Montessori Ilmu Budaya: Tentang Imajinasi

by | Aug 2, 2021 | Education, Montessori | 9 comments

Pembelajaran Montessori dalam area ilmu budaya didesain untuk memperkenalkan dunia luar kepada anak. Kurikulum ini kaya akan pembelajaran yang menarik imajinasi anak keluar untuk melihat hal yang berbeda-beda di berbagai belahan dunia, berbagai macam makhluk hidup, dan lingkungan sekitarnya, Dengan mempelajari ilmu budaya, dapat membantu anak untuk beradaptasi dengan budayanya sendiri, dan membantu anak menjadi individu dan bagian dari masyarakat. Tidak hanya itu, pengenalan ilmu budaya juga sebagai cara untuk memberikan rasa terhubung antara manusia dengan alam/bumi ini, sehingga anak mendorong anak untuk menjaga bumi dan menciptakan hubungan baik di dalamnya, terutama kepada sesama manusia.

Kurikulum dalam ilmu budaya bergerak dari umum ke khusus. Jadi dimulai dengan memberikan gambaran besar atas sebuah konsep, sehingga memberikan fondasi dasar bagi anak. Di dalam gambaran besar, anak akan belajar bahwa segala sesuatunya memiliki hubungan. Anak pun akan lebih mudah mengorganisasikan pikirannya dengan informasi-informasi baru yang diberikan. Misalnya saja, tentang dunia ini,  daripada menunjukkan hanya bagian-bagian tertentu Negara dimana kita tinggal, atau dimana seseorang yang kita kenal tinggal, di Montessori kita memberikan kepada anak globe/bola dunia. Melalui bola dunia, kita tidak sekadar melokasikan dimana suatu tempat yang kita maksudkan, tetapi secara tidak langsung anak akan menyadari posisinya di bumi, diantara 7 benua, di negara mana, di kota mana. Perspektif inilah yang muncul dengan sendirinya saat kita memberikan gambaran besar atas sebuah konsep.

Best part of this : kita bisa bikin sendiri hampir sebagian besar material di area ini. Wooww bikin semangat ibu-ibu gak sih ini? :)) 

Tentang Kurikulum Ilmu Budaya

Mungkin teman-teman sudah tau ya, apa saja yang termasuk ke dalam kurikulum Ilmu Budaya. Saya preview sedikit:

  1. Hewan

Pada kurikulum ini, anak-anak diperkenalkan pada dunia hewan, dan belajar mengelompokkan dan membedakan kelompok hewan. Setidaknya ada 7 pengelompokan hewan. Di sini juga teman-teman akan familiar dengan penggunaan miniatur atau figurin hewan. lengkap dengan puzzle dan pelajaran mengenai siklus hidup, lengkap dengan kartu terminologinya (atau kartu nomenklatur)

  1. Tumbuhan

Sesuai judulnya, disini pelajaran terkait dengan tumbuh-tumbuhan: daun, bunga, pohon, model buah dan sayur dan lain-lain. Penggunaan kartu nomenklatur juga masih digunakan

 

  1. Geografi

Pelajaran geografi dimulai dengan perkenalan  dengan globe (3D), lalu pindah ke peta dunia (2D) untuk mengenal berbagai macam benua di dunia. barulah perlahan-lahan anak diperkenalkan mengenai negara dalam benua. Saya pribadi sangat terkesan dengan presentasi ini. Awalnya mah, yah peta aja langsung…ribet amat pake globe segala. Tetapi sewaktu saya menerima presentasi ini sendiri secara langsung saya benar-benar terkesima menyadari betapa smooth-nya peralihan dari benda 3D ke peta yang datar (2D) yang mana bola dunia itu dikempesin di depan mata kita (kapan-kapan deh ya aku sharing bagian ini, hehehe). Disini anak juga belajar formasi dasar tanah dan air, lapisan bumi, lapisan gunung berapi. Yang paling menarik itu adalah country folder dan country box, karena rasanya ibarat jalan-jalan ke luar negeri, whoaaa…

4. Sejarah

Ada yang bosenan gak kalau belajar sejarah di sekolah? Hehehe. Kalau di kelas Montessori usia dini, pelajaran sejarahnya masih terkait diri sendiri misalnya dengan permainan ulangtahun. Anak juga belajar linimasa waktu mengenal dirinya sejak lahir sampai dengan usianya sekarang dengan menggunakan foto-foto yang diurutkan. Pengenalan sejarah lain misalnya dengan terbentuknya bumi juga diceritakan dengan menggunakan timeline. Ini membantu anak memahami urutan dalam suatu kejadian.

Imajinasi dalam Montessori

Maria Montessori menghargai imajinasi individu. Oleh karena itu, imajinasi haruslah dibangun berdasarkan pengalaman yang nyata dalam kehidupan anak tersebut. Dengan demikian, anak dapat mengembangkan pengetahuannya sehingga imajinasinya juga dapat berkembang.

Cakrawala mental seorang anak tidak terbatas pada apa yang dilihatnya. Anak memiliki jenis pikiran yang melampaui konkret. Inilah yang disebut imajinasi. Pembayangan atau penggambaran secara mental benda-benda yang tidak ada secara fisik. inilah yang dimaksudkan sebagai imajinasi, yang mana membutuhkan tingkat kemampuan mental yang tinggi.”

Maria Montessori, The Absorbent Mind

Kurikulum pembelajaran Montessori dibuat untuk memenuhi kebutuhan perkembangan anak sesuai dengan usianya. Di tahap perkembangan pertama, anak-anak yang berada dalam tahapan konkret, perlu menggunakan alat-alat inderanya untuk mempersepsi dan memahami dunia, dalam hal ini menggunakan berbagai macam aparatus. Seiring dengan semakin baiknya kemampuan anak untuk melakukan pekerjaan mental, maka semakin sedikit apparatus yang diperlukan anak untuk berkarya. Terlebih, anak semakin mampu membayangkan ide-ide yang belum terjadi. Kapasitas mental ini tertuang dalam tulisan, gambar-gambar desain, atau proyek yang dikerjakan oleh anak melalui pengolahan informasi/pengalaman/pengetahuan yang telah mereka dapatkan dan apa yang dapat mereka ciptakan di kemudian hari.

Kita sadari atau tidak, anak-anak kita yang berusia dibawah 6 tahun, banyak kita ekspos pada hal-hal yang berbau fantasi, seperti dongeng putri dan pangeran, cerita tentang naga, bahkan sampai ke cerita fantasi jaman sekarang seperti batman, spiderman, superman, zombie, dll. Anak-anak mampu membayangkan dalam pikiran mereka dan mulai berperilaku bagaikan tokoh idamannya.

Bagi Montessori, cerita fairy tales sangat menghibur, memiliki makna filosofis atau ironi yang disukai orang dewasa. Biar bagaimanapun imajinasi ini adalah milik orang dewasa. Anak-anak hanya mendengarkan. Anak-anak dibawah enam tahun belum mampu membedakan dengan baik antara kenyataan dan bukan, antara hal-hal yang mungkin terjadi dan hal-hal yang dibuat-buat. Yang harus dilakukan saat kita menyampaikan kisah fairy tales adalah kita pun harus memberikan pemahaman kepada anak bahwa yang didengarkan adalah bukan kenyataan, hanya pura-pura.

Jika anak-anak dengan mudahnya dapat menerima semua cerita fantasi tersebut, mengapa kita tidak memberikan yang jauh lebih nyata seperti dunia. Dengan melihat dan menyentuh globe anak akan mampu membantu dirinya sendiri mengenal nama negara yang hanya didengarnya melalui percakapan. Montessori mengatakan bahwa dengan memberikan benda nyata ke dalam genggaman tangan si anak untuk melatih kekuatan mentalnya (imajinasi), anak akan merasa ditolong, karena pikirannya ikut dibawa bersentuhan dengan dunia luar.

“Imagination is the real substance of our intelligence. All theory and all progress comes from the mind’s capacity to reconstruct something.”

Maria Montessori, The Child, Society and the World p.48

Tips Praktis

Dua tips praktis yang mungkin bermanfaat 🙂

Yang pertama, cerita atau tontonan fairy tales, super heroes, dll mungkin dapat diberikan bagi anak usia dibawah enam tahun dengan selalu menekankan kepada anak bahwa cerita yang barusan didengarnya adalah tidak nyata. Sebagai pegiat read aloud, saya sendiri membacakan beragam buku, namun selalu saya jelaskan ke anak it’s just a story, not real. Ini membantu anak untuk membedakan secara tegas mana yang nyata dan mana yang tidak. Terus apakah bener-bener gak boleh untuk kisah-kisah dongeng? Menurut Oma Montessori, akan lebih disarankan untuk memberikan cerita fairy tales dimasa perkembangan berikutnya (second plane development).

Yang kedua, berikan anak kesempatan untuk mengeksplorasi lingkungan. Waktu yang ada di rumah dapat digunakan untuk memperkuat konsep yang telah dipelajari oleh anak, misalnya dengan mengunjungi kebun binatang, merawat tanaman di pot, memelihara hewan peliharaan. Saat keluar negeri, cobalah mengunjungi tempat-tempat atau mengikuti festival yang pernah dipelajari anak. Yaa..tapi kan masih pandemi ya..yaudah gapapa bisa eksplorasi sekitar rumah: merawat hewan, berkebun, dsb masih banyak ragam kegiatan nyata yang bisa dilakukan oleh anak 🙂

 

Tulisan ini adalah milik saya, dilarang menyalin tulisan ini. Terima kasih 🙂

This article is mine, please do not copy. Thank you for your honesty 🙂

 

You May Also Like

Free Printable: Alphabet & Tracing Cards

Free Printable: Alphabet & Tracing Cards

Yuhuuu...ibu-ibu sekalian... Sudah bulan Agustus ya, berarti mungkin sudah 2-4 minggu berjalan kegiatan tahun ajaran baru 2021/2022. Tapi tahun ajaran mah di sekolah ya, kalo di rumah belajar bisa setiap saat sambil main-main. Nah, berhubung banyak yang DM aku di...

Berkenalan dengan Matematika: Korespondensi Satu-Satu

Berkenalan dengan Matematika: Korespondensi Satu-Satu

Beberapa waktu yang lalu, ada seorang mama yang DM saya melalui instagram dan bertanya, "anak saya belum tahu huruf (apalagi membaca) dan berhitung sama sekali. Apakah anak saya ketinggalan?" Dalam Montessori, kita meyakini bahwa setiap anak memiliki inner teacher...

9 Comments

  1. Katerina

    Di bagian imajinasi, ide menyentuh globe lalu menceritakan nama negara dan hal-hal ikonik dari negara yang disebutkan, itu bagus sekali dan tepat, karena lebih kuat dan nyata ketimbang menceritakan dongeng putri dan pangeran atau tokoh hero seperti spiderman dan batman yang semuanya pura-pura.

    Tulisan yang sangat berbobot. Terima kasih telah berbagi 🙂

    Reply
  2. Raja Lubis

    Khusus tips yang kedua kan dicontohkan merawat tanaman dan lain-lain sebagai bentuk eksplorasi lingkungan. Kira-kira kalau anak diajarkan dan diberikan kesempatan untuk belajar pertukangan, sama saja nggak ya hasilnya. Soalnya anak laki-laki biasanya nggak terlalu tertarik berkebun.

    Terima kasih

    Reply
  3. Eri Udiyawati

    Tips-tipsnya mudah nih. Tapi saya baru praktek yang kedua mengajak anak untuk eksplorasi lingkungan sekitar. Mengenal tetangga, mengenal binatang peliharaan, mengenal jalanan sekitar, dll.

    Ya, pengennya kami juga jalan-jalan yang lebih jauh bukan hanya muter sekomplek, tapi masih pandemi, plus PPKM pula.

    Reply
    • Hida

      Tulisannya bernas banget, mbak. Tipsnya juga sederhana dan mudah dipraktekkan. Bisa membuat bonding erat orang tua dan anak apalagi di masa pandemi ini lebih banyak di rumah.

      Reply
  4. Dian

    wah iya, dulu aku juga sempat belajar tentang montessori ini mbak
    mencoba menerapkan ke anak juga, lumayan seru saat belajar dengan metode montessori ini

    Reply
  5. Mechta

    Terima kasih mba..saya jadi menegnal ttg montessori ini.. bagus sekali ya kurikilum utk pendidikan anak ini..

    Reply
  6. Andrew Pradana

    Belajar lebih fun ya mba. Apalagi cocok banget untuk anak-anak dimana imajinasi mereka masih tinggi tingginya. Perkembangan anakpun jadi bisa lebih baik ya 😀

    Reply
  7. Amel

    Saya sangat suka konsep montessori, akan tetapi saya belum membeli berbagai aparatus. Untuk sementara saya langsung membersamai mereka di kegiatan sehari-hari. Belajar sayuran emang liat sayur, membersihkan, memotong, sampai melihat atau bahkan praktik memasak. Apakah itu tidak masalah? Atau harus bertahap pakai alat?

    Reply
  8. Marita Ningtyas

    Saya sudah sering dengar tentang montessori tapi belum belajar secara mendetail. Ternyata sebenarnya sederhana ya. Dan kalau mau, orang tua bisa menyiapkan bahan belajarnya sendiri. Hanya saja selalu kalah dengan mager. Padahal dulu waktu masih mengajar, saya rajin membuah bahan-bahan ajar semacam ini, kenapa setelah punya anak malah malas ya.. duh payah nih.

    Btw, saya jadi punya ide belajar bareng anak sih dari artikel ini. Moga-moga bisa segera eksekusi dan mengalahkan kemalasan diri sendiri. Doakan sayaaa!

    Reply

Leave a Reply to Eri Udiyawati Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest

Share This