog Competition, Self Thoughts

Setop Eksploitasi Anak untuk Kampanye Rokok

SETOP EKSPLOITASI ANAK UNTUK KAMPANYE ROKOK

Pendidikan adalah cara mencetak generasi berkualitas di masa mendatang. 40-50 tahun lagi, anak cucu kitalah yang akan membangun bangsa ini. Tapi bagaimana kalau sejak sekarang mereka telah dipaparkan pada rokok, termasuk iklannya? Semakin dekat dengan rokok, semakin baik kesan yang muncul terhadap rokok, padahal rokok sedemikian mematikan.

Beberapa waktu yang lalu saya mendengarkan streaming di KBR.ID Ruang Publik KBR yang mengadakan tema talkshow dengan judul “Desakan Setop Anak Jadi Media Promosi Rokok”. Adalah kajian dari Yayasan Lentera Anak yang merupakan temuan mereka terhadap kegiatan audisi Beasiswa Djarum Bulutangkis. Oh ya, di Jakarta, teman-teman bisa menyimak Ruang Publik KBR di Power FM 89,2.

Pandangan ini sejalan dengan KPAI, dimana Ibu Siti Hikmawati mengatakan bahwa industri rokok berpotensi melakukan eksploitasi dari hulu ke hilir. Anak-anak yang mengikuti audisi beasiswa ini wajib memakai kaos dengan warna, tulisan, dan logo yang sama dengan bungkus rokok, sehingga mereka tampak seperti iklan berjalan. 

Pakar Psikologi Forensik dari Yayasan Lentera Anak, Reza Indragiri, menyebutkan ini adalah ironi yang sempurna, bagaimana sesuatu yang berbahaya bagi anak malah diramu sedemikian rupa menjadi sesuatu yang seakan-akan baik. Corporate Social Responsibility perusahaan yang seharusnya memberikan dampak positif di masyarakat malah digunakan untuk meningkatkan profit perusahaan dengan memanfaatkan anak-anak sebagai media promosi.

mengapa disebut eksploitasi

Dari hasil diskusi di Ruang Publik KBR, saya menyimpulkan ada beberapa alasan mengapa audisi beasiswa bulutangkis tersebut dikategorikan sebagai eksploitasi anak:

Anak mengenakan atribut yang sama persis dengan produk rokok. 

Bagaimana tidak, anak kelihatan seperti rokok karena selama tiga hari masa audisi tersebut mereka mengenakan kaos yang warna, huruf, ukuran dan gambarnya identik dengan produk rokok itu sendiri. Pihak Djarum sendiri, diwakili oleh Lius Pongoh, mengatakan bahwa tulisan “Djarum” tidak ada bedanya dengan nama klub olahraga pada umumnya.

Narasumber lain, Ibu Nina Mutmainah, Ketua Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, menganggap pihak Djarum hanya berkilah saja. Beliau juga menyebutkan ini sebagai subliminal advertising, “Brand image ditanamkan dengan pesan yang halus sekali stimulus pesan itu, masuk ke alam bawah sadara dan melalu gambar yang diulang-ulang maka bisa mempengaruhi persepsi kita.”

Anak dikelilingi oleh atribut iklan rokok selama proses audisi di kota atau wilayah audisi tersebut berlangsung

Anak-anak dalam audisi bukan hanya sekedar mengenakan baju mirip dengan rokok, tetapi juga dipaparkan dengan kampanye rokok berupa spanduk, banner, umbul-umbul, tayangan televisi yang menyiarkan acara tersebut, dan sebagainya. Di kaosnya sendiri tulisan mereknya lebih besar daripada tulisan audisinya. Lebih lanjut Nina mengatakan bahwa anak diterjunkan langsung ke area akses rokok. Anak pun terlihat sebagai alat peraga untuk rokok. Lagi-lagi  penanaman brand image seperti ini memunculkan kesan positif terhadap rokok itu sendiri.

Tingkat kelulusan anak yang menerima beasiswa hanya 0.01% 

Tingkat kelulusan terlalu sedikit sehingga ini terlalu “bombastis” disebut sebagai Corporate Social Responsibility perusahaan. Disebut sebagai beasiswa bagi anak-anak yang berbakat bulutangkis, namun pada akhirnya jumlah anak yang direkrut dan dibina sangat tidak sebanding dengan nama yang digunakan itu. Lebih lanjut disampaikan bahwa ternyata yang lulus beasiswa dalam kurun waktu 10 tahun hanyalah 245 anak. Sangat sedikit.

Tujuan utama dari ajang beasiswa ini adalah untuk mendatangkan profit yang lebih besar lagi bagi perusahaan itu sendiri.

Eksploitasi ini dikategorikan sebagai eksploitasi ekonomi karena bisa dipastikan keuntungan yang diterima oleh perusahaan rokok ini jauh berlipat ganda dibandingkan keuntungan yang diterima oleh anak-anak. 

Riset mengatakan bahwa anak-anak yang terpapar iklan rokok, memiliki potensi yang lebih besar untuk menjadi perokok aktif dikemudian hari. Reza menyampaikan bahwa di tahun 2013, terdapat 7,2% anak Indonesia yang merokok. Alih-alih turun, di tahun 2018 jumlah perokok belia justru naik menjadi 9,1 %. Terdengar seperti mencari regenerasi konsumen, bukan?

Adanya bentuk relasi tidak seimbang antara anak dan penyelenggara.

Reza menambahkan bahwa ini ada bentuk relasi yang tidak seimbang antara calon penerima beasiswa dan penyelenggara. Mengapa demikian? “Anak-anak tersebut, katakanlah mereka gembira, mereka tersenyum, tapi mereka tidak sadar bahkan mungkin orangtua mereka juga tidak sadar bahwa saat itu sedang berlangsung yang disebut grooming behavior.” Lebih lanjut diungkapkan oleh Reza, “Anak dininabobokan, anak diberi sanjungan, anak diberikan berbagai iming-iming, hadiah, dan seterusnya. Kegembiraan dan perasaan-perasaan positif lainnya sengaja dimunculkan di ruang-ruang semacam itu.”

rokok ibarat makan buah simalakama

“Rokok memang mematikan sih, tapi karena beasiswa saya bisa maju.”

“Rokok berbahaya sih tapi kan kita jadi bisa mengembangkan musik dan seni di wilayah ini.”

“Rokok itu gak sehat sih, tapi karena saya dapat fasilitas keluar negeri dari perusahaan rokok tuh.”

Familiar dengan kalimat-kalimat diatas? Ibarat makan buah simalakama, semua serba salah. Ya, itulah yang terjadi di industri rokok di tanah air. Inilah yang disebut oleh Reza sebagai cognitive dissonance atau ketidakharmonisan kognitif. Dilema ini sengaja diciptakan secara terencana melalui program CSR industri rokok, dalam hal ini beasiswa olahraga bulutangkis. Perusahaan berusaha mengaburkan sikap kita terhadap rokok. Sesuatu yang berbahaya kini seolah-olah bermanfaat dan memberikan kebaikan bagi masyarakat.

Tapi, rokok kan menyumbang cukai untuk negara

Regulasi kita di Indonesia sangat ramah terhadap industri rokok. Sehingga menjadi surga bagi mereka. Setidaknya sudah 114 negara yang melarang iklan rokok beredar, tetapi di Indonesia tidak demikian. Mungkin bagi teman-teman yang ingin membaca detil peraturan pemerintah-nya bisa dilihat disini

Terkait dengan cukai rokok, Reza justru mempertanyakan ini kepada pemerintah. Data perokok belia tahun 2013 sebesar 7,2%. Pemerintah mencanangkan tahun 2019 turun menjadi 5,4%. Tapi justru sebaliknya, di tahun 2018 angka perokok belia sudah naik menjadi 9,1 %. Pemerintah ternyata membatalkan rencana menaikkan cukai. Inilah salah satu penyebabnya, harga rokok yang masih dapat dijangkau masyarakat.

Nina menyampaikan bahwa sebenarnya cukai pajak dibayar oleh pembeli, bukan oleh perusahaan rokok. Cukai pajak dapat disebut sebagai pajak dosa (sin tax), yaitu pajak yang dikenakan pada barang yang membahayakan masyarakat. Jadi, dengan kata lain, kalau kita beli rokok ya kita yang bayar pajak.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, KPAI menyebutkan bahwa perusahaan rokok telah melakukan eksploitasi dari hulu ke hilir. Lantas bagaimana tindak lanjut dari KPAI itu sendiri? Ibu Siti Hikmawati menyampaikan bahwa selanjutnya KPAI akan memberikan pencerahan  kepada para pelaku tersebut bahwa ini adalah sebuah bentuk eksploitasi berikut paparan bukti-buktinya. Jika eksploitasi masih dilakukan, KPAI akan membawa ke jalur hukum. 

apa yang bisa kita lakukan

Penyebab anak merokok didasarkan pada banyak faktor sih kalau menurut saya. Tetapi mungkin yang paling mudah yang dapat kita lakukan dimulai dari rumah. Beberapa tips yang bisa dicoba misalnya:

  • Memberikan contoh kepada anak. Para bapak yuk setop merokok di rumah. Misalnya pun bapak sudah kecanduan, setidaknya jangan merokok di depan anak atau di lingkungan rumah. Jadikan rumah bebas asap rokok.
  • Sosialisasikan bahaya rokok. Jangan mengganggap rokok sebagai hal yang tabu untuk dibicarakan oleh orangtua. Sehingga nanti anak penasaran dan malah mencobanya sendiri tanpa sepengetahuan kita. 
  • Awasi pergaulan anak. Mungkin yang ini agak susah ya, kalau terlalu mengawasi nanti dibilang overprotective, tetapi saya rasa tidak ada salahnya menanyakan perihal anak pada guru di sekolah, atau teman-teman dekatnya.

Kalau dapat beasiswa dari perusahaan rokok bagaimana? Yang ini saran dari Reza Indragiri, bahwa orangtualah yang kembali bijak menelaah, meskipun beasiswa ini sangat menggiurkan, tetap kepentingan melindungi anak harus diprioritaskan. Harapan saya ke depannya, pemerintah juga bisa langsung #putusinaja untuk memasukkan kebijakan pengendalian tembakau secara lebih ketat. Semoga bermanfaat!

47 Comments

  1. Mak eehh…… gawat juga ya…. sekarang merambah ke anak2 untuk kampanye rokok.

    1. Helena Magdalena

      Iya betul Bang, ini kayak iklan tapi ga iklan tapi iklan..gimana coba

  2. Aku baru ngeh loh Mbak tentang kaus kaus mirip rokok yang bikin anak seolah jadi peraga rokok. Duuuuhh, miris ya…. Tapi bener kata Mbak Helena, orang tua pun harus jadi contoh ya….

    1. Iya Mbak, yang dari luar kan sulit ya kita kontrol, akhirnya kembali ke orangtua untuk menjadi teladan buat anaknya

  3. Aku setuju kak buat pemerintah tegas.
    Sebel.banget sekarang ini rokok mewabah dimana-mana. Kasihan anak belia jaman sekarang banyak yg smp udah merokok miris

    1. Semoga makin banyak yang peduli sehingga pemerintah pun makin mantap bertindak yah

  4. Miris, ih. Anak2 jadi peraga kampanye brand rokok & terpapar dg iklannya gitu… Suka greget sendiri emang klo udh soal rokok tuh. Jadi reminder jg buat para orang tua nih biar lbh bijak & melindungi anak dari rokok

    1. Amin amin, semoga orangtua makin bijak yaa melindungi anak-anak mereka

  5. Oh….rokok ini memang getol sekali memberikan beasiswa dan fasilitas terbaik bagi kampus tertentu.
    Dulu kampusku dibangun perpustakaan digital.
    Heran.
    Kenapa mesti rokok siih…? Apa itu gak sama dengan mengajak mahasiswa untuk membeli produknya?

    Miris melihat fenomena ini.

    1. Iya gitulah mbak, memberikan dilema pada masyarakat…

      1. Susah juga yaa…kalau #PutusinAja
        Semoga dapet beasiswanya gak dari rokok kali yaa…
        Huhuu~

        1. Maunya banyak juga ya perusahaan lain yang nawarin beasiswa…soalnya beasiswa tetap masih dicari dan dibutuhkan

  6. Beberapa tahun lalu sempat baca-baca soal beasiswa dari perusahaan rokok. Menarik memang, tapi aku berusaha tidak tertarik. Nggak sesuai dengan prinsip. Program CSR perusahaan rokok bisa banget, ya. Seolah bertanggung jawab atas bahaya ditimbulkan, tapi justru mengeruk lebih banyak keuntungan.

  7. Ternyata ngga hanya saya yang punya pemikiran seperti Mbak. Brand ini memang terkenal karena di CSR-nya disebut menyediakan banyak beasiswa. Tapi ternyata faktanya begitu ya, Mbak? Beasiswanya sedikit, njomplang dengan “iklan terselubung”nya yaa..

    Kalau saya sih, meski ditawari beasiswa, mending no deh. Kalau bisa cari beasiswa dari yang lainnya aja, daripada dilema.

    1. Faktanya ini sih yang terjadi di lapangan….jumlah yang diterima dikit, smntr anak yang audisi banyak banget dan juga diharuskan pakai kaos spt bungkus rokok…jadinya iklan terselubung gituu

  8. Kampus anakku juga ada sponsor untuk beasiswa dari pabrik rokok. Tapi aku udah pesen sih sama anakku, ntar nyari beasiswa jangan dari pabrik rokok ini. Masih banyak pilihan beasiswa dari yayasan atau lembaga lain. Aku nggak mau sampai hutang budi dengan pabrik rokok, apalagi aku paling gak suka asap rokok

  9. Meyedihkan sekali. Saya termasuk orang yang kurang menerima rokok. Kalau orang mau merokok di dalam ruangan sendiri, lalu keluar dalam kondisi tanpa asap rokok si enggak masalah. Tapi kalau sudah merokok di luar ruangan dan kemudian masuk ke rumah, itu kan asap dan partikel yang menjadi debu tep menempel di baju dan tubuhnya ya, belum lagi bau mulutnya. Duh jadi mangkel aku, apalagi pakai anak-anak untuk kampanye-nya

    1. Iya mbak, sekedar merokok di luar sebenarnya bukan solusi juga sih soalnya debu-debunya pasti nempel di baju. Tapi ya gimana emang susah ya. Berharap pemerintah lebih tegas di regulasi ttg rokok ini

  10. suamiku perokok berat, Mba, huhuhu πŸ™

    Saya hanya berharap semoga rokok ini gak diproduksi lagi, tapi kayaknya harapan itu gak mungkin jadi nyata, hiks πŸ™

    1. Minimal regulasi nya diperketat ya mbak huhuhu

  11. Setuju banget le, padahal yang dapat beasiswa juga enggak banyak amat. Tapi mereka harus udah pakai seragam kaos rokok gitu secara tidak langsung mensugesti anak-anak untuk mengenal djarum. Stop kalau bisa hentikan penjualan rokok di Indonesia.

    1. Sepakat, rokok ini jangan bikin dilema deh, larang aja sekalian

  12. Egh aku enggak ngeh nih ada kasus ini. Jd pencerahan bgt. Thank you, ya.

    1. Iya mbak sama-sama

  13. Aku gak bisa kena asap rokok. Bicara beasiswa dari rokok ini tuh kaya buah simalakama. Ada saudara kan kerja di pabrik rokok, gaji bagus, fasilitas oke, tapi ya itu, rokok

    1. Bener mbak, disatu sisi ini rokok negatif, disisi lain ya gaji fasilitas oke

  14. Tadi aku sempat bingung masa sih anak diekploitasi rokok ternyata melalui pemberian beasiswa macam itu juga termasuk ekploitasi ya mbak.
    Jadi serba bingung memang ya dana yang diberikan untuk pendidikan memang besar tapi rokok sendiri gak bermanfaat

    1. Lebih karena anak diminta memakai kaos yang serupa dengan bungkus rokok dan mereka ditempatkan di lingkungan yang penuh dengan kampanye rokok sih mbak… Kecuali penyelenggara bersedia mengadakan kegiatan itu tanpa embel-embel logo iklan dll mungkin beda ceritanya

  15. Kadang suka heran ya, sering saya temui larangan merokok… Ada iklan ato selebaran yang menunjukkan bahayanya merokok, tp kenapa rokok masih dijual bebas di Indonesia? Dan kenapa pula merambah ke anak-anak? Dengan dalih apapun, misalnya beasiswa dsb…. kalo bisa janganlah rokok sebagai sponsor nya….lebih baik kita berikan pemahaman yang benar kepada anak-anak tentang bahayanya merokok agar mereka terhindar dari barang yang berbahaya ini….

    1. Harapan kita semua seperti itu ya mbak..mudah2an aja didengar nih sama pemerintah

    2. Nah itu juga dimana mana olimpiade sponsor utamanya dari djarum heh yg notabene ya perusahaan rokok, dan didalamnya banyak anak2. Secara tidak langsung ya mba memberi opini publik klo merokok itu sbenarnya ga masalah dan merokok tdk merokok toh jg katanya nnt mati eleh- eleh -_-

      1. Itulah mbak, hidup mati kita ga tahu ya, tapi sih harapannya jangan anak-anak terpapar iklan rokok sehingga mereka jadi bersikap positif kepada rokok

  16. Ini nih yang sering jadi ketakutan aku sebagai orang tua. Takut anak merokok. Walopun di rumah gak ada yang merokok, tetep aja takut kepengaruh sama temen-temennya. πŸ™

  17. Oh gitu ya mba, aku selama ini ngga terlalu perhatiin banget sih.. setelah baca tulisan ini jadi paham, maksud dari judulnya.. aku setuju banget mba, anak jangan di eksploitasi ya.. apalagi untuk kampanye rokok.. big no deh

  18. Anakku, Fathan kalau di tempat makan atau di jalan lihat orang merokok, suka keceplosan bilang gini, β€œitu merokok, dosa khan ya bunda” duh saya hanya bisa senyum halus nggak berani menanggapi takut yang merokok dengar dan tersinggung, miris banget perusahaan rokok mengeksploitasi anak-anak dan bersembunyi di balik jubah csr

  19. Setuju nih dengan kampanye ini…keren ..saya gak suka sama yg ngeroko di dpn umum gitu apalagi kalau ada yg pke eksploitasianak …

  20. Secara tidak langsung memberikan dampak negatif bagi anak ya mbk waduh ngeri banget kalau kayak gini Bener-bener posisi serba salah buat penerima beasiswanya

  21. Alhamdulillah aku jadi semakin ngerti nih Mba, ada beberapa yang aku luput soal dapet beasiswa dari kampanye rokok itu
    di tempatku juga ada pabrik rokok yang pekerjanya wanita semua, sedih sebenarnya. Aku juga kalo ada bau asap rokok idungku jadi langsung peka.

  22. Hmmm… Baju mirip rokok itu seperti apakah? Soalnya setahuku sih biasanya cuma logo aja sih yang ditempelin. I mean, nggak sampai bikin pemakai bajunya literally mirip puntung rokok hehe. Buat menyadarkan masyarakat rasanya susah banget ya. Soalnya kebanyakan penerima beasiswa mungkin dari kalangan menengah ke bawah yang boro2 mikir logo rokok bisa bikin anaknya pengen ngerokok, mereka lebih butuh ke dana buat pendidikan anak.

  23. Bner bgt Mba, salah satu cara kita blogger untuk urusan rokok ni mengkampanyekan rokok itu bukan utk anak2

  24. Jadi ingat waktu jaman sekolah dulu pernah dapat beasiswa dari perusahaan rokok. Ternyata itu salah satu modus atau bentuk eksploitasi terhadap anak ya Mbak.

    Oia, saya mendukung adanya ajakan positif seperti ni apalagi rokok memang sangat berbahaya untuk anak2 dab juga perokok pasif

  25. dari dulu persoalan ini emang bagai buah simalakama ya mbak, kayaknya ya Pemerintah juga ga mau kehilangan cukai rokok yg sebegitu menggiurkan. Ah, semoga saja ada kebijakan demi menyelamatkan generasi nantinya ya

  26. Nah itulah mbak aku suka sedih kalau ada acara2 yang disponsori rokok melibatkan anak2. Dalihnya buat beasiswa apalah, tapi caranya gmn gtu.
    Ini pemerintah kudu teges ngurusin hal2 kyk gini, jgn sampai generasi muda mendatang bnyk yg perokok. Lagian biasanya prusahaan rokok itu ngasinya kecil kok, gak sebanding sama keuntungan mereka.

  27. Miris ya Mbak, anak-anak yang seharusnya dijaga malah digunakan untuk iklan rokok. Semoga segera ada perbaikan.

  28. Setuju nih, semoga dengan kampanye ini tingkat amak merokok jadi bisa diturunkan kalau bisa ditiadakan biar generasi muda kita sehat

  29. Autoshare Mbak. Untuk mengurangi jumlah perokok sih di negara lain memang harganya dimahalin ya, tapi entahlah kenapa di Indonesia masih murah juga harganya=( soal cukai ada temenku pernah blg kl cukai dinaikin bisa2 malah byk rokok yg masuk lewat jalur ilegal. Hmm

  30. Thanks for sharing, sukses terus…

Leave a Reply to Ida T Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *