Uncategorized

David and Goliath

David dan Goliath

Teman-teman yang beragama Kristen tentu gak asing dengan kisah David dan Goliath. Si gembala yang tidak diperhitungkan tetapi berhasil membunuh si raksasa besar dari bangsa Filistin. Bangsa Filistin berasal dari Pulau Kreta di Laut Tengah. Mereka adalah bangsa pengarung samudra yang telah pindah ke Palestina dan menetap di sepanjang pantai. Bangsa Israel hidup dipimpin oleh Raja Saul. Pada paruh kedua abad 11 SM, bangsa Filistin mulai bergerak ke timur, menyusuri Lembah Elah. Tujuannya adalah merebut area pegunungan dekat Betlehem dan memecah kerajaan Saul. Bangsa Filistin sangat berpengalaman dalam perang dan merupakan musuh bebuyutan Israel. 

Bangsa Filistin mengutus prajuritnya, seorang raksasa setinggi sekitar 2 meter. Udahlah dia besar banget, berbaju zirah lengkap dengan lembing, tombak, dan pedang. Belum apa-apa, nyali orang Israel sudah ciut duluan. Tidak ada yang berani maju melawan. Hingga David menawarkan diri. Penampilan David yang kecil dan tidak terlatih membuat Raja Saul menolaknya, bagaimana mungkin seorang penggembala domba mengalahkan raksasa. Sebagai penggembala domba, David telah menjauhkan kawanan ternaknya dari binatang buas. Saul tidak punya pilihan selain memberinya kesempatan. Singkatnya, David berhasil melumpuhkan Goliath hanya dengan batu. Ia menggunakan ketapel mengarahkannya kepada si raksasa, ke dahinya yang tidak terlindung. Goliat pun terkapar. David menang. Si lemah menang atas si kuat. 

Mengenal Lebih Dekat David dan Goliath

Setidaknya ada 3 macam prajurit : (1) kavaleri – prajurit bersenjata di atas kuda (2) Infanteri – Prajurit yang berjalan kaki dengan baju zirah, pedang, dan perisai, (3) infanteri – pemanah dan pelontar batu. Pelontar batu bersenjatakan ketapel, yaitu kantong kulit dengan tali panjang dikedua sisinya. Batu dimasukkan ke dalam kantong dan diayun-ayunkan memutar semakin lama semakin kencang dan dilepaskan hingga batu terlontar. 

Melontar batu memerlukan keterampilan yang tinggi. Ketapel pun menjadi senjata mematikan di tangan pelontar berpengalaman. Ahli sejarah mengatakan pelontar batu sangat penting dalam peperangan jaman dulu. Dengan pedang dan zirah, infanteri bisa mengalahkan kavaleri. Kavaleri bisa mengalahkan infanteri karena gerak kuda yang cepat bisa membiaskan bidikan pemanah. Dan pasukan proyektil bisa mengalahkan infanteri, karena infanteri dibebani zirah dan menjadi sasaran empuk pelontar batu. Mau baca disini lebih jelas.

Sementara David adalah pelontar berpengalaman bertubuh kecil dan ringan tanpa baju zirah dan lainnya, Goliath adalah prajurit infanteri berat. Bangsa Israel melihat Goliath dengan segala kegagahannya tanpa mengetahui Goliath yang sebenarnya. Pakar kedokteran kini menyebutkan bahwa Goliath mengidap penyakit serius: akromegali – penyakit akibat tumor jinak di kelenjar pituitary. Ini menyebabkan kelebihan kormon pertumbuhan. Salah satu efek sampingnya adalah masalah penglihatan, dimana penglihatan menjadi terbatas dan diplopia (penglihatan ganda). Goliath memiliki bujang disampingnya, ia ternyata berperan sebagai penuntunnya. Gerak Goliath lambat, karena ia tidak bisa melihat dunia dengan jelas. Ia tidak bisa melihat David mendekat. Goliath yang besar, lambat, dan rabun akhirnya tumbang. Yang kuat tidak selalu benar-benar kuat. Nah, kalau temen-temen punya akun di research gate bisa buka jurnalnya disini.

In My Humble Opinion

Ini adalah sepenggal dari Buku David and Goliath Karya Malcolm Gladwell. Buku ini adalah karyanya yang ke-empat yang saya punya. Menurut saya, buku ini cukup berat dibaca, mengingat banyaknya detil dan literature yang menjadi sumber referensi dalam tulisan Gladwell. Harus menyiapkan waktu khusus untuk membaca dan benar-benar memahami kisahnya. Kalau disambil mengerjakan cucian atau masak atau menidurkan anak, percayalah sekejap lupa barusan baca tentang apa ya, hahahaha. Jadi saya sendiri menyelesaikan buku ini setelah 3 ronde putus sambung. Untungnya ini bahasa Indonesia ya, gak kebayang kalau bahasa Inggris harus berapa ronde coba? 🙂

Raksasa menggambarkan segala sesuatu yang kuat, yang lebih besar yang dihadapi orang-orang biasa semacam kita. Raksasa adalah nasib buruk, pencobaan, kesukaran hidup, penyakit, cacat, penindasan, dsb. Dalam hidup, kita akan selalu dipaksa menghadapinya. Tujuan utama buku ini, personally for me, adalah memberikan wawasan bahwa sebenarnya kesukaran yang kita alami gak sepenuhnya sukar. Karena selama ini saya mempelajari itu berdasarkan iman. Apalagi sejak jaman masih anak-anak, di sekolah minggu selalu hanya ditekankan bagian ajaibnya bahwa yang lemah mengalahkan yang kuat. Membaca buku ini melebarkan cara saya melihat bagaimana sesuatu itu tidak sebagaimana terlihat. Ada kekuatan dalam kelemahan yang kita punya. Seperti pengidap disleksia yang kesulitan membaca dalam tahun-tahun sekolahnya tetapi sukses menjadi pengacara dengan bermodalkan cara belajar auditory. Cara belajar ini telah dipraktikkannya sejak kecil dan makin terasah.  Atau anak yang hidup dalam masa perang akhirnya menjadi dokter yang penuh keberanian melakukan berbagai macam eksperimen untuk menemukan obat bagi anak-anak penderita leukemia. 

Gladwell mencoba menyampaikan kekuatan yang ada pada “raksasa” seringkali adalah kelemahannya. Dengan memahami hal ini, kita menjadi benar-benar bisa melihat apa “raksasa” yang kita hadapi dan mampu menemukan cara terbaik menghadapinya. Kalau kita punya punya pengalaman sendiri tentunya akan relate banget, tetapi kalau gak punya, pengalaman dan kisah-kisah yang dibawakan Gladwell bisa menjadi inspirasi yang menguatkan.

Informasi Buku

Judul : David and Goliath: Ketika Si Lemah Menang Melawan Raksasa

Penulis: Malcolm Gladwell

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978-979-22-9954-0

Tahun Publikasi : 2013

Jumlah Halaman : 301 halaman

Buku ini dibeli di Gramedia

Rating (3.5/5)
3.5/5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *