Montessori

Montessori di Rumah: Latihan Keterampilan Hidup (Part 1)

Jika mendengar kata “Montessori” apa sih yang pertama kali muncul dalam bayangan kamu?

                                                           Mindah-mindahin beras pake sendok?

                                                                                                Tuang-tuang air dari satu teko ke teko lain?

                                                                                                                                                          Atau menyapu lantai dengan sapu dan sekop mini nan lucu?

Bayangan buibu bener semua, itu semua adalah contoh-contoh kegiatan dalam satu area Montessori, yaitu Practical Life atau Keterampilan Hidup. Area ini merupakan area yang paling dasar dan merupakan hal yang fundamental terhadap area-area lain dalam Montessori. Secara umum, terdapat lima area dalam pendidikan Montessori yaitu Keterampilan Hidup, Sensorial, Bahasa, Matematika, dan Budaya. Nah, dalam tulisan ini aku mau share mengenai area keterampilan hidup. Baca sampai habis, ya 🙂

Mengapa perlu belajar keterampilan hidup

Sebelum melangkah jauh, ada yang perlu dipahami mengenai area keterampilan hidup. Biar ga salah paham aja. Montessori  bukan sekadar tuang-menuang, sendok-menyendok, sapu menyapu, sehingga kita langsung plek ketiplek niru itu semua lalu memasang hastag #montessoridirumah tanpa memahami apa pentingnya kegiatan-kegiatan dalam area ini. Hehehe.

Area keterampilan hidup dipandang sebagai landasan metode Montessori. Latihan-latihan di dalamnya mempersiapkan anak untuk berkembang secara fisik, sosial, kognitif, dan emosional sesuai dengan perkembangan mereka. Area ini juga membantu anak untuk menjadi mandiri dan bertanggung jawab, baik terhadap diri maupun sekitarnya (orang lain, benda, hewan, tumbuhan). Sehingga di dalam area ini bukan sekadar nyendok, menuang, menyapu, dan sebagainya. Ada hal-hal yang manfaatnya dipetik oleh si anak agar ia siap memasuki area-area pembelajaran Montessori berikutnya.

1. Menguatkan otot tangan dan jari jemari sebagai persiapan menulis

Dalam lingkup Montessori, kegiatan seperti menuang, menyendok, meronce, dan lainnya merupakan stimulus untuk mempersiapkan anak belajar menulis. Semua kegiatan mengharuskan anak melatih pergelangan tangan, dan juga pincer grip (jari jempol, telunjuk, dan jari tengah). Dengan pengulangan secara terus menerus dan adanya variasi kegiatan, pergelangan tangan dan pincer grip anak akan jadi semakin kuat dan terlatih

2. Mengembangkan konsentrasi anak

Saat anak diberikan kesempatan untuk bekerja dengan alat-alat di area keterampilan hidup, secara langsung anak sedang mengembangkan konsentrasi. Misalnya saja pada kegiatan menyendok, anak fokus agar tidak ada tumpahan. Atau pada kegiatan menjepit, anak fokus agar dapat menjepit dengan tepat. Kegiatan ini sungguh amat sepele “ya elah jepit-jepit doang, atau cuman mindahin beras doang” tapi believe me, buat anak itu membutuhkan effort yang sangat besar. Pasti banyak deh yang sering nyeletuk “anak gue ga bisa diem, gak akan bisa duduk tenang sambil menyendok, menuang, meronce, dsb”. Latihan di area ini bisa membantu anak, kok. Tapi ingat, untuk mendapatkan rentang konsentrasi yang panjang dan kuat, anak membutuhkan latihan terus-menerus. Oleh karena itu, bebaskan anak melakukan pengulangan dalam bekerja. Tapi ya jangan juga sampe kebablasan, jam mandi dan jam makan sampe lewat gara-gara nyendokin beras terus, hehehe.

3. Untuk menciptakan kemandirian anak dan mengembangkan citra diri positif

Kegiatan-kegiatan dalam area ini adalah kegiatan yang amat dekat dengan keseharian anak. Menyendok dan menuang, kan nanti kepake saat anak makan & minum. Bekerja dengan dressing frames, kan nanti bisa buat anak belajar pakai baju sendiri, pakai seatbelt, buka tutup tas dengan resleting. Latihan lock exercise membantu anak mengenali berbagai macam gembok dan kunci dan bagaimana membuka dan menutupnya, yang kelak bisa menghindarkan mereka dari bahaya terkunci sendirian di kamar mandi. 

Pada usia sekitar 2 tahun, biasanya anak mulai bilang “TIDAK”. Diajak mandi gak mau, ditawarin makan gak mau, diajak sikat gigi gak mau. Semua serba gak mau. Nah, ini tuh anak bukan lagi ngetes kesabaran bapak ibunya, hahaha. Tapi sebenarnya ia sedang mengembangkan batasan diri, anak mulai aware bahwa dia memiliki keinginan dan pendapat sendiri, bahwa dirinya adalah individu yang terpisah dari bapak ibunya. Dan ini tuh merupakan bagian dari perkembangan anak, dan normal. 

Dulu, pas Sola memasuki usia ini, saya manfatin kesempatan untuk untuk mulai berlatih keterampilan hidup ini sebaik-baiknya. Misalnya, mau mandi nih. Saya akan bilang, “Udah sore, waktunya mandi. Mami kasih tau ya cara lepas baju dan celana, nanti gantian”. Atau waktu mau pakai kaos kaki, saya bakal bilang ” ini namanya kaos kaki, kita pakai ini sebelum pakai sepatu, mami tunjukin caranya ya, nanti Sola boleh coba sendiri”. Nah, itu tuh mantul banget. Bentar-bentar pake kaos kaki padahal di rumah aja. Saya bebasin dia untuk ngulang-ngulang pakai kaos kaki, karena emang itu kebutuhannya untuk berlatih. Kalau untuk minum, saya tunjukin cara menuang air ke gelas dari jar kecilnya. Habis itu dia belajar sendiri dan becek tumpah kemana-mana. Tapi setelah diulang-ulang terus, akhirnya bisa juga nuang tanpa tumpah. Oh ya, aku kasi gelas dan jar dari kaca. Aman. Selama tadi ya, dicontohin cara menuang dengan hati-hati. anak-anak akan mencontoh percis bagaimana kita melakukannya. Bonusnya buat saya, saat anak udah mulai lancar dengan keterampilan-keterampilan tersebut, life is a lot easier. Ga ada lagi rengekan minta ini itu, karena semua available (tersedia) di tempatnya, dia tahu bagaimana caranya, dan diperbolehkan mengaksesnya sendiri (less supervision). Sola sendiri jadi makin percaya diri bahwa dia bisa melakukan sesuatu sendiri tanpa harus manggil-manggil saya dan dibantu.

4. Untuk menciptakan keteraturan

Salah satu sensitivitas anak di usia dini adalah sensitif pada keteraturan. Dalam Montessori, keteraturan dihadirkan dalam bentuk segala sesuai berada di tempatnya dan ada tempat untuk segala sesuatu. Pasti familiar ya, bahwa di dalam kelas-kelas Montessori biasanya setiap material mesti ditempatkan dalam wadah dan berjejer rapi di rak sesuai klasifikasi area dan tingkat kesulitannya. Kenapa ya? 

Hal itu dilakukan untuk mengakomodir salah satu periode sensitif pada anak, yaitu sensitivitas pada keteraturan. Anak-anak yang dipenuhi kebutuhannya akan keteraturan akan mampu mengembangkan konstruksi mental dan mendapatkan rasa aman karena anak jadi tau dan kenal lingkungannya dan tau apa yang akan dihadapinya. Coba bayangkan, mana yang bikin lebih tenang: pacaran sama yang tetangga yang kita udah kenal ibu bapak kakak adiknya atau pacaran yang dijodohin sama keluarga, udah gitu LDR lagi. Wkwkwk

Saya inget banget waktu ajarin Sola buang sampah di tempat sampah dapur kami. Suatu kali, tempat sampahnya kotor, saya cuci dan jemur di luar. Waktu Sola makan pisang dan saya suruh buang ke tempat sampah, dia malah nangis. Karena apa saya ga tau. Pernah juga kejadian yang mirip, masih soal buang sampah, udah lama banget kan diajarin buang sampah di tempatnya. Sekali waktu, saya cuci tempat sampah dan belum dikembalikan ke posisi semula. Sola buang sampah plastiknya di lantai, di posisi tempat sampah seharusnya berada. Karena dulu saya belum ngerti, jadinya yang saya lakukan adalah..merepet hahaha. Ya kok gitu aja nangis, kenapa ga ngomong, duh kan udah 1932x diajarin buang sampah di tong sampah, ini kok malah buang di lantai, gimana sihh???

Ternyata anak-anak punya kebutuhan keteraturan yang kuat. Dari lahir malah sih sebenarnya. Bayi di bawah setahun yang sering nangis kalo digendong orang lain, bukan karena sombhong. Tapi karena sudah terbiasa dengan ibu/pengasuhnya. Secara terus menerus diasuh dan dirawat oleh ibunya, si anak akan mengembangkan rasa keteraturan (terbiasa) dan muncul rasa aman dengan yang bersangkutan. Makanya kalo digendong orang lain ya pasti ga mau dan jadinya nangis. 

Balik ke sampah. Sola taunya itu tempat sampah di situ ga pernah pindah-pindah. Tentu dengan 100% pede dia mau buang sampah ehh pas dilihatnya tong sampah gak ada tentu dia merasa  bingung dan ekspresinya adalah menangis. Atau kejadian kedua, karena ga ada tempat sampah, ya buang aja di situ (di lantai dimana tempat sampah dulu berada) karena dia merasa di situlah tempat sampah yang dikenalnya. Sesederhana itu. Bukan karena bandel buang sampah sembarangan. 

Dalam area keterampilan hidup, saat orang dewasa menciptakan keteraturan lingkungan maka akan membantu anak mengembangkan keteraturan diri. Mereka akan tau dimana tempat benda-benda seharusnya berada dan mampu menjaganya demikian. Bisa merapikan mainan sendiri, menyimpan tas di tempatnya, meletakkan sepatu di rak, mengembalikan buku ke rak setelah dibaca, menyimpan gelas dan piring di sink dapur setelah makan, merapikan meja setelah belajar, dan lainnya. Bukankah itu yang kita harapkan ketika mereka bertambah besar nanti? Dengan memahami sensitivity of order, menciptakan lingkungan yang mendukung dan menjadi role model, akan membantu anak menjadi teratur dan tertib.

5. Untuk menghargai batas-batas dalam lingkungan dan mengembangkan rasa tanggung jawab

Dalam area keterampilan hidup, Montessori berfokus pada 4 hal penting: motorik halus, merawat diri, merawat lingkungan, dan sopan santun & tata krama. Kalau dua hal yang pertama berkaitan dengan anak, maka dua hal yang terakhir berhubungan dengan dunia luar, bagaimana kita memperlakukan benda-benda, lingkungan sekitar, dan orang lain dalam hidup sehari-hari. Mulai dari hal yang rasanya sepele, kayak bagaimana cara berjalan, cara membawa baki/tray, cara membuka dan menutup pintu, merawat tanaman dan hewan. Sampai ke hal yang super penting menurut saya, yaitu bagaimana bersikap dan berperilaku santun dan penuh tata krama terhadap orang lain. 

Kebayang gak sih kalau ada orang dewasa yang perilakunya gak ada sopan-sopannya di ruang publik atau terhadap orang lain. Apa ya istilahnya, ga ada manner gitu. Kalau seperti itu gak bisa langsung berubah, karena sopan santun dan tata krama adalah keterampilan sosial yang perlu dilatih dan butuh proses. Dalam area keterampilan hidup ini, diharapkan anak bisa tau bagaimana menempatkan diri dalam lingkungan sosial dan belajar bertanggung jawab. Kalau misalnya mau punya hewan peliharaan, ya diajarin bagaimana cara kasih makannya, berapa kali sehari, apa yang boleh dan gak boleh dikasih. Selain anak paham skill merawat hewan ia juga akan mengembangkan rasa tanggung jawab terhadap hewan peliharaannya.

Saya inget banget, setelah selesai modul keterampilan hidup di kelas diploma, saya coba praktik di depan Sola bagaimana cara membuka dan menutup pintu. Sebelumnya, dia menutup pintu dengan cara didorong keras. So, I took a time to show her. Sebelumnya pake prolog dulu ya, bahwa kalau kita akan tinggal di rumah ini lama, jadi kita harus menjaga supaya benda-benda di dalamnya tidak cepat rusak. Terus, saya contohin deh cara membuka dan menutup pintu. Lalu kasih dia kesempatan untuk gantian. Ternyata, wow it worked. Tapi namanya anak-anak suka banyak lupa ya, kadang inget tutupnya pelan kadang lupa dibanting juga, hahaha. Gapapa sih, semuanya butuh proses dan kitanya juga jangan bosen-bosen untuk ulang lagi caranya gimana. Sekarang gimana? Seiring waktu udah lancar dan bagus kok memperlakukan pintu, hahaha.

Saat Ditanya Seberapa Montessori Latihan Keterampilan Hidup?

Area keterampilan hidup ini sih kayaknya semua buibu pasti ngajarin ya ke anaknya, ya kan? Jadi seberapa Montessori ini? 

Itu pertanyaan saya juga di awal. Dan saya tuh baru menemukan jawabannya di akhir diploma yang saya ikuti. Sebelum saya ikut diploma, saya sebenarnya clueless bagaimana mengasuh  anak ini di tahun-tahun awal kehidupannya. Kalo masih bayi, okelah fokusnya masih ke makan, susu, belajar jalan, dan lain-lain. Nah, makin besar anak kok belum ketemu juga kliknya. Terus akhirnya ketemu Montessori yang katanya parenting style yang ramah anak banget, metode ngajarinnya juga child centered. Dan saya jadi jatuh cinta sama filosofinya. Bagaimana filosofi Montessori “menyetir” cara saya memandang anak, menempatkan diri kalau di posisi anak sebenarnya apa yang dia butuhkan. Kayak anak nangis tuh kenapa, apakah mau bikin kesel aja atau sebenernya dia lagi gak nyaman, lagi sakit, lagi bingung tapi karena keterbatasan bahasa akhirnya cuma bisa nangis. Selain itu juga membantu saya untuk mengajarkan anak sesuatu dalam porsi kecil dan dengan langkah urutan yang sejelas-jelasnya. Mau buka tutup pintu aja, ada loh langkah-langkahnya. Praktik langsung dengan perlahan-lahan dan minim suara sehingga anak bisa fokus memperhatikan bagaimana saya bekerja.

Jadi, kalau ditanya seberapa Montessori keterampilan hidup ini? Menurut saya, jawabannya ada di pemahaman filosofinya dan ini berarti sangat subyektif sekali. Sekian sharing part 1 yang jadi agak kepanjangan ini, hehehe. Semoga bermanfaat!

Tags:

23 Comments

  1. Montessori ini tu udahnya murah karena memanfaatkan bahan yang ada di rumah, bikin anak makin kreatf dan betah di rumah ya mbak, karena idenya banyak sekali

  2. Dulu aku tertarik banget dengan sekolah TK montessori gitu tapi ternyata biayanya mahal. Tenryata aku baca-baca bisa juga dilakukan sendiri di rumah ya kegiatan seperti itu. Alhamdulillah anaknay udah mau lulus SMP skr dan mandiri juga.
    Betul banget subjektif jadi tergantung kitanya juga sih menurut aku ya. Ditunggu sharing part 2nya ya.

    1. Dulu aku sempat terjebak mikir montessori mahal. ya karena apparatusnya emang lumayan sih. Tp kalo kita bisa lakukan di rumah kenapa engga kan, apalagi jadi bagian dari cara parenting kita, kayaknya lebih utuh aja gitu jadinya

  3. Menarik emang tekniknya nih, sayang anakku dah gede. Coba taunya pas dia masih kecil ya, mau kupraktekkan jg. Btw bisa nih buat ponakanku. Thanks infonya ya Mbaa

  4. Harus paham filosofi Montessori ya?
    Gelas kaca dan jar kecil Sola aman ampai sekarang, Mbak? Waah, luar biasa ya. Anak memang bisa diercaya asalkan kita melakukan sesuai dengan cara yang mereka terima ya.

    1. Menurutku iya mbak, kalo ndak paham jadinya cuma koleksi apparatusnya doang huhuh, padahal ndak sperti itu. Puji Tuhan, masih aman mbak hihihi

  5. iya mbak, penting banget ya menstimulasi anak agar bisa melakukan keterampilan hidup sejak dini. Karena pada fase inilah dimulai tahapan awal anak melakukan segala aktifitas di masa depannya.

  6. Montessori ini banyak diminati para orangtua ya karena filosofinya tepat sih menurutku. Kita sebagai orangtua diarahkan untuk.tidak egois dalam mendidik anak. Ada perasaan selain teori.

    1. Bagian “perasaan” ini yang bikin kita bisa lebih empati sama anak wkwkwk

  7. Yup, bagus banget ini untuk mengajarkan banyak hal basic terkait ketrampilan hidup kepada anak. Sejak dini anak sudah belajar memahami bagaimana menjalankan keteraturan hidup, at least di ruang lingkup keluarga dulu ya.

  8. Wah panjaang, montessori ini emang salah satu metode pengajaran yang belakangan banyak dipraktikkan ya mbak oleh mama2.
    Salah satunya soal lifeskill ini juga sangat menarik, gak perlu pakai alat2 mihil, justru pakai apa yang ada di rumah utk menumbuhkan kemandiian anak juga ya mbak, jg supaya anak lbh berlatih mengapresiasi org lain.

  9. Kepengen banget deh anak bungsuku latihan montessori. Aku cuma lihat-lihat dari internet aja latihan-latihan sederhananya. Kepengen baca-baca buku lengkapnya. Biar bisa nambah kemampuan anak dengan Montessori ini.

  10. Wah aku perlu coba cara membuka baju celana dll saat mau mandi nih tampaknya. Beneran baru tahu ada cara tersebut dan berhasil. Thanks inputnya mba. Soal manner iya perlu dilatih dan dibiasakan.

  11. Saya tertarik mencoba teknik montessori ini untuk mendidik anak, tp anak saya masih 9 bulan, kira2 sudah ada teknik montessori yang bisa diterapkan mba?

  12. Montessori bagus lho memang, kebetulan dua ponakanku mendapatkannya dari mamanya. Jadi sejak kecil, anak sudah dipersiapkan untuk memiliki keterampilan dalam hidup, minimal dasarnya dulu ya terkait emosi, fisik, atau memenuhi kebutuhan mereka secara sederhana dan merawat benda-benda miliki mereka. Hasilnya bagus juga, dua ponakanku ini lebih mandiri dan bertanggung jawab dibandingkan ponakanku lainnya.

  13. Aku teratrik deh baca montesorri ini beberapa sudah dipraktekkan anakku dan memang di rumah saja ternyata bisa ya mba lakukan metode ini dengan peralatan seadanya yang penting bisa bantu anak berkembang :0

  14. Anaknya sepupuku juga pakai metode Montessori.
    Rumahnya rapih walau mainannya bentuk pom-pom, gelas, mainan kayu.
    Basicnya harus punya alas main yaa..

  15. Lumayan bisa jadi referensi metode belajar saat nanti punya anak. Makasih udah buat ulasan metode ini ya mba

  16. Tos sesama pecinta filosofi montessori mbak !
    Aku juga jatuh cinta dgn metode ini , dan setelah mempelajari lebih dalam, memang dengan menerapkan montessori ini, jadi lebih mindfull dan bisa get along sama anak, ga asal marah2. Hihi.. ditunggu sharinf berikutnya yaa

  17. kayakanya keponakan keponakanku harus coba montessori ini deh, mba, biar dan ortunya sama sama ngeh gimana hubungan kids jaman now dan ortu jaman now..wkwkwkw

  18. Wah! Noted banget ini, kak. Walaupun belum ada anaknya, pun belum nemu juga jodohnya, Jadi tau apa aja sih yang diperlukan anak dalam belajar hal begini ini. Apalagi hal-hal yang dasar untuk menjalani kehidupan. Karena tumbuh kembang anak tetap bergantung bagaimana suasana rumah dan lingkungan kan ya.. uiiihhhhhh, vinaaaaa… :3

  19. wah sangat bermanfaat nih, terimakasih sudah berbagi ya kak 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *