Uncategorized

Budaya Sadar Bencana di Bumi Lancang Kuning

Ada yang baru dari ritual bangun pagi saya. Selain berdoa dan membasuh muka ke kamar mandi, kini saya tambahkan mengecek ponsel untuk mengetahui kualitas udara melalui aplikasi. Ah, pagi ini asap masih pekat, bahkan ada di level berbahaya. Benar saja, begitu berpindah ruangan lain, bau asap menyeruak masuk pernapasan. Saya masih bersyukur karena kamar tidur dilengkapi AC dan air purifier sehingga tidur saya, anak, dan suami masih lelap tanpa merasakan pengapnya asap. Sudah beberapa bulan belakangan ini, Riau diselimuti asap. Awalnya tipis-tipis saja, tetapi makin lama makin pekat. Bisa dibayangkan bagaimana sesaknya jika tak ada air conditioner atau air purifier. Terpaksa menghirup asap 24 jam sehari, memforsir kerja paru-paru semaksimal mungkin. Ibu hamil, anak-anak, dan lansia adalah kelompok yang paling rentan terhadap dampak asap. Senin kemarin, Tribun Pekanbaru 16 September 2019, meliput jatuh korban bayi usia 4 bulan yang meninggal karena ISPA di Sumatera Selatan.

Seruan masyarakat lewat berbagai media sosial pun mulai berkumandang. Mulai dari meminta pemerintah daerah turun tangan dan menunjukkan kinerjanya, sampai “panggilan” kepada Presiden untuk turun ke lapangan. Tidak sedikit beberapa kelompok masyarakat sendiri yang bergerak, berinisiatif membantu sesama dalam bencana kabut asap ini. Mulai dari membagi-bagikan masker di jalan, mengumpulkan donasi untuk tanaman sanseviera, bahkan juga mengumpulkan vitamin dan suplemen kepada para pejuang pemadam api di garda terdepan. 

Sumber foto: instagram/@bpbd_pekanbaru

Menurut data yang dihimpun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) grafik jumlah bencana dari tahun 2005-2015 terus meningkat. Meskipun demikian, nyatanya bencana yang lebih banyak terjadi adalah bencana hidrometeorologi dibandingkan bencana geologi. Terdapat beberapa faktor yang berkontribusi pada kejadian bencana hidrometeorologi, diantaranya pengaruh perubahan iklim dan aktivitas manusia seperti perambahan hutan untuk perkebunan dan tempat tinggal atau pembangunan di daerah penyangga. Frekuensi kejadian yang cenderung banyak memberikan dampak yang mempengaruhi hidup manusia.

Sejatinya, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan merupakan bencana alam karena 99% kejadian di Indonesia disebabkan oleh faktor manusia. Karhutla yang terparah di Riau terjadi di tahun 2013 dan 2015 yang dampaknya juga sampai ke negara tetangga, Malaysia dan Singapura. Karakteristik biofisik lahan di Riau ini merupakan lahan gambut. Secara alamiah, lahan gambut tidak mudah terbakar karena sifatnya seperti spons yang mampu menyerap dan menahan air dengan maksimal. Kondisi ini akan terganggu jika ada konversi lahan, yang semakin parah jika musim kemarau terjadi. Lahan gambut menjadi sangat kering sampai kedalaman tertentu dan bersifat mudah terbakar. Api menyebar hingga ke bawah permukaaan tanah menyulitkan untuk dideteksi dan mengakibatkan asap. Hal ini tentu menyulitkan proses pemadamannya. Butuh waktu berbulan-bulan dan hanya padam total jika ada hujan lebat secara intensif.

Sumber: pantaugambut.id

Ada Asap, Ada ISPA

Kebakaran lahan dan hutan memberikan dampak negatif yang signifikan bagi lingkungan dan masyarakat sekitar, diantaranya rusaknya ekosistem di hutan, hewan-hewan kehilangan tempat tinggal, dan rusaknya tanah, anak-anak yang tertinggal pelajaran karena diliburkan berkepanjangan, bandara yang tidak dapat beroperasi dengan maksimal, dan pencemaran udara.

Seberapa besar pencemaran yang terjadi dapat kita pantau melalui Indeks Standar Pencemaran Udara atau ISPU. ISPU adalah laporan kualitas udara untuk menerangkan seberapa bersih atau tercemarnya kualitas udara dan bagaimana dampaknya terhadap kesehatan setelah menghirup udara tersebut. Penetapan ISPU ini didasarkan pada tingkat mutu udara terhadap kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, bangunan, dan nilai estetika. Nilai ISPU ditetapkan berdasarkan lima faktor pencemar, yaitu Karbon Monooksida (CO), Sulfur Dioksida (SO2), Nitrogen Dioksida (NO2), Ozon Permukaan (O3) dan Partikel debu (PM10).

 

sumber: depkes.go.id

Dampak kesehatan menjadi isu penting yang dirasakan masyarakat, dimana asap pekat menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), iritasi pada mata, asma, penyakit jantung dan paru-paru, sampai kematian. Hal ini terutama pada kelompok usia beresiko tinggi: ibu hamil, anak-anak, dan lansia. Anak-anak sekolah terpaksa diliburkan menyebabkan mereka ketinggalan pelajaran. Pekerjaan pun menjadi terganggu, apalagi bagi mereka yang bekerja di lapangan atau di jalan. Bisa dibayangkan roda perekonomian keluarga pun ikut goyah. Kerja kena asap, tidak kerja dapur tak berasap.

Berdasarkan data dari Riau Pos tanggal 19 September 2019, jumlah penderita ISPA di Riau sejak Januari – September 2019 terus mengalami peningkatan, meskipun tidak separah di tahun 2015-2016 yang lalu

Kebakaran hutan dan lahan di Riau didasarkan pada pembukaan lahan baru (land clearing) untuk areal perkebunan dengan biaya yang murah, apalagi didukung dengan kondisi musim kemarau yang panjang. Api dapat mudah menyebar dan menghabiskan wilayah lahan dan hutan. Pemerintah pun tidak diam. Secara langsung, pemerintah menyiapkan personel gabungan TNI, Polri, BNPB, BPBD, dan berbagai pihak untuk memadamkan api secara langsung di lapangan. Pemadaman api melalui udara juga dilakukan dengan water bombing. Tidak hanya itu, usaha Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) juga dilakukan untuk memicu hujan dengan cara menyemai awan menggunakan garam (NaCL). Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menyegel 2.209 Ha tanah dan mengeluarkan 110 surat peringatan di 19 lokasi di Provinsi Jambi, Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.

Upaya-upaya telah dilakukan, baik oleh pemerintah daerah, pemerintah pusat, maupun inisiasi pribadi/yayasan untuk menanggulangi kabut asap akibat karhutla. Namun, bukan berarti sebagai masyarakat hanya diam saja dan menunggu bantuan datang. Tumbuhkan budaya sadar bencana itu penting.

  1. Kenali potensi bencana di sekitar kita. Dimanapun kita tinggal kita perlu memperhatikan dengan baik apa potensi bencana yang mungkin terjadi. Secara awam, kita bisa melakukannya dengan mendata apa saja kejadian bencana yang terjadi dalam setahun, dan menjadikannya pedoman. Rajin mengupdate informasi melalui internet, surat kabar, televisi juga membantu untuk mengenali potensi bencana. Salah satu sumber data yang akurat bisa kita peroleh portal www.bnpb.go.id
  2. Dalam keadaan kabut asap, tutuplah akses masuknya asap ke dalam rumah, tutuplah pintu dan jendela, celah-celah kecil dibawah pintu atau jendela juga bisa ditutup dengan kain basah. Air conditioner dan filtrasi udara dapat selalu dinyalakan untuk menjaga udara di dalam rumah. Jika terasa pengap di rumah, segeralah ke posko atau rumah singgah terdekat untuk mendapat bantuan.
  3. Sebaiknya hindari keluar rumah. Jika harus keluar, pastikan menggunakan masker yang tepat yaitu N95 untuk perlindungan dari partikel asap yang kecil sekali.
  4. Jangan ragu ke dokter jika mengalami gangguan pernapasan, jantung, atau paru-paru. Dan pastikan selalu asupan air putih, buah-buahan, dan makanan yang bergizi.

 

Budaya Sadar Bencana Untuk Kita Semua

sumber : instagram/@humas_riau

Sekali lagi yang perlu diingat, 99% penyebab kebakaran hutan dan lahan adalah faktor manusia. Dampak negatif yang kita terima adalah konsekuensi dari rusaknya alam. Maka benarlah kalimat ini “kita jaga alam, alam jaga kita.” Mulailah dengan upaya sederhana misalnya tidak menambah jumlah asap dengan membakar sampah sembarangan. Tentunya, peran pemerintah, daerah maupun pusat, serta berbagai kalangan yang terkait kita butuhkan disini. Semua pihak perlu bersinergi. Upaya pencegahan pun hendaknya menjadi prioritas di masa mendatang. Salah satunya misalnya dengan memperketat proses perijinan pembukaan lahan dan memperhatikan cara pembukaan lahan tanpa membakar. Upaya hukum pun perlu ditegakkan agar timbul efek jera pelaku pembakaran hutan. 

Ah, saya rasa kita pun perlu berdoa supaya Yang Maha Kuasa mendengar jeritan umat-Nya. Kiranya Tuhan menolong umatnya yang bekerja memadamkan api baik di garda depan maupun mereka yang ada di belakang layar, menolong umatNya yang menjadi korban asap pekat dimanapun berada, dan berkenan mencurahkan hujan atas bumi lancang kuning.

 

#TangguhAwards2019

#KitaJagaAlam 

#AlamJagaKita 

#SiapUntukSelamat 

#BudayaSadarBencana

 

Referensi:

1. Buku Resiko Bencana Indonesia diunggah di https://bnpb.go.id/uploads/24/buku-rbi-1. pdf

2. https://pantaugambut.id/pelajari/dampak-kerusakan-lahan-gambut/kebakaran-hutan. 

3. https://pekanbaru.tribunnews.com/2019/09/16/bayi-4-bulan-di-sumsel-meninggal-saat-kabut-asap-pekat-dan-menyengat-berikut-fakta-faktanya

4. http://www.depkes.go.id/resources/download/penanganan-krisis/buku_pkk_anak_sekolah_kabut_asap .pdf

6. Harian Riau Pos 19 September 2019

7. instagram @bnpb_indonesia

8. instagram @bnpd_pekanbaru

9. instagram @humas_riau

10.instagram @kementerianlhk 

28 Comments

  1. Miris banget tiap hari denger dan baca berita tentang kabut asap ini, mbak.
    Padahal kalau mereka sadar, usaha yang dibangun dengan menyakiti alam, hasilnya juga pasti akan menyakitkan kok.
    Semoga kabut asapnya secepatnya bisa diatasi ya, mbak.
    Jaga kesehatan

    1. betul mbak, dan ini tuh sudah berlangsung 20 tahun, aku yang baru 5 tahun di Riau aja rasanya pengen indent paru-paru cadangan…huhuhuh..amin makasih doanya mbak 🙂

  2. Prihatin dengan apa yang terjadi di Riau dan sekitarnya, berikut pulau lain yang juga alami masalah asap. Jika manusia yang ceroboh takabur serta tidak peduli pada akibat dari perbuatannya, niscaya kerugian yang paling besar merembet parah ke berbagai tempat. Semoga masalah asap di Pekanbaru bisa ditangani dengan baik.
    Edukasi bagi masyarakat harus selalu diadakan sepanjang waktu jika menyangkut masalah lahan gambut agar mereka paham bagaimana dampaknya.Harus selalu berhati-hati dan tanggap Semoga Mbak dan keluarga tetap sehat/

    1. Terima kasih doanya mbak. Setuju sekali ttg edukasi harus jadi program berkelanjutan di propinsi ini. 🙂

  3. Ya “budaya sadar bencana”, harus dimiliki oleh semua individu, perusahaan, hingga pemerintah. Kalau semua memilikinya, takkan ada kejadian seperti ini.

    Turut prihatin, Mbak, sebagai orang yang pernah tinggal walau cuma 2 tahun di Minas dan Rumbai hingga anak sulung saya lahir di Rumbai tahun 2001. Saya sempat merasakan Riau sebagai rumah saya. Semoga segalannya mengenai asap bisa teratasi dengan baik.

    1. Amin, semoga semua pihak bisa berkoordinasi dan menyelesaikan masalah karhutla dan asap ini secepatnya. 🙂

  4. Semoga Tuhan segera turunkan hujan lebaaatt, dan masalah KarHutLa ini tdk menyerang negara kita ya Mba
    Selalu kirimkan doa keselamatan untuk saudara2 yg terkena bencana

    1. AMINNNNN…hujan buatan belum berhasil di Riau mbak, semoga segera menyusul seperti di Kalimantan huhuhu

  5. Ya Allah..semoga segera tertangani dengan baik dan tak terulang lagi.. Aamiin..

    1. AMIN AMIN AMIN *teriak kenceng-kenceng

  6. Alhamdullilah pemerintah, swasta, masyarakat dan lembaga kemanusian turut serta bahu membahu mengatasi asap.

    Alhamdullilah hujan buatan juga berhasil

    1. Di Riau belum berhasil mbaksay 🙁 doakan terus yaa 🙂

  7. Dizaz

    Semoga asap karena kebakaran hutan ini segera tertanggulangi. Dan ga berulang lagi dan lagi, hiks.
    Sangat berharap saudara2 yang oksigen udaranya semakin didominasi asap diberi tambahan daya tahan.

    1. Amin, makasih mbak. Semoga kami disini sehat2 menghadapinya 🙂

  8. Aku setuju, bahwa bencana yg terjadi di sekitar kt bukan murni bencana alam, melainkan perbuatan manusia, mudah2an smkin bxk yg sadar akan pntgnya menjaga alam

    1. Betul mbak, semoga pihak2 terkait disini tdk hanya terus menanggulangi bencana, tetapi bisa mencegah di masa mendatang

  9. Semoga kabut asap segera bisa diatasi ya. Kasihan warga yang kena dampaknya. Malah sudah ada korban jiwa pula.
    Memang lebih baik mencegah daripada mengobati. Tetap semangat saudaraku di Riau dskt

  10. Liat foto-foto ini sedih banget yaa, hutan terbakar banyak dan banyak masyarakat terkena ISPA. Semoga bencana ini cepat berlaku.

  11. Sedih baca berita tentang kebakaran lahan untuk sawit ini, apalagi tekstur tanah yang isinya gambut juga mempengaruhi efek asap sampai sekarang. Harus ada sanksi yang benar-benar tegas ya agar jangan lagi terjadi bencana asap seperti sekarang

  12. Aku sedih dengan keadaans ekarang, mba. Alam seolah semakin tak dijaga 🙁 Dan padahal harus kita jaga untuk anak cuuci kita ya mba

  13. Gak kebayang ya tinggal di daerah yang banyak asap begitu, apalagi sebenarnya bencana itu bisa dicegah. Aktivitas jadi tertunda karena sulit ke luar rumah.

  14. Semoga segera teratasi ya Mbak, dan nggak jadi langganan tiap tahun. sedih bayangin jutaan manusia terpapar asap berhari-hari. Saya kalau pulang kampung kena asap dari tungku kayu mamak yang hampir selalu menyala untuk nyiapin air panas, itu pun udah batuk-batuk dan mata pedas. HIks. yang kena dampak karhutla harus negrasain seperti itu sampai lama… 🙁

  15. Sedih liat banyaknya asap di sana. Imbasnya asap ini berhembus hingga ke ujung Sumatera tempat keluarga tinggal. Banyak yg alergi dan jadi diliburkan sekolahnya

  16. Kalau baca ini, gw jadi sedih banget lihat kondisi Kalimantan dan Riau. Semoga api dan asap segera berhenti dan kepada masyarakat untuk tanggap bencana.

  17. Astagfirloh, sedih banget Dewi lihat foto-foto asap yang tak kunjung hilang. Mana ada berbagai penyakit yang beresiko mengikuti, semoga keadaan disana lekas membaik ya mbak

  18. Masih ingat saya, tahum 2015 ke Thailand dan asap pembakaran hutan di Sumatera ini sampai ke sana. Orang Thailand nanya ini itu ke saya. Duh bisa jawab apa saya cuma senyum doang. Sedih.

  19. Ya Allah lindungilah Indonesia dan sadarkan masyarakatnya untuk mencintai bumi
    kadang kala kita melupa, tidak menjaga dengan baik baru ada bencana tersadarkan.
    Terima kasih ya Mba telah ngingetin

  20. Aku sedih liat karhutla di Indonesia. Dan tambah sedih liat pemrintah yang kayak lamban geraknya dan ga tegas. Tambah lagi kadang ada netizen yang ga peka sama para korban

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *