Book Review, Parenting

Review Buku The Danish Way of Parenting

Informasi Buku

Judul : The Danish Way of Parenting

Penulis: Jessica Joelle Alexander dan Iben Dissing Sandahl

Penerjemah: Ade Kumalasari & Yusa Tripeni

Penerbit: PT Bentang Pustaka

Bahasa: Indonesia

ISBN: 978–602-426-094-1

Tahun Publikasi : 2018

Jumlah Halaman : xxiv + 184 halaman

Buku ini dibeli di Gramedia

Sejak memiliki anak, saya memiliki dorongan untuk terus belajar mengenai pola pengasuhan yang tepat untuk anak saya. Mengingat tiap keluarga tentu berbeda-beda situasi dan kondisinya, rasanya perlu untuk belajar sebanyak-banyaknya dan terus-menerus trial dan error untuk mengecek apakah sudah cukup tepat diterapkan. Tentu yang saya idamkan adalah pola pengasuhan minim stres namun efektif dalam mendidik anak. 

Yang membuat saya penasaran dengan buku parenting ini adalah karena banyak yang menyebutkan bahwa Denmark adalah negara paling bahagia di dunia. Mengapa demikian? Ternyata hasil riset mengatakan bahwa ini semua didasarkan pada gaya pengasuhannya yang diturunkan dari generasi ke generasi. Yang pada akhirnya menciptakan anak-anak yang tidak hanya bahagia dan tangguh, tetapi juga sukses di masa depan. Pola pengasuhan yang kayak gimana sih emangnya?

Tentang Buku Ini

Happy kids grow up to be happy adults who raise happy kids, and so on.”

Buku yang ditulis oleh suami isteri ini merupakan rangkuman dari hasil riset, pengalaman, dan berbagai kajian serta pengalaman pribadi selama 13 tahun dalam mengasuh anak di Denmark. Buku ini menjelaskan bahwa, berdasarkan riset yang dilakukan penulis, setidaknya ada 5 hal yang berperan penting dalam pola pengasuhan orang Denmark: 

P untuk Play (bermain)

Pentingnya bermain pada anak amat ditekankan disini. Anak yang diberikan bermain secara bebas akan cenderung lebih adaptif dan mampu menyelesaikan masalah yang dialaminya kelak. Anak yang bermain bebas punya kesempatan untuk mencoba cara-caranya sendiri dalam berhubungan dengan diri sendiri dan lingkungannya. Ini menjadikan mereka lebih tangguh sehingga kelak menjadi faktor penting dalam kesuksesan si anak.

A untuk Autentisitas (Authentic)

Poin ini menekankan pada pentingnya mengenali dan menerima semua emosi, bahkan yang tersulit sekalipun. Orangtua yang memiliki emosi yang sehat adalah role model bagi anak. Emosi sehat disini bukan berarti hanya senang atau bahagia saja, tetapi juga sedih, marah, cemas. Bagaimana kita menerima semua emosi tersebut, mengekspresikannya dengan cara yang tepat akan diingat oleh anak dan mempengaruhi bagaimana mereka berespon terhadap emosinya sendiri. Dalam bab ini juga dibahas mengenai pemberian pujian bagi anak. Pujian bagi anak hendaknya yang menekankan proses, bukan hasil. Ini akan mendorong anak tumbuh dengan pola pikir berkembang (growth mindset) dimana mereka akan lebih peduli dengan pembelajaran/proses usaha dalam mencapai target.

R untuk Reframing (Memaknai Ulang)

Bab ini menjelaskan tentang keterampilan reframing yang dimiliki orang Denmark, dimana mereka mampu mengubah cara pandangnya terhadap sesuatu yang mereka alami menjadi lebih positif. Misalnya, daripada mengeluh tentang suatu masalah, mereka mencoba menemukan adanya sisi positif dari masalah tersebut yang bisa disyukuri. Reframing juga bicara tentang penggunaan bahasa. Daripada menggunakan bahasa yang konotasinya negatif dan mengungkung, orang Denmark memilih kosakata yang lebih positif.

E untuk Emphaty (Empati)

Bagian ini agak relate dengan pengenalan emosi kepada anak. Disini anak dilatih untuk mengembangkan empatinya terhadap orang lain dalam lingkungan. Ini perlu karena empati bisa membantu mereka untuk bertahan dalam kelompok dan menciptakan hubungan yang baik dengan orang lain, yang kelak akan membantu anak mencapai kesuksesannya.

N untuk NO ULTIMATUM (Tanpa Ultimatum)

Orang Denmark mengasuh anak-anak mereka dengan penuh hormat. Artinya, mereka menghargai anak sebagaimana manusia dewasa. Dalam pola pengasuhan ini terlihat ketika orangtua mengajak anak berdiskusi menjelaskan kenapa sebuah aturan perlu dijalankan dengan benar ketimbang memukul atau membentak supaya anak taat. Bahkan ini dilakukan pada anak-anak dengan usia yang masih sangat dini. Orangtua mampu meregulasi emosinya sendiri saat berhadapan dengan situasi yang sulit. Misalnya, saat sudah terpancing marah dan akan meledak, orang dewasa akan menarik diri dari keadaan tersebut, menjauh sebentar, sebelum akhirnya berbicara baik-baik dengan si anak.

T untuk Togetherness (Kebersamaan) and Hygge (Kenyamanan)

Ini adalah gaya hidup di Denmark, dimana mereka secara bersama-sama memiliki waktu bersama dan menikmatinya. Setiap orang berusaha menciptakan kenyamanan maksimal satu sama lain. Hygge bicara tentang menikmati momen berharga dalam hidup seseorang, dalam keluarga, bersama dengan anak-anak. Tentang berada didalamnya dan menikmati setiap waktu dengan kenyamanan yang diusahakan bersama-sama oleh setiap anggota keluarga.

Kesan Setelah Membaca Buku Ini

Buku ini tergolong tipis hanya dengan 184 halaman saja. Saya menghabiskan buku ini dalam sekejap. Tidak hanya berisi penjabaran dari tiap-tiap poin diatas, penulis juga melengkapi setiap bab dengan tips yang bisa diaplikasikan oleh orangtua. Bahasa yang digunakan juga sederhana sehingga terasa “ringan” dibaca dan mudah dipahami. Secara umum, buku ini seakan memberikan alternatif pengasuhan anak yang lebih bahagia dan lebih positif. Bagi saya, buku ini mirip cermin yang membantu mengevaluasi apakah saya juga cukup bahagia sebagai orangtua yang berperan mendidik dan membesarkan anak (-anak) yang bahagia kelak. Well, nyatanya memang ada beberapa hal yang rasanya belum seideal yang ada di buku ini. Beberapa poin yang saya tandai untuk jadi perbaikan pribadi kedepannya adalah sebagai berikut:

1. Tidak terlalu memprogram anak, bahkan dengan permainan.

Berapa banyak dari kita yang selalu memberikan anak-anak permainan terstruktur? Artinya, permainan yang dibungkus sedemikian rupa sehingga anak tidak sadar bahwa sebenarnya mereka sedang belajar sesuatu, entah itu belajar angka, huruf, membedakan, dll. Yang dimaksud disini adalah biarkan mereka bermain bebas karena bermain memberikan anak kesempatan untuk beradaptasi dalam kehidupan. Usahakan memberikan permainan yang sifatnya terstruktur dan bebas secara seimbang kepada anak. 

2. Saat bermain dengan anak, beradalah disitu secara utuh.

Sebisa mungkin saya menemani anak bermain secara utuh. Tidak ada televisi yang menyala, menjauhkan handphone, tidak sambil bekerja menggunakan laptop, atau disambil masak, atau disambil nyuci piring (eh?) Nah ini masalahnya, karena saya di rumah sendirian memang agak sulit untuk tidak menemani anak bermain dengan disambil pekerjaan rumah. Kapan kelarnyaaaa makkk?? *curhat* Biasanya saya memang menyediakan satu waktu khusus sih untuk menemani anak bermain, tapi jujuuuuurrrrr belakangan saya agak sulit melakukannya huhuhu  

3. Tidak memuji anak secara berlebihan, fokuslah pada proses yang dilakukan anak bukan pada hasilnya.

Sudah sering denger ini yang kayak gini. Kalau kita fokus pada hasil, anak akan tumbuh menjadi orang yang result oriented, bisa menghalalkan segala cara untuk mencapai hasil yang terbaik dan nampak bagus di hadapan orang. Sementara jika kita fokus pada usaha anak dalam mencapai tugasnya, anak akan lebih sadar kelemahan dan kekuatannya dan lebih mampu fokus pada usaha pencapaian yang lebih sehat. Intinya, jangan dikit-dikit bilang “good job”, “great thing”, “hebat kamu”, tapi fokus pada usahanya “mami senang karena kamu mau mengerjakan ini atau itu meskipun susah”.

4. Asuhlah anak secara alami, ajar mereka untuk mengenali dan menerima emosi yang hadir dalam diri mereka sehingga mereka mampu meregulasinya.

Bagian ini gampang banget untuk ditulis. Faktanya beda! Seberapa sering saya berusaha “membebaskan” anak dari emosi negatif yang dialaminya. Entah ya, mungkin karena insting berlebihan ingin melindungi, saya selalu ingin menjaga supaya yang baik-baik saja yang dialami oleh anak. Misalnya nih anak rebutan mainan sama sepupunya, beberapa kali saya minta sepupunya ini yang ngalah dan kasih mainan ke Sola, terus kalau sempet nangis saya akhirnya menjauhkan dia dari sepupunya ini. Oke, jangan ditiru karena mungkin (meskipun masih 2 tahun) Sola sudah bisa disounding untuk main bareng dan share mainan. 

Sebenernya ada beberapa lagi sih, cuman untuk usia anakku sekarang masih itu aja yang relevan. Eh, kok jadi panjang banget reviewnya yah hahahaha..kapan-kapanlah dishare lagi 🙂

Menurut saya, yang disampaikan penulis dalam buku ini cukup idealis. Rasanya sulit kalau saya menerapkan cara-cara diatas secara utuh, apalagi kondisi tiap keluarga tentunya berbeda satu dengan lainnya. Tapi gapapa, gapapa. Kita kan selalu bisa adjust sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing. Jangan sampai memaksakan diri untuk melakukan semua hal diatas, takutnya malah memunculkan stres baru, karena kita akan merasa “not good enough”. Yang saya rasakan, buku ini mengingatkan kita sebagai orangtua bahwa dalam mengasuh anak bukan hanya sekedar untuk menghasilkan anak-anak yang bahagia dan sukses (karena yes yes, bahagia itu gak cuman ditentukan oleh faktor parenting dari orangtua, ada banyak faktor lain yang ikut berkontribusi) tapi juga menjadi orangtua yang bahagia. Mencoba menerapkan filosofi diatas perlahan-lahan sambil trial error, memberi ruang untuk kesalahan, dan tentunya lebih respect dalam mendidik anak.

Rating (3.5/5)
3.5/5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *