Education, Montessori, Parenting

Montessori di Rumah: Prinsip Dasar Montessori

Mempelajari Montessori menjadi semakin menarik buat saya belakangan ini. Usia anak yang menjelang 3 tahun juga memungkinkan untuk dikenalkan dengan berbagai macam kegiatan ala Montessori 🙂 Mau share sedikit, bahwa awalnya saya mengenal Montessori dari postingan ibu2 instagram yg bagus-bagus. Bagus karena kesan eksklusif, fancy, dan semuanya barang yang real  (no plastic plastic club). Setelah belajar, memang ternyata pengenalan barang real disarankan dalam Montessori. Tapi semakin belajar, saya semakin menyadari bahwa yang lebih penting adalah filosofi Montessori dibalik semua kegiatan itu. Yang sebenarnya bisa diterapkan jauh sebelum anak dapat berbicara, bergerak kesana kemari, dsb. Sebelum membahas lebih jauh, saya ingin berbagi beberapa prinsip yang mendasar untuk memulai Montessori di rumah. Yuk, simak berikut ini:

Prepared Adults

Sebelum kita mengisi bejana anak-anak kita, bejana kita harus lebih dahulu diisi. Dengan apa? Pemahaman tentang tumbuh kembang anak, cara belajar anak, sensitive periods, keterampilan apa yang perlu kita miliki untuk mempersiapkan lingkungan yang tepat, dan sebagainya. Ibarat kita hendak membangun rumah, dibutuhkan pondasi yang kuat dari diri kita sebagai orangtua untuk menjadi role model dan fasilitator untuk anak-anak. Prepared adults adalah prinsip dasar pertama, yang menjadikan kita siap sebagai directress atau pemandu bagi anak-anak kita dengan lebih berkesadaran/mindful. Sebagai contoh, kalau kita sudah tahu bahwa anak kita ada di masa periode selalu bilang “TIDAK” bukan berarti kita melihatnya sebagai bentuk pembangkangan terhadap orang tua. Prepared adults akan bisa melihat bahwa disini fase kemandirian anak mulai berkembang, dimana ia menyadari bahwa dirinya adalah individu terpisah dari orangtua atau saudaranya dan memiliki keinginan, pendapat, perasaannya sendiri. Sehingga cara menangani anak yang sedang dalam fase otonomi bukanlah balas menunjukkan otoritas, melainkan mampu memberikan anak kebebasan memilih dalam batasan yang kita sediakan, membiarkan anak bekerja secara mandiri, mundur selangkah dan hanya datang menolong ketika anak meminta bantuan. Beda kan?

Prepared Environment

Biasanya pertanyaan yang sering diajukan terkait prepared environment adalah “aparatus apa yang sebaiknya saya beli terlebih dahulu?” Hmm, sebenarnya bukan ini dulu yang menjadi fokus. Prepared environment berarti lingkungan yang disiapkan untuk anak bebas bereksplorasi, bekerja dengan aparatus/material, secara aman dengan pengawasan minimal dari orang dewasa. Prepared environment berarti juga menyediakan material sesuai dengan minat anak dan sensitive periodnya. Daripada menempatkan semua mainan dan material bersamaan,  orangtua dapat memilah mana yang menjadi minat anak, atau kira-kira mana yang akan diperkenalkan kepada anak, menatanya 8-10 material secara rapih dan menarik. 

Pertanyaan selanjutnya: Tahu dari mana minat anak? Observasi.

Observasi

Observasi akan menjadi alat pamungkas untuk membantu kita mempersiapkan lingkungan yang tepat untuk anak. Melalui observasi kita bisa melihat minat anak, sehingga kita bisa memberikan kegiatan yang sesuai. Melalui observasi kita bisa menentukan akan mengenalkan aktivitas apa kepada anak yang dikaitkan dengan minat anak. Bagaimana agar observasi bisa obyektif? Kita bisa “mundur” selangkah, memperhatikan detil apa yang dilakukan anak, mencatat saja dulu (belum memberi penilaian apapun). Saat kita punya waktu lebih (kalau ibu-ibu biasanya tengah malem, kalau anak udah pules, hehehe) kita bisa baca kembali catatan kita dan membuat refleksi.

Sebagai contoh, anak usia 3 tahun sedang dalam fase tidak bisa diam. Mau diajak belajar/beraktivitas gak mau duduk. Maunya lari-lari, lompat-lompat, energinya tidak habis-habis, disuruh nulis malah berdiri dan jadinya malah mencoret-coret di tembok. Kira-kira kenapa ya? Apa yang sedang anak butuhkan ya? Apa yang menjadi senstive period nya saat ini?

Setelah diobservasi dan direfleksikan, oh ternyata anak dalam masa sensitif pada gerakan, bukan karena anaknya membangkang atau bandel gak bisa dibilangin. Sensitive periods itu begini, bayangkan ada senter yang menyinari 1 bagian dari globe. Nah, bagian yang disinari ini menjadi terang dan menyerap cahaya sebanyak mungkin, sementara bagian yang lain gelap dan “tertidur”. Bagian terang inilah yang sensitif dan butuh untuk diakomodir. Kembali ke contoh tadi, peran orangtua adalah mengakomodasi kebutuhan gerak anak, misalnya dengan mengajak anak bermain di luar rumah, atau berolahraga. Atau anak yang sedang sensitif menyempurnakan inderanya, bolak balik menuang air berwarna dari satu wadah ke wadah lain. Orangtua dapat memberikan anak semua material yang dibutuhkan, kain lap agar anak dapat membersihkan secara mandiri, akses mencuci tangan ke wastafel (menggunakan wastafel mini atau helping tower). Jadi prepared environment bukan semata-mata menyediakan aparatusnya, tetapi juga bagaimana memenuhi kebutuhan pembelajaran anak, dan menciptakan kebebasan & kemandirian anak.

Salah satu yang menjadi prinsip dasar lainnya dalam Montessori adalah respect, yang berarti menghargai anak sebagai individu, pribadi yang utuh, yang memiliki perasaan, ide, pendapat, keinginan dan kebutuhan sendiri. Salah satu contoh sederhana adalah bagaimana berbicara kepada anak. Bayangkan saat kita bicara dengan orang lain. Tentu kita akan berbicara atau merespon dengan memperhatikan perasaan dan pendapatnya, apakah ia akan tersinggung atau tidak, apakah dia akan setuju atau tidak, apakah dia akan marah, dsb. Hal tersebut membuat kita akan memilih kalimat/kata yang sesuai, bukan? Sama halnya ketika bicara dengan anak. Kita menyesuaikan pilihan kata, intonasi suara, eye-level yang sesuai dengannya. Kita bicara dengan bahasa yang sopan (kadang perlu tegas namun tetap sopan), bergantian berbicara, dan menggunakan bahasa yang benar.

Penggunaan bahasa yang benar ini perlu saya tekankan deh. Banyak orang dewasa masih bicara dengan style “baby talk” kepada bayinya. Iya sih, emang lucu dan masih bayi kan biasa seperti itu. Tapi menurut saya, itu adalah hal tidak respect kepada bayi. Meskipun masih kecil, bayi adalah pribadi, manusia yang utuh juga seperti kakak, abang, dan orangtuanya. Sehingga perlu memperlakukan bayi dengan benar saat mengajaknya bicara. Satu lagi, kadang ada orangtua yang tabu menyebut sistem reproduksi manusia, karena dianggap masih kecil dan tidak pantas. Misalnya menyebut “burung” daripada penis, atau “nganu” daripada vagina. Kenapa tidak menggunakan kata yang benar saja dari awal? Bukankah nanti saatnya juga akan tiba kita menjelaskan hal tersebut lebih mendalam kepada anak?

Kebebasan dalam batasan berarti bahwa anak diberikan kebebasan untuk bereksplorasi dengan memperhatikan aturan-aturan yang berlaku. Bebas menggunakan material tetapi wajib mengembalikan ke tempatnya. Bebas bermain tetapi menghargai area kerja orang lain (tidak berebut, antre menggunakan material). Di rumah, aplikasi freedom within limits diramu dalam bentuk house rules. Misalnya, bebas makan cemilan yang tersedia, asal makan di meja makan, tidak sambil bermain/berjalan-jalan; merapikan tempat tidur/ mainan setelah digunakan; boleh menggunakan kamar mandi/toilet kapan saja secara mandiri asal tidak lupa flush toilet dan mencuci tangan dengan sabun. Filosofi Montessori ini juga berlaku dalam pengasuhan lho, contohnya yang terkait dengan regulasi emosi. Anak-anak yang lebih kecil biasanya belum dapat mengkomunikasikan kebutuhan/keinginan sehingga yang terjadi adalah merengek sampai tantrum. Bagaimana filosofi Montessori ini diterapkan? Anak bebas mengekspresikan emosi, karna semua emosi adalah valid. Meskipun begitu, tidak semua perilaku diterima. Boleh sedih, marah, kesal tetapi tidak boleh memukul, melempar barang, atau menyakiti diri sendiri. Cukup menggambarkan nggak kira-kira?  Tipsnya untuk hal ini dipostingan terpisah ya entar, hehehe.

Wah, panjang juga tulisan tentang prinsip dasar Montessori ini. Padahal tadinya hanya mau bikin poin-poin kecil. Tulisan sederhana ini adalah sekadar share, bukan judgment terhadap metode pengasuhan anak atau pendidikan lainnya. Semoga bermanfaat bagi temen-temen yang mau memulai Montessori di rumah 🙂

12 Comments

  1. Wah makasih nih kak untuk prinsipnya, nice post

  2. Saat usia anak saya setahun, saya juga mulai mencari berbagai informasi tentang ilmu pengasuhan anak, termasuk Montessori ini.
    Salah satu yg saya ingat dalam mengajarkan anak bicara. Betul, jangan dicadel-cadel. Mamam, misalnya, saya langsung ajarkan kata makan. Begitu juga dengan nama alat reproduksi.

    Hasilnya, Alhamdulillah anak lancar bicara, ga cadel apalagi kaku (sementara ada teman sepantaran anak bicaranya jadi ga jelas. Hanya dimengerti oleh keluarga saja) seperti ari yu… Kita mana ngerti apa maksudnya. Tapi keluarga mereka tahu, maksudnya lari yu.
    Anak saya mah jelas langsung ngomong lari yuk Bu. Semua ngerti… Hehehe

  3. saya udah lama mendengar tentang montessori ini mbak, bahkan katanya beberapa sekolah mengadaptasi ke dalam kegiatan belajar mengajarnya ya mbak? tapi belum benar-benar paham sih ttg montessori ini 🙂 makanya bersyukur di jelaskan di sini

  4. Dulu taunya ada sekolah Montessori gitu. Kalo sekarang kita bisa terapkan sendiri konsep belajar montessori di rumah ya

  5. Metodenya bagus, ortu & anak tumbuh bersama, belajar bersama, bermain bersama.

  6. Ternyata banyak yang harus dipersiapkan ya, kadang aku merasa metode ini mengajak untuk perfect

  7. terima kasih yah mba sharingnya dibuat singkat ini, tapi memang harus dipelajari prinsip awalnya sih, aku pengalaman langsung ajar anak2 metodenya pas jalan tengah sempat pusing karena gak tau landasannya, dan seketika langsung back to awal lagi pelajari..

  8. Jadi tahu tentang Montessori mbak….sangat membantu tumbuh kembang anak ya….anak bisa bermain sambil belajar tanpa paksaan dan tekanan.

  9. Ternyata cakupan metode montessori ini luas yaa…
    Aku pikir dulu hanya sebatas “Belajar dengan real” maksudnya, kalau 1 + 4 yaa..pakai konsep yang jelas.
    Ada 1 pompom dan 4 pompom, jadi semuanya berapa…
    Belajar montessori ambil rujukan dari buku apa, kak?

    1. Aku ambil diploma kak, di Sunshine Teacher Training

  10. Jadi Montessori ini memang penekanannya lebih kepada appearence anak sebagai satu individu utuh ya. Dia akan berkembang sesuai dengan tahapan alaminya. Orangtua hanya mendampingi dan memberikan kesempatan anak untuk berkembang.

  11. Helena

    Aku ga sepenuhnya menerapkan montessori pada pengasuhan di keluarga tapi beberapa hal ku terapkan. Aku setuju dengan prinsip dan filosofi montessori yang begitu menghargai anak, memberikan kesempatan anak untuk mencoba melakukan sesuatu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *