[Review Buku] Good Bye, Things

by | May 18, 2019 | Book, Review | 32 comments

Informasi Buku

Judul : Goodbye, Things On Minimalist Living

Penulis: Fumio Sasaki

Penerbit: Penguin Books

Bahasa: Inggris

ISBN: 978-0-141-98638-8

Tahun Publikasi : 2017

Jumlah Halaman : 259 halaman

Buku ini dibeli di Periplus

Tentang Buku Ini

There is happiness in having less 

Fumio Sasaki, seorang editor, membenahi hidupnya dengan terlebih dahulu membenahi barang-barang kepunyaannya. Ia adalah orang yang hidup dengan banyak barang di apartemen tempat tinggalnya. Hal ini dikarenakan ia meyakini bahwa dengan memiliki barang-barang tersebut akan membuatnya lebih percaya diri dan menjadikannya lebih bahagia. Uang menjadi sumber kebahagiaan, karena dengan uang bisa memiliki banyak barang. Bukannya merasa bahagia, Sasaki justru merasa nelangsa. Ia masih tetap membandingkan diri dengan orang lain yang punya lebih banyak barang dan merasa masih berkekurangan, tidak bahagia.

Dalam buku ini, Sasaki memaparkan 55 tips (dan 15 ekstra tips) untuk membenahi barang-barang (declutter), untuk hidup lebih minimal. Terlebih dahulu ia menegaskan bahwa defisini minimalis bagi setiap orang berbeda sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing orang. Tidak ada yang benar atau salah dalam minimalism. Intinya hanya satu, bahwa yang menganut paham ini adalah mereka yang benar-benar menggunakan benda-benda yang esensial dalam kesehariannya, tidak berlebih-lebihan. Selain tips, Sasaki juga tentunya menceritakan apa manfaat yang dirasakannya setelah menjalani pola hidup minimal dengan cara yang sederhana.

Meskipun berbahasa Inggris, buku ini ringan dan mudah dipahami. Lebih lagi karena tips yang disampaikan tampil dalam bentuk poin, sehingga mudah diingat. Tidak ada teknik khusus, seperti cara melipat pakaian atau menyusun barang, seperti Marie Kondo. Ini menjadikan buku ini lebih sebagai refleksi bagi pembacanya dalam menerapkan pola hidup minimalis. Salah satu yang paling membekas bagi saya adalah dengan menjadi minimalis memberikan waktu yang lebih banyak untuk menikmati hidup here and now, tidak lagi membandingkan diri dengan orang lain, dan menjadi lebih bersyukur atas hidupnya. Singkatnya, hal-hal inilah yang membuat Sasaki menjadi lebih bahagia dari sebelumnya.

Menurut Saya

Semua kembali pada definisi masing-masing orang. Setelah membaca buku ini, saya merasa tidak pas kalau hanya memiliki beberapa lembar baju saja. Saya juga bukan penganut warna baju yang seragam dengan tone yang hampir sama semua -seperti putih, abu-abu, hitam- layaknya kebanyakan minimalis menampilkan diri. Bagi saya, minimalism adalah gaya hidup tidak berlebih-lebihan, menggunakan barang secukupnya dan sesuai fungsi. Misalnya menggunakan apa yang ada selama masih bisa digunakan, tidak boros membeli barang-barang yang belum/tidak perlu, memiliki secukupnya barang untuk dipakai. Dengan kondisi saya juga telah berumahtangga, tentu saja harus memikirkan anak dan suami dengan kebutuhan barang mereka masing-masing. Misalnya untuk anak saya yang masih 20 bulan, tentu saya harus sedia banyak baju dan celana sebagai persediaan cadangan mengingat saya tidak memakaikannya pospak selama di rumah.

Nah, ada beberapa tips yang saya tandai dari buku, karena perlu saya maksimalkan lagi untuk sehari-hari:

  • Differentiate between things you want and things you need. Sebetulnya ini gampang-gampang susah bagi saya. Dalam sehari-hari sebelum memiliki barang, saya selalu menilai berdasarkan fungsinya. Apakah ini nanti akan dipakai konsisten, apakah nanti bisa tahan lama, apakah kalau dijual lagi masih punya nilai, dsb. Misalnya dulu, mau beli diaper bag untuk Sola, wah banyak sekali merk yang saya bandingan. Belum lagi saya tanya pendapat ke suami, teman, dan adik saya. Nah, yang susah ini urusan skincare. Lebih bagus menunggu sampai item tersebut habis digunakan baru membeli yang baru. Tas juga. Kalau masih bagus ya jangan tergoda belanja, cukup hanya dilihat-lihat saja dulu, hehehe. Tapi, saya masih sangat sulit menahan diri kalau urusannya dengan buku 🙁 

 

  • Rent what can be rented. Sekarang sudah banyak ya jasa sewa di kota-kota besar. Salah satu yang saya manfaatkan adalah sewa mainan anak. Kalau dipikir-pikir sebenarnya ini menguntungkan. Anak yang mudah bosan bisa bermain dengan banyak mainan berbeda-beda. Tidak ada mainan yang menjadi “sampah” hanya disimpan di gudang pada akhirnya. Tidak perlu usaha ekstra untuk membersihkan mainan-mainan tersebut. Tidak hanya mainan, sekarang juga ada sewa baby box, breastpump, sampai stroller untuk anak. Dan, sewa carrier (gendongan) juga tersedia di komunitas menggendong!

 

  • One In One Out. Ini masih menjadi catatan untuk saya terapkan lebih maksimal. Sejauh ini, prinsip ini baru berlaku untuk gendongan. Sejak tertarik dengan babywearing, saya sudah membeli 3 carrier. Kalau ada 1 carrier baru, berarti 1 carrier lama harus dikeluarkan (dijual). Semoga kedepannya bisa diterapkan juga untuk barang-barang lain.

 

  • Don’t buy things because it’s cheap. Don’t take it because it’s free. Hati-hati kalau sedang belanja dan menemukan promosi barang dengan harga murah. Insting ibu-ibu biasanya langsung ingin membeli meskipun barang tersebut belum perlu. Ah, ntar kepake kok, beli aja dulu mumpung diskon. Dulu saya paling gampang tergoda dengan diskon, tapi setelah dipikir-pikir diskon ini kan nanti akan berulang. Dan kalau saya beli banyak barang belum tentu habis dipakai semua, malahan bisa menjadi sampah tak terpakai.

  • Mindful Shopping. Ini ga ada di buku ya, hanya saja tips-tips dari Sasaki bisa merujuk ke belanja berkesadaran menurut saya. Misalnya kita lagi ke mall berencana beli rok tutu warna hitam lalu ketemu promosi “Beli 3 gratis 1”, apakah lantas kita akan beli 3 rok tutu? Atau kalau belanja di toko tertentu, nominal belanja sudah mencapai Rp 450.000 lalu kita ditawarkan “nambah Rp 50.000 lagi saja Mbak, nanti bisa dapat bonus ini“. Apakah akan kita bayar tambahan Rp 50.000 itu? Barang bertambah, uang yang dikeluarkan juga bertambah, padahal mungkin belum tentu kita butuhkan.  

Minimalism is reducing our necessary item to minimum. Doing away with excess so we can focus on things that are truly important.

Tidak ada standar baku menjadi seorang minimalis. Setiap orang memiliki definisi dan cara yang berbeda-beda dalam menjalankannya. Oleh karena itu, gaya hidup minimal bukanlah sebuah kompetisi. Menjadi minimalis juga bukan tujuan akhir, ini adalah sebuah proses yang perlahan-lahan menjadikan seseorang lebih berkesadaran akan hidupnya, dan (mudah-mudahan) menjadikannya lebih bahagia. 

Rating (3.5/5)
3.5/5

You May Also Like

Review Buku Atomic Habits

Review Buku Atomic Habits

Judul Buku : Atomic Habits, An Easy & Proven Way to Build Good Habits & Break Bad Ones Penulis : James Clear Tahun terbit 2018 Penerbit : Penguin Random House LLC, New York Salah satu buku yang sedang naik daun belakangan ini mencuri perhatian saya. Segera...

Review ASUS ROG Phone 3 The Ultimate Winner

Review ASUS ROG Phone 3 The Ultimate Winner

Salah satu cara jitu untuk menghilangkan stres atau rasa bosan adalah bermain game di ponsel. Beragam permainan dapat kita unduh dari aplikasi dan mudah saja memainkannya di ponsel pribadi. Coba deh sebutkan beberapa game yang sering kamu mainkan? 🙂 Ponsel...

32 Comments

    • Helena Magdalena

      belajar cas cis cus bang…siapa tau nanti diajak collab sama native wakakakakaka

      Reply
  1. Ratna Kirana

    Aku juga punya buku ini. Menarik banget, bacanya rebutan sama suamiku dulu2an hehehe.. Tapi memang susah dipraktekkah wkwkwk..

    Reply
  2. Euisry Noor

    Menarik nih bukunya. Aku penasaran pengen baca seputar minimalisme. Kepengen baca Marie Kondo jg belum nih

    Reply
  3. Isti Adzah Rohyati

    Makasih mbak review-nya. Buatku ini mirip2 KonMari ya, tapi lebih mudah diterapkan sepertinya. Sekarang aku udah mulai bisa ngontrol kalau belanja pas lagi ada promo2 beli 2 gratis 1 gitu. Kecuali, aku memang pakai/makanin itu selalu. Kayak nori, biasanya seminggu jatahnya beli 1 pack. Tapi karena ada promo, aku bisa beli 2 dan diniatkan buat minggu depannya. Jadi mayan minggu depannya aku ga perlu beli nori lagi. Tapi kalau seperti rok tutu yg mbak sebutkan, aku masih bisa nahan diri insyaAllah. Mudah2an. 😀

    Yang susah itu, dont buy things because it’s cheap, or dont take it because it’s free. DUH. Kalau dapat gratis kenapa enggak kan? Ini yang bikin aku galau. :(((

    Reply
    • Helena Magdalena

      Hahaha iya rok tutu contoh ekstrim yah…mana ada juga yang mau beli 3 warna item pula. hehehe. Yang manapun tergantung kita kok mbak, enjoy aza pelan2 🙂

      Reply
  4. Arda Sitepu

    Ulasan ini keren banget, dan gw merasa masih boros banget dan belum mencapai minimalis. Ternyata hidup minimalis itu indah dan tentunya tips-tips di atas kena banget di gw. Ntar, perlahan gw mau praktikkan dan semoga berhasil YES 🙂
    Thanks Reviewnya le, gw tunggu book review berikutnya.

    Reply
    • Helena Magdalena

      Thank you so much, Neni! Semoga sukses prakteknya 🙂

      Reply
  5. Elly Nurul

    Mmm.. akupun termasuk yang ngga cenderung menggunakan warna baju yang hanya dua warna seperti hitam putih, tapi memang warna warna basic bagi aku perlu juga punya.. kalo profesi aku sekarang menuntuk untuk memiliki bahwa warna baju.. kalo event sering ada dress code yang berbeda beda hehe

    Reply
  6. Okti Li

    Segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik. Benar kata Mbak yg penting proporsional dan sesuai dengan fungsinya ya

    Reply
  7. Rohyati Sofjan

    Gaya hidup minimalis itu baik untuk diterapkan. Saya juga termasuk jenis orang yang mudah tergoda untuk beli barang yang ada promo kayak beli 2 gratis 1, atau beli 1 gratis 1, atau ada hadiah tambahan. Tapi benar-benar dibutuhkan dan akan dipakai atau dimakan.
    Kalau mubazir, saya akan nyesel. Buku itu benar-benar refleksi bagi kita agar ingat.

    Reply
  8. lendyagasshi

    Aku baca yang Indonesian verse nyaa…
    Suka banget…karena gak pake aturan baku itu loo…
    Jadi kita bener-bener bahagia saat decluttering our things.

    Reply
  9. Donna Imelda

    aihhhh, bacaan kita sama banget. Buku ini juga baru aku mau baca dipinjamin keponakan aku. Kebetulan kami sama-sama lagi menerapkan prinsip2 hidup minimalis. Buku ini semacam penambah referensi setelah baca buku metode Konmari. jadi merasa cocok banget hidup dengan gaya minimalis, cuma masih jadi pe er aja gimana mereduksi barang-barang di rumah yang terlanjur banyak begini, terutama pakaian dan buku

    Reply
  10. iidYanie

    Bukunya rekomended nih pas banget buat inspirasi gaya hidup minimalis mengajak kita buat hidup berhemat, mudah2 an ada terjemahannya saya penasaran mau baca 🙂

    Reply
  11. Indah Nuria

    I will definitely need this book. It’s been ages that I really want to declutter my stuff.. but believe me, it takes big guts to say goodbye to those stuff :))

    Reply
  12. Jiah

    Aku kalau dibilang heboh ya biasa, tapi enggak minimalis banget soal baju. Cuma memang gak banyak, secukupnya aja. Blm pernah jual2 baju juga karena bajuku gak mahal2 banget. Gak dipakai ya dikasih orang

    Reply
  13. Ujame Gaja

    Kayanya ini first time-nya Ujame deh ke blog mba. Reviewnya bagus bangeeeet mbak, menarik! Jadi pengen baca juga.

    Alhamdulillahnya Ujame gak gampang tergoda belanja. Pantang beli baru kalo yang lama masih berguna dan layak pakai hihi. Thank you ya mba, reviewnya!!!

    Reply
    • Helena Magdalena

      Hihihi iya mbakk baru ini kayaknya mampir :p makasih mbak

      Reply
  14. Hidayah Sulistyowati

    Aku bisa mengurangi beli bajuk, tapi kalo untuk buku… aku gak mampu menolaknya. MAsih suka nimbun buku, apalagi kalo ada diskon dan buku idaman ada dalam list, huwaaa

    Reply
  15. Kurnia amelia

    Aku lagi mencoba meminimalisir barang2 yang ada dirumah nih terutama baju, rasanya biar lebih lega aja gitu liatnya. Tapi kadang kalau pas misahin baju gitu suka sayang aahhh ini masih bagus atau ahh ini kayaknya cocok nanti buat si kakak akhireee maju mundur deh buangwin barang.

    Reply
  16. Farida Pane

    Kalaupun gratisan ga otomatis diambil, ya? Kenapa? Kadang cuma menuh2in tempat gitu kali, ya?

    Reply
  17. Rahmah

    Saya sudah punya buku ini
    Sudah baca juga
    Seketika saya bergumam, orang Jepang meminimalkan barangnya karena salah satu faktor rapi.
    Padahal dalam agama Islam memang sebaiknya begitu karena mengurangi juga beban di akhirat saat hisab harta benda.

    Reply
  18. Sri Widiyastuti

    Pengen baca jadinya, ini aku juga bingung mau beresin rumah, mulai darimana ya, kayaknya asyik baca ini sebab banyak gambarnya , bisa ambil inspirasi dari gambar gambarnya

    Reply
  19. Ida

    Wah ini moral ceritanya bagus nih…nyambung ke beli barang sesuai kebutuhan bukan keinginan…

    Reply
  20. Yoanna Fayza

    Mau banget buku ini. Saya lagi berjuang mengeluarkan barang-barang di rumah yang ngga dibutuhkan lagi, tapi masih sering terbentur sama mama yang hobi nyimpen barang, siapa tau kalau dikasih buku ini pikiran mama isa berubah 🙂

    Reply
  21. Zia

    Wah, ini kece banget reviewnya. Jadi pengen baca karya Fumio Sasaki. Dari beberapa poin, yang “Don’t buy things because it’s cheap. Don’t take it because it’s free” ini jleb banget, karna problem emak-emak ada di sini. Wkwkwkwk Thanks ya jadi terispirasi cari rekomendasi buku ini.

    Reply
  22. April Hamsa

    Wah iya mau cari buku ini kmrn kelupaan judul sama pengarangnya. Abisnya lupa liat buku ini di postingan sapa gtu, ternyata postinganmu. Mau hidup minimalis jg gk terlalu banyak barang huhuhu. Moga bisa kupraktikkan dengan baik

    Reply
  23. April Hamsa

    Eh ya ampun aku td mikir ini postingan Mama Sid, Helena Mantra wkwkkwk tenruata postingan mbak Helena satunya

    Reply
  24. Helena

    Mbak, kalau dibanding Konmari Cara decluttering ini gimana? Sama atau ada perbedaan? Aku sendiri suka less is more.

    Reply
  25. Iqbal

    Buat saya ini buku yang bahkan lebih life-changing dari buku Marie Kondo. Yang saya suka dari Fumio Sasaki adalah dia orang biasa yg merasa hidupnya pernah berantakan dan perlu perubahan, terasa membumi. Bahkan ketika dia terkenal pun dia tetap terkesan merendah.

    Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest

Share This