Education, Montessori

Montessori di Rumah, Mulailah dari Filosofinya

Yeayy akhirnya setelah setahun belajar diploma Montessori, saya lulus juga. Senang sekaligus bangga karena saya berhasil melaluinya meskipun tidak mudah. Sempat sakit dan dioperasi, kepergian Bapak, memasuki masa trimester pertama yang memabukkan dan mengalami kabut asap akibat karhutla ternyata saya bisa juga lulus tepat waktu. Hahaha.

Oke, jadi mari kita mulai saja.

Saya tidak akan membahas panjang lebar mengenai latar belakang berkembangnya metode ini. Dengan mudah teman-teman bisa temukan melalui pencarian online, yah. Yang sangat penting untuk menjadi catatan, dalam mempraktikkan metode Montessori, yang harus dipahami adalah filosofi Montessori itu sendiri. Tiga pilar utama dalam filosofi Montessori yaitu anak, prepared environment, dan directress (orang dewasa). Nah, mungkin kapan-kapan saya akan bahas secara lebih detil mengenai ketiga hal diatas ya. 

Banyak konsep Montessori yang kebanyakan orang sudah tahu, misalnya absorbent mind, sensitive periods, follow the child dan lainnya, tetapi ada satu konsep yang amat berkesan bagi saya yaitu normalisasi dan penyimpangan.

LAH, APAAN SIH NORMALISASI, EMANG ANAK GUE MENYIMPANG?

Emang agak risih ya denger kata normalisasi dan penyimpangan. Kesannya anaknya rusak gitu. Padahal enggak segitunya, loh! Normalisasi merujuk pada kondisi dimana anak yang sehat, baik, mampu menyesuaikan diri dan belajar secara efektif dalam situasi apapun. Keadaan ini bisa muncul apabila anak diberikan kebebasan dalam lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Apa ciri anak yang dinormalisasi? Mereka suka sekali bekerja, suka keteraturan, terhubung dengan realitas, memiliki sifat naluri posesif yang mulia dan sangat penuh konsentrasi.

Penyimpangan terjadi karena adanya hambatan dalam masa-masa perkembangan mereka, terutama di usia 0-6 tahun. Penyimpangan bisa terjadi apabila anak memiliki kemauan bertindak namun gerakannya dibatasi. Penyimpangan bisa juga terjadi ketika ia mendapat kesenangan atas sesuatu hal tetapi kebutuhannya tidak terpenuhi, atau ketika ia tidak diberikan kebebasan dalam lingkungan yang telah disiapkan. Contoh perilaku anak menyimpang misalnya anak yang hidup dalam fantasi (hidup dalam bayang-bayang dongeng atau cerita superhero), ketergantungan orang tua (manja, terlalu penurut, tidak mandiri), tidak mampu berkonsentrasi, menjadi posesif terhadap alat namun tidak mampu menggunakannya saat diterima. 

Penyimpangan ini dapat diperbaiki yaitu dengan normalisasi. Setidaknya ada 4 karakter yang muncul karena normalisasi, yaitu:

1. Anak suka bekerja. Anak diberikan kebebasan utk bekerja dengan alat manapun. Tentunya ini juga sesuai dengan pengamatan guru/orangtua kegiatan apa yang kira-kira yang anak sudah sanggup kerjakan. Saat bekerja, anak belajar dengan siklus/rutinitas yang sama mulai dari mengambil alas kerja, mengambil material, bekerja, lalu membereskan alat dan mengembalikan ke tempat semula. Semua ini adalah rutinitas yang sama dan berulang untuk setiap kegiatan lainnya.

2. Konsentrasi. Hal lain yang muncul adalah anak mulai tenggelam di dalam pekerjaannya. Ibaratnya kalau udah keasyikan bekerja anak bisa tidak mendengar kalau namanya dipanggil, atau mengabaikan sekitarnya padahal bising.

3. Adanya disiplin diri. Anak menjadi lebih tekun dan berusaha untuk menyelesaikan siklus kegiatan yang telah dimulainya. Anak gak akan tiba-tiba meninggalkan apa yang dikerjakannya lalu berpindah mencoba tugas yang lain. Atau malah terpesona dengan pekerjaan anak lain. 

4. Sosiabilitas. Hal ini merujuk pada kemampuan sosial anak yang berkembang dimana ia sudah mampu menampilkan perilaku sabar menunggu antrian menggunakan alat, menghormati batas dan pekerjaan orang lain, mau membantu dan menjaga hubungan baik. dan ia sendiri PUAS setelah menyelesaikan pekerjaannya.

BAGAIMANA PERAN ORANG DEWASA DISINI?

Tentunya kita berperan sebagai penghubung anak dengan realitas. Untuk anak yang “sulit” tadi, bagaimana kita kenalkan dengan berbagai aktivitas sehingga mereka menjadi anak yang lebih baik. Yang tadinya posesif sama alat, melarang anak lain menggunakan material, suka merebut material akhirnya bisa berpuas diri sama hasil kerjanya dan akhirnya jadi respect sama pekerjaan anak lain. Terus karena dia sudah mendapat kepuasan karena telah mampu bekerja dengan alat tersebut, maka ga ada lagi rasa posesif terhadap alat, sehingga anak lain bisa pakai. Anak yang tadinya susah konsentrasi, ada semut lewat aja bisa terdistrak luar biasa, nah sekarang mereka bisa “tenggelam” dalam pekerjaanya dan mencapai tingkat konsentrasi yang tinggi. Anak yang tadinya ketergantungan, apa-apa dilayani, maunya semua diturutin, akhirnya mereja bisa memilih sendiri apa yang mau dilakukan dan memulai rutinitas pekerjaan secara mandiri. Anak yang hidup dalam fantasi, instead of berandai-andai dia adalah antman, setelah kita kenalkan dengan realitas serangga : bagian tubuh serangga, karakteristik serangga, jenis-jenis semut, dikasih tugas cari semut di halaman; kini mereka mendapat gambaran yang utuh tentang hewan tersebut lalu bisa membedakan mana yang semut tulen, mana yang semut-semutan 🙂 

Ini semua adalah proses, ga bisa cuma 3 hari atau seminggu terus keliatan hasilnya. Emangnya skincare, hahaha. Yang pasti peran orang tua penting banget, seperti berikut:

1. Menyediakan lingkungan yang tepat bagi anak. Prepared environment. Tapi, mak, aku gak ada duit loh siapin material-material montessori lengkap sama raknya. Gapapa, kalau ada syukur, kalau ga ada bisa bikin sendiri atau beli yang DIY. Semuanya bertahap kok, kita bisa mulai berikan anak pekerjaan yang mudah yang bisa dia kerjakan dari awal sampe akhir. Misalnya: anak menumpahkan air. Daripada kita yang ngomel, lebih baik kasih tunjuk dimana lap, cara ngelap, lalu lap kotor diletakkan dimana. Lain waktu anak menumpahkan air lagi, minta ia bersihkan dengan cara yang sudah pernah diajarkan. Biarkan dia ambil sendiri lapnya, ngelap sendiri.  Gak bersih mak. Ya kagak apa-apa atuh, lu bersihin lagilah. 

2. Be there for your child. Anak dikasih kegiatan tapi mamanya asyik main hp. Ketawa dulu deh hahaha, ya ga bisa dong. Dampingi anak, berikan penjelasan agar anak mengerti yang dia kerjakan, tanya-tanya supaya kita bisa tahu seberapa paham dia. Dari situ kita bisa tahu dimana gap anak sehingga kita bisa bantu dia.

3. Respect your child’s work. Bagaimana pun hasil pekerjaan anak, tetap kita hormati, termasuk jika hasil kerjanya masih dibawah harapan. Nantinya kan anak punya kesempatan mengulang-ulang untuk bisa menguasainya kelak. Jangan lupa bahwa semuanya butuh proses.

4. Do not interrupt your child’s work. Kesel ga sih kalau kita lagi asyik kerja terus sebentar-sebentar dipanggil untuk mengerjakan sesuatu yang lain, atau cuma sekedar ditanya-tanya? ((iyaa)) Nah sama, anak-anak juga gitu. Kalau lagi bekerja, please biarkan mereka bekerja dengan fokus. Pun mereka melakukan kesalahan, kebanyakan material montessori berciri self-corrected, yang artinya anak mampu mengevaluasi sendiri pekerjaannya.

Emang nulis doang gampang sih ya, lau ga tau gue punya kerjaan rumah segudang yang antri. Ngerti moms, saya ngerti kok. Sedikit cerita moms, saya di rumah sendirian, eh emang sih hire ART yang PP kerjanya cuma 3 jam untuk bantu urusan laundry, sapu-pel, dan masak sayur. Kalau dia pulang ya rumah -syukurnya- berantakan lagi, amburadul lagi. Malah seringnya setiap pulang kerja, suami yang pegang sapu sementara saya bebenah yang lain dan menyiapkan makan malam anak. Akhirnya kembali lagi ke prioritas mom, rumah perlu bersih dan rapih, tapi anak lebih perlu didampingi belajar dan main. Kalau suami bersedia terlibat dalam pengasuhan anak akan sangat membantu. Buat yang masih struggling dengan ini, keep fighting and dont’ give up.

Nah, biar moms semua semangat saya mau kasih contoh aktivitas yang bisa dicoba di rumah bersama si kecil. Karena anak saya baru 2 tahunan, maka saya mulai dari ground rules sederhana di rumah, yaitu meletakkan tas dan sepatu di tempatnya. Tujuannya untuk mempersiapkan anak kelak supaya lebih tertib, mengembangkan kemandirian dan kepedulian terhadap lingkungan. 

Ini dimulai baru bulan Mei yang lalu, sebelum anak 2 tahun. Tiap mau pergi dan pulang gak pernah absen untuk ingatkan anak meletakkan sepatu dan tas di tempatnya. Kadang lupa, gapapa. Kadang dilempar, sabar adalah koentji, lalu ajak anak pungut sepatu dan taruh lagi. Mengulang-ulang begini yang cepet bosen justru mamanya :). Setelah beberapa bulan, anak saya sudah bisa menyesuaikan dengan aturan ini. Moms bisa bikin ground rules sendiri yang disesuaikan dengan kebutuhan anak dan situasi/kondisi di rumah. Puji Tuhan, anak itu pinter kok kalau dibiasakan, pasti bisa moms! Semangat!

25 Comments

  1. Wahh, pintaaarr banget, umur 2 th udah bisa mulai tertib taruh sepatu di rak! 😀
    Metode Montessori ini memang baguuusss banget ya, untuk bekal para ortu mengarungi parenting world yg nano-nano.
    Semogaaaaa kita jadi a better parents ya

    1. Aminnn..amin..iya nih dunia parenting nano-nano banget hahaha

  2. Montessori udah lama digunakan untuk bentuk karaktet anak sejak dini ya. Kuncinya disiplin dan kontinyu

  3. Terima kasih untuk sharingnya, aku jadi banyak belajar dan ada beberapa yang harus diperbaiki. Kadang aku sudah memotong saat anak sedang melakukan sesuatu. Padahal biarin dulu aja ya, kalau salah nanti baru dikasih tau 🙁

  4. Well note mbak, sebenernya kita sebagai orangtua bisa mempelajari montessori dan bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari hari dirumah ya.. tapi memang kuncinya adalah mau atau tidak untuk belajar dan mau memulai mempraktekannya dirumah.. dan memang harus dimulai untuk bisa merasakan manfaatnya langsung ya

    1. iyes mbak..orangtuanya harus mau belajar duluan 🙂

      1. Selamat ya atas kelulusannya. Semoga makin rajin berbagi pengetahuan di blog ini karena sekarang sudah valid ada backup keilmuannya. Meski anakku sudah kuliah semua, aku ngikuti kok perkembangan Montessori ini sangat menarik.

  5. Pendidikan Montessori ini saya kenal justru setelah anak-anak sudah besar. Jadi saya ambil beberapa ilmunya yang cocok untuk anak yang sudah besar.
    Jadi orang tua memang harus terus belajar ya, Mbak

  6. yola widya

    menghargai anak itu penting, karena dia akan belajar menghargai juga

  7. Hal yang sederhana sekali ini tapi efeknya bisa mengajarkan anak sedini mungkin untuk bisa teratur dan menyimpan barang pada tempatnya ya Mbak.

  8. wah ternyata Metode Montessori sebagus dan sepenting ini yaaaa,,

    ilmu yg penting ini kalau nanti punya anak. hehe. perlu di noted ini.

  9. Harus dibiasakan sejak dini ya kak. Btw si adek pinter banget udah bisa taro sepatu ke raknya sendiri hehe.

  10. wah, pinternya si dedek. Baru dua tahun sudah bisa tertib meletakkan sepatu di raknya. Belajar sistem Montessori ini memang bagus ya. Salah satu adikku juga menggunakan sistem belajar ini di rumah dan kemandirian anak jadi bisa terbentuk sejak dini.

  11. Be there for your child. Poin ini ngena banget loh. Kita maunya anak bisa berhasil dan melakukan banyak hal tetapi lupa tidak mendampinginya dengan porsi yang pas. PR banget nih untuk para orang tua yang super sibuk.

  12. Orang tua harus sabar dan telaten ya. Saya baru belajar dari buku saja di rumah. Tapi tantangannya memang dalam hal konsistensi.

  13. Baru tahu soal metode montessori buat anak Mba. Aku harus belajar juga nih jadi calon ibu yang baik. Adek pinter banget ih baru juga dua tahun. Keren

  14. Betul sekali
    Anak anak itu punya fitrah kecerdasan sejak lahir dari Tuhan
    Tinggal bagaimana ortunya mengarahkan dan memfasilitasi
    Untuk kegiatan Montessori pun banyak macamnya, dan sesuai kata Mba, filosofinya harus dipahami dulu sebelum diberikan

  15. Arda Sitepu

    Wah Sola keren nih bisa melakukan banyak hal. Wah aku jadi mau coba terapkan buat si kecil. Sederhananya asal kita peka dan mau melakukannya di rumah ya le.

  16. Wiih! Kirain Montessori nama sekolah. hehe: Ternyata one of parenting method yaa, Kak! Aku baru tahu. Duh! Kemana aja. Haha

    Thank you for sharing Kak! Aku jadi tahu sedikit banyak tentang parenting world buat bekal ntar. Wlopun belum tahu kapan. Skrg praktekin ama ponakan dulu aja hehe.

  17. wah menjadi catatan sebagai orang tua juga ya. Thanks mba

  18. Ini ilmu yg penting. Terutama paranting. Harus dijadikan bekal kalau punya anak nanti

  19. Luar biasa ya dunia parenting ini, belum nyobain tapi coming soon hehee.. Harus siap mental bgt

  20. Noted banget ini buat aku, walo belum punya anak, materi2 kaya gini penting banget buat ditabung, sambil menunggu . Hehhe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *