Berkenalan dengan Matematika: Korespondensi Satu-Satu

by | May 12, 2021 | Education, Montessori | 31 comments

Beberapa waktu yang lalu, ada seorang mama yang DM saya melalui instagram dan bertanya, “anak saya belum tahu huruf (apalagi membaca) dan berhitung sama sekali. Apakah anak saya ketinggalan?” Dalam Montessori, kita meyakini bahwa setiap anak memiliki inner teacher yang mengarahkan dia mempelajari sesuatu. Tapi jelas, kita ga bisa mengharap anak tahu-tahu bisa ini itu tanpa kita juga memberikan aktivitas untuk stimulasi kemampuan anak. Stimulasi yang dimaksud dibuat bukan untuk memaksa anak mencapai target tertentu melainkan kita memberikan kesempatan anak untuk mengarahkan pengalaman belajarnya dan dengan penuh respect kita menghargai kecepatan anak dalam belajar.

Hal ini, salah satunya, terkait dengan pengenalan matematika kepada anak usia dini. Dalam Montessori, kita mengajar anak dengan segala sesuatu yang sifatnya konkret. Pembelajaran dengan pendekatan sensorial ini dikarenakan anak usia dini lebih mudah belajar apabila menggunakan benda-benda asli. Hal ini sejalan dengan periode sensitif pada anak usia dini, salah satunya adalah sensitif pada alat indera. Sehingga belajar dengan menggunakan benda-benda asli yang bisa disentuh, diraba, dibaui, didengar, dan dicicipi akan lebih mudah dan cepat dicerna anak ketimbang belajar dari worksheet saja.

Kapan Periode Sensitif Pada Matematika?

Maria Montessori meyakini bahwa pada dasarnya anak-anak sudah memiliki mathematical mind , dan karenanya anak-anak dapat dengan mudah menyerap konsep-konsep matematika secara alamiah. Pada umumnya, periode sensitif pada matematika dimulai di usia 4 – 6 tahun. Angka ini bukan harga mati. Ada anak-anak yang lebih cepat, ada yang lebih lama.

“When a particular sensitiveness is aroused in a child, it is like a light that shines on some objects but not others, making of them his whole world” – Maria Montessori

Dengan kata lain, periode sensitif adalah jendela kesempatan dalam perkembangan anak dimana ia dapat dengan mudah dan cepat dalam menyerap keterampilan tertentu. Namun, seperti yang sudah disampaikan di atas, pengenalan konsep-konsep dasar matematika sudah bisa diberikan pada usia yang lebih muda, katakan saja usia 2.5 atau 3 tahun. Misalnya membedakan atau memilah warna, mengurutkan pola, mengklasifikasi, membandingkan, mengurutkan, bentuk-bentuk geometri, pemahaman spasial. Pemahaman matematika dapat mudah diserap dan terjadi secara alamiah, dimana semuanya telah mulai diperkenalkan di area sebelumnya yaitu excercise of practical life dan sensorial.

Pengenalan Matematika Awal, Korespondensi 1:1

Perkenalan pada matematika di Montessori sudah diberikan di area practical life dan sensorial. Namun, kali ini saya ingin lebih fokus pada area matematika. Seperti pada area lain, matematika Montessori disusun dengan sequence berdasarkan tingkat kesulitannya. Salah satu pengenalan matematika yang mendasar adalah korespondensi satu-satu.

Korespondensi satu-satu juga berarti pemahaman anak bahwa satu benda memiliki satu pasangan dengan fungsi yang sesuai. Misalnya sepasang kaos kaki digunakan satu di kaki kiri, dan satu di kaki kanan. Atau, 4 orang akan makan maka kita perlu menyediakan 4 piring makan. Atau, jika kita memiliki 5 sedotan dan 5 botol, anak bisa menempatkan masing-masing sedotan kepada masing-masing botol.

Korespondensi satu-satu juga berkaitan dengan pemahaman anak bahwa suatu simbol mewakili sejumlah obyek tertentu. Sehingga anak dapat memasangkan antara simbol angka (4) dengan kuantitas benda (empat buah kelereng). Nah, bagaimana cara memulai mengenalkan matematika kepada anak? Selalu mulai dengan cara yang menyenangkan. Jika hati senang, maka otak anak akan siap menerima stimulasi dari moms semua. Berikut ini beberapa hal yang bisa moms coba untuk mengenalkan matematika :

Ide Kegiatan Korespondensi Satu-Satu

Perkenalan dengan matematika sebaiknya menggunakan benda-benda real yang dapat dimanipulasi oleh anak. Penggunaan benda-benda konkret, dimana anak bisa menyentuh dan melihat langsung akan membantu anak memahami konsep korespondensi satu-satu ini dengan mudah, karena pemahaman lebih penting dari sekadar mengingat.

  • Memindahkan 1:1
Memindahkan 1:1

Memindahkan 1:1 dapat menjadi salah satu kegiatan awal yang bisa dikenalkan kepada anak untuk mengajarkan korespondensi satu-satu. Disini anak akan belajar bahwa 1 obyek berpasangan/ berkoresponden dengan 1 tempat. Hal ini bisa mudah dilakukan dengan menggunakan apa yang ada di sekitar rumah. Pemahaman ini kelak akan berkembang, dimana anak mulai menghitung benda-benda (counting). Dalam melakukan kegiatan ini sebaiknya parents mengisolasi obyek dengan 1 kualitas saja (1 warna atau 1 bentuk atau 1 ukuran) agar anak tidak overwhelmed dengan benda yang diberikan.

  • Berkenalan dengan angka menggunakan musik, gerakan, dan lagu

Musik dan lagu adalah media menyenangkan untuk mengenalkan anak hal baru. Lagu mudah diingat dan tidak memerlukan alat bantu apapun. Lagu juga memudahkan anak mengingat urutan. Sebelum mulai mengenalkan anak dengan penomoran, ajaklah anak untuk menyanyi/mendengar lagu-lagu yang berkaitan dengan angka. Mengenalkan angka dengan gerakan juga mudah dilakukan. Yang sering kami lakukan dulu misalnya berputar mengelilingi kursi, menepuk tangan, menghentakkan kaki, atau melakukan gerakan tertentu sesuai jumlah angka yang disebut. Kami juga menciptakan lagu tentang angka 1-10 yang kami nyanyikan dimana pun.

  • Menghitung objek dimana pun dan kapan pun

Ajak anak untuk selalu menghitung objek dimana pun dan kapan pun. Lagi-lagi disini ada peran besar orangtua untuk mengajak anak berhitung. Hitunglah apa saja yang kita lihat. Berapa pintu di rumah kita? Berapa piring di atas meja? Berapa kaki kucing itu? Berapa telinga mama? Berapa kaki adik? dsb. Just count anything you can see.

  • Memasangkan obyek dengan angka
Memasangkan angka dengan kuantitas menggunakan aparatus card & counter

Memasangkan obyek sesuai dengan angka yang diminta, membantu anak memahami bahwa angka tertentu merepresentasikan kuantitas tertentu. Jika menggunakan aparatus Montessori, sebagai awalnya kita dapat mengenalkan anak dengan number rod, sand paper number, dan card & counter. Untuk penggunaan di rumah (bukan sekolah), saya substitusi dengan menggunakan small number rods. Sebenarnya Small number rods ini digunakan untuk operasi matematika penjumlahan dan pengurangan, tetapi karena budget dan space rumah yang terbatas, maka saya memutuskan untuk menggunakan small number rods. Tidak ideal but it serves the purpose.

  • Permainan memasangkan benda dan angka (benda-benda sekitar)
Number and object matching game

Tidak punya number rods? Atau sudah pernah mengenalkan number rods dan anaknya bosan? Moms bisa mengajak anak memasangkan jumlah dengan simbol angka dengan menggunakan benda-benda di sekitar rumah dan mengemasnya dalam bentuk permainan. Gunakan apa saja yang bisa moms temukan di rumah. Be creative.

  • Variasi tambahan
Variasi dengan worksheet

Sentuhan terhadap obyek sangat penting untuk membantu anak memahami konsep korespondensi 1:1, Itulah sebabnya pengenalan matematika ini sebaiknya menggunakan benda nyata . Seiring dengan bertambahnya kemampuan anak dalam berhitung (counting), parents dapat melakukan variasi kegiatan dengan menggunakan kertas (worksheet). Saya sendiri berusaha tetap memberikan anak kegiatan tanpa menggunakan pensil di awal, jadilah variasi kegiatan dengan menggunakan penjepit dan cotton bud seperti di atas.

Don’t rush our kids. Just like flowers, they will bloom at their own time

Yang penting untuk diperhatikan adalah, jangan terburu-buru ingin mengajarkan berhitung tanpa memahami hubungan antara angka dengan jumlah (kuantitas). Dan, semua anak memiliki waktunya masing-masing. Kalau parents punya pengalaman apa nih dalam mengenalkan matematika pada anak? Share yuk! I’d love to read your story 🙂

You May Also Like

Tips Berlatih Menggunakan Large Moveable Alphabet

Tips Berlatih Menggunakan Large Moveable Alphabet

Salah satu aparatus Montessori yang digunakan untuk pembelajaran bahasa adalah Large Moveable Alphabet. Aparatus ini merupakan sejumlah huruf yang cukup besar terbuat dari kayu dimana masing-masing huruf berjumlah lima, dengan warna merah pada konsonan dan warna biru...

31 Comments

  1. Imawati Annisa

    Idenya bagus nih, Mba. Saya juga termasuk Montessori anthusiast, pengen sekali mengajarkan anak tentang matematika dengan gembira. Pengen anak suka belajar matematika tanpa terpaksa, nggak kayak saya dulu. Haha. Makasih sharingnya sangat bermanfaat buat ibu-ibu seperti saya yang ingin belajar lebih banyak tentang metode Montessori.

    Reply
  2. Lina sophy

    Bermanfaat banget inih! Saya mengenal metode Montessori ini dari buku² kak, ada 4 buku Montessori yang sudah saya beli buat dampingi tumbuh kembang anak, cuma ya kadang pengaplikasiannya yang bingung karena kurang pengalaman. Tfs ya kak

    Reply
    • Ira Hamid

      Penting banget mengenalkan matematika secara menyenangkan pada anak yaa agar anak jadi senang dengan matematika. Saya termasuk anak yang gak terlalu menikmati pelajaran matematika, hiks

      Reply
  3. Firsty ukhti molyndi

    Asik ya belajar matematika sambil bermain. Anak-anak jadi gak berasa bisa sekalian belajar dengan cara yang menyenangkan. Aku suka loh mbak tipsnya. Nanti kupraktekin kalo dah punya anak. Hehe

    Reply
  4. Juliastri Sn

    Memang benar, anak-anak lebih mudah belajar secara visual nyata. Dengan bantuan alat peraga yang dapat dapat dilihat dan diraba. Kalau anak saya lebih mudah paham dengan gerakan dan lagu

    Reply
  5. Andina

    Wah, tanpa sadar saya sudah sedikit2 mengenalkan matematika ke anak. Dari warna hingga jumlah benda sederhana. Anak baru 5 tahun, jadi makin ingin menstimulus dia belajar matematika

    Reply
    • Yati Rachmat

      Hihi..untungnya di zaman kekinian bunda udah gak punya balita lg. Tugas anak2 perempuan bunda juga sdh tuntas karena anak2 mereka udah dewasa. SaLut sm ibu satu ini yg sangat kekinian.

      Reply
  6. Hidayah Sulistyowati

    Kalo anak-anak udah belajar secara sederhana matematika sejak usia 3 tahun lebih. Belajarnya dengan model berkenalan dengan bentuk dan pakai mainan hadiah dari susu anak waktu itu. Yah udah 20 tahunan, mereka udah besar sekarang. Yang penting belajar sambil bermain dan tidak dipaksakan

    Reply
  7. Mutia Nurul Rahmah

    Makasih mba untuk informasinya. Untuk belajar matematika saja, ada bnyak cara untuk memulainya ya. Jadi lebih tercerahkn deh.

    Reply
  8. Mutia Nurul Rahmah

    Makasih mba untuk informasinya. Untuk belajar matematika saja, ada bnyak cara untuk memulainya ya? Jadi lebih tercerahkan deh.
    Apalgi disertai contoh kegiatan yang dapat dilakukan di rumah

    Reply
  9. Marita Ningtyas

    Aku baru tahu kalau kegiatan-kegiatan di atas dinamakan Korespondensi satu satu lo mbak. Ada beberapa kegiatan yang sudah pernah kulakukan, dan ada yang belum. Tapi jujur sejak punya anak kedua, aku kok nggak serajin waktu punya anak satu, duh kasih banget deh dia. Belajarnya malah sama si kakak, hehe.

    Izin comot ide kegiatannya buat kupakai di rumah ya mbak. Makasih banyak.

    Reply
    • Sri Al Hidayati

      Susah susah gampang memang ngenalin matematika ke anak. Sebenarnya kalau konsepnya udah tau pasti jadi mudah yaa.. sekarang anak saya juga seneng belajar pengurangan. Kalau dengan bentuk benda lebih mudah untuknya

      Reply
  10. Rinda Gusvita

    Wah, aku langsung bookmark! Makasiiii banget ide aktivitasnya. Anakku 2,5 dan belum pandai bicara. Dia suka sekali menghitung kalau main petak umpet atau menghitung benda yang enggak lebih dari lima. AKu belum pernah mengajarkan soal memasangkan dan ini masukan yang bagus banget. MAkasiiii ya mbak

    Reply
  11. Ida Tahmidah

    Idenya bagus nih,,,,Jadi ingat padahal saya punya satu set buku tentang matematika untuk anak …mahal lagi harganya..jutaan sayang kurang saya manfaatkan…huhu..

    Reply
  12. Elly Nurul

    Oh ini namanya korespondensi satu satu ya.. cara sederhana untuk mengenal matematika pada anak usia dini ya.. beneran mudah dan bisa diikuti oleh para orangtua dirumah khususnya para ibu yang sedang mencoba mengenalkan montessori matermatika korespondensi satu satu

    Reply
  13. lendyagasshi

    Montessori ini metode yang sangat bagus sekali yaa…selain mengajarkan anak-anak sebuah konsep yang based on activities, juga mengajarkan anak-anak kemandirian.
    Karena memiliki alas kerja sendiri dan nantinya juga membereskan setelah bermain.
    Suka banget.

    Reply
  14. Ria Nugros

    Makasih mba sharingnya, ini bermanfaat bangettt. Nanti mau coba ah praktekin buat anak-anak

    Reply
    • Uniek Kaswarganti

      Lebih mudah dipahami pengenalan korespondensi 1:1 gini jika dilakukan dengan contoh barang nyata yang ada di sekitar ya mba. Anak-anak bisa memahami dengan mudah dan menyenangkan banget. Proses belajarnya pun jadi nyaman, baik bagi anak maupun orangtua yang mengajarinya.

      Reply
  15. indah savitri

    this is nice! metode seperti ini akan sangat dinikmati anak – anak yaaa mba dan bisa belajar sambil bermain at the same time

    Reply
  16. Bundabiya.com

    anakku kalau belajar matematika juga sukanya begini, sambil ada alat atau mainan peragaan gitu soalnya bikin dia lebih tertarik dan jadi gampang nyantolnya. semangaatt berlatihnya yaa buat anak2 kita

    Reply
  17. Emanuella Christianti

    Beneeeeeer, pengalaman selama ini pakai benda-benda real yang dapat dimanipulasi oleh anak buat belajar matematika memang bikin anak jadi lebih mudah memahami konsep abstraknya ya…. Boleh request buat alphabet gimana ya kaaak baiknya….

    Reply
  18. Shyntako

    anakku pas dulu playgroup juga aku masukin di sekolah yang sistemnya montessori, dan memang diajarin matematika dasar banget tuh bukan calistung ya,, tapi pakai alat peraga gitu, seru sih jd bermain smbil belajarnya dapet bgt kalo pake sistem montessori

    Reply
  19. Ujame Gaja

    belajar matematika jadi engga “susah” ya karena metode Montessori ini, yang cocok banget untuk anak anak. Bermain sambil belajar jadi anak anak juga nangkep. Jadi inget saudara ku ngajarin anaknya kaya gini juga untuk mengenal matematika.

    Reply
  20. April

    Bener banget, kadang anak tahu cara berhitung tapi gak ngerti konsepnya. Makanya perlu sering2 stimulasi supaya lbh paham ttg angka2 yang dia hitung ya mbak.
    Ak7 jd keinget zamanku sekolah dulu malah kyknya ngandelin tabel tambaj, kurang, kali dll yg sifatnya menghafal huhu. Pdhl konsep penting yaa

    Reply
    • April

      #aku #tambah

      Reply
  21. Jeanette Agatha

    Terima kasih untuk idenya, mom. Aku save ahh, untuk mengajar akunya yang masih kecil. Masih lama sih soalnya baru 3 bulan usianya, hehehe

    Reply
  22. Gina Nelwan

    Dulu saya memang pernah denger dari teman perihal metode pengajaran montessori ini and setahu aku juga banyak komunitas parenting yang saling sharing soal metode montessori ini yaa mba

    Reply
  23. Nanie

    Idenya bagus banget, bisa kuterapkan untuk anak kedua yang umurnya menjelang dua tahun. Anak sulung saya kurang stimulasi terkait matematika ini sewaktu balita dulu, jd belajar dari pengalaman itu sy mulai banyak cari tau

    Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest

Share This