Parenting Tips : Saat Kakak Punya Adik Baru

by | Dec 19, 2020 | Family & Parenting | 50 comments

Menantikan kelahiran anak tentunya menjadi momen yang penuh dengan antusiasme bagi para orangtua. Saya masih ingat betul bagaimana perasaan kami yang campur aduk saat tahu hamil anak pertama. Penantian selama hampir tiga tahun dengan program kehamilan yang luar biasa kami alami. Tidak hanya bahagia, terharu, dan penuh syukur tetapi juga cemas dan takut. Hal yang wajar dialami calon orangtua baru, namanya juga mau punya anak pertama. Bagaimana dengan anak kedua, ketiga, dan selanjutnya. Apakah masih sama? 

Kehamilan anak kedua masih antusias, tentu saja. Tapi sepertinya kadarnya tidak seperti yang pertama. Sejujurnya, waktu tahu hamil anak kedua saya sedang menyelesaikan Diploma saya di Sunshine Teacher’s Training dan berencana bekerja sebagai guru. Namun hal itu buyar seketika karena saya cukup sadar diri. Kalau saya kewalahan antara pekerjaan, urusan rumah, dan anak takutnya nanti saya malah uring-uringan sendiri. Jadi, sebaiknya ditunda saja dulu. Akhirnya sampai sekarang saya kembali menjalani hari-hari sebagai ibu rumah tangga di rumah. Bedanya, sekarang anaknya dua dan ilmu diploma-nya dipakai untuk anak sendiri.

Bicara soal anak, berbeda sekali rasanya saat masih beranak satu dan sekarang dua. Ternyata saya tidak sendiri. Penelusuran saya di theasianparent menemukan artikel tentang perbedaan kebiasan saat memiliki anak pertama dan kedua membuat saya senyum-senyum sendiri sambil mengiyakan dalam hati.  Kehadiran anak  kedua sudah cukup membuat perubahan besar bagi orangtua, yang saya tahu juga berdampak kepada kakaknya. Nah, yang  saya share berikut ini adalah pengalaman kami dan tips untuk membantu anak pertama kami siap dengan kehadiran adiknya.

Kedatangan Adik Baru

Kehadiran anak merupakan kejadian besar dalam sebuah keluarga. Tidak hanya sekadar menambah jumlah anggota keluarga di KK, tetapi juga mengubah seluruh kehidupan anggota didalamnya, termasuk si Kakak. Bagi orang dewasa, tentunya sudah lebih mampu dalam menyikapi perubahan. Misalnya saja saya, yang secara sadar mengubah pola makan dan istirahat supaya bisa menunjang kehamilan yang sehat. Suami juga turut fokus menambah investasi untuk keperluan anak kedua di masa depan, termasuk kebutuhan jangka pendek seperti biaya konsultasi ke dokter, melahirkan, imunisasi anak, dll.

Bagaimana dengan si Kakak?

“Coba bayangkan, suatu saat pasangan kamu mengatakan ia sangat mencintaimu dan pulang membawa pasangan baru, sebagai tambahan untuk dicintai juga. Ia akan berbagi kamar, berbagi barang-barang, berbagi pakaian, dan lainnya.”

Saya rasa jika hal ini terjadi maka respon yang umum terjadi adalah marah dan cemburu.

Bisa dibayangkan jika anak –individu yang bahkan belum bisa meregulasi emosinya- dihadapkan pada situasi kedatangan adik baru. Putri saya sendiri mengalaminya. Tadinya sudah bisa toilet training, tahu-tahu kembali mengompol di celana. Yang tadinya sudah bisa makan sendiri, mendadak ingin disuapi lagi. Tidak jarang juga mencari perhatian di saat saya sedang fokus memandikan/menyuapi makan si adik. Cara mencari perhatian ini juga bervariasi, mulai dari sibuk mengganggu sampai berteriak jika saya tidak merespon. Iya, rasamya masih sulit buat dia. Disini saya merasa perlu lebih berempati kepada si Kakak. Sikap dan perilakunya yang mungkin terkesan “menyulitkan” saya mungkin sebenarnya adalah ungkapan kesulitannya yang tidak bisa disampaikan secara lisan.

Tips untuk Orangtua

Tentu kami tidak tinggal diam. Sola, putri kami, perlahan harus belajar beradaptasi dengan adik baru dan perubahan yang menyertainya. Yang perlu dicatat adalah biarkan prosesnya berjalan dengan lembut, bukan memaksakan anak. Karena apapun yang terpaksa pasti tidak bagus hasilnya. Ya kan? Beberapa tips yang saya dan suami lakukan, diantaranya sebagai berikut:

Terus menerus sounding akan kehadiran anggota baru dalam beberapa bulan ke depan

Saya mulai dengan memberitahukan kehamilan saya kepada si Kakak. Kemudian saya ajak dia ikut kontrol ke dokter kandungan, melihat scan usg saat diperiksa dokter, melihat hasil cetak foto usg adiknya. Di banyak kesempatan lain di rumah, kami bisa membaca buku yang temanya tentang kedatangan adik baru, merawat adik kecil, bermain dengan adik, dsb. Berbincang-bincang juga kami lakukan sambil mengelus perut gendut saya. Intinya, apapun yang membangun awareness-nya akan kedatangan anggota baru kelak.

Melatih kemandirian si Kakak

Sebelum adiknya lahir, saya banyak melatih Sola agar dapat lebih mandiri. Hal itu akan menjadi efisien bagi saya, sekaligus menyibukkan Sola dan mengajarkannya kemandirian. Banyak-banyaklah melatih keterampilan anak seperti toilet training, memakai celana sendiri, memakai sepatu/sendal sendiri, menyisir rambut sendiri, makan dan minum sendiri. Saya juga menyediakan alat-alat yang menunjang hal tersebut, seperti : memberikan pijakan kaki di toilet duduk supaya Sola mudah naik ke dudukan toilet, meletakkan shower gun di lantai (dan gayung) untuk memudahkanya saat membasuh/membersihkan bekas buang air kecil. Di area dapur, saya letakkan learning tower, sehingga Sola dapat mengakses rak piring dan wastafel dengan mudah. Memastikan barang-barang lain berada di tempatnya juga memudahkan Sola mengingat dimana benda tsb berada dan membantunya mengakses secara mandiri tanpa perlu meminta bantuan saya. Dia tahu dimana mengambil sendal/sepatu saat hendak keluar rumah. Dia tahu dimana buku-bukunya jika ingin membaca, dia tahu dimana alat gambar/buku gambar jika ingin menggambar, dll.

Secara tidak langsung, kemandirian si Kakak juga membantu saya untuk lebih mudah menghadapi tuntutan dua anak. Namun perlu diingat bahwa di awal kelahiran adiknya, hampir semua keterampilan ini “mundur”. Jadi, berikan kesempatan anak untuk beradaptasi dan kembali mengingatkannya dengan perlahan-lahan. Sabar adalah koentji 🙂 

Perhatikan rutinitas

Yang paling berbeda saat kelahiran adiknya adalah RUTINITAS. Pada balita, perubahan rutinitas dapat membuat mereka rentan tantrum. Mengapa? Karena mereka jadi tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi dan itu membuat mereka tidak nyaman. Selain itu, dengan memperhatikan rutinitas yang tidak berubah (terlalu) drastis setidaknya bisa membuat seakan-akan bahwa perubahan yang sedang terjadi ini bukan karena kehadiran si adik. Misalnya, kalau Sola terbiasa dibacakan buku oleh saya, saya menyiasatinya dengan tetap membacakan buku sambil menyusui adik. Atau ketika rutinitas pagi, Sola saya temani bermain sambil belajar, ya saya tetap lakukan itu dengan adiknya di pangkuan saya. Untungnya, suami tipe yang sangat mau terlibat mengurus anak. Jadi meskipun adaptasi ini terasa berat, saya terbantu sekali.

Libatkan anak dalam perawatan adiknya

Anak-anak suka sekali bekerja, kan? Seperti halnya dia suka pura-pura menyuapi boneka atau ikut menggendong boneka seperti saya menggendong dia dan adiknya. Jadi, ini saya manfaatkan untuk sekalian saja melibatkan si Kakak dalam perawatan adiknya. Kalau adiknya pipis, saya tugaskan dia untuk mengambil popok/celana baru. Kalau adiknya mau mandi, saya minta dia ambilkan handuk dan minyak kelapa. Nah, kalau saya yang mandi, saya minta dia menemani adik (dan bonekanya) di box. Instruksinya tentu yang lucu-lucu ya, misalnya saya panggil dia “mami kecil”, “ibu RT”, “miss” atau apalah yang lucu dan dia senangi.

Miliki waktu berkualitas berdua

Jadi, saya usahakan punya waktu yang berkualitas saat bersama dia: ketika membacakan buku, ketika menemani bermain, ketika menjawab pertanyaannya saat nonton televisi. Hanya perlu meletakkan ponsel sebentar saja, supaya tidak terpecah fokus dengan notifikasi media sosial atau troli belanjaan di marketplace, hehehe. Ah, saya juga bilang “mami sayang Sola, always” karena cinta itu juga perlu disampaikan agar ia tahu kehadiran si adik tidak membuat cinta saya berkurang terhadapnya

Mengatur batasan yang jelas terhadap anak

Batas-batas yang jelas membantu anak untuk mengembangkan keteraturan, disiplin, dan tanggung jawab dalam sehari-hari. Yang saya maksud dengan batasan adalah aturan dasar di rumah yang dilakukan dengan konsisten namun tetap lembut. Tidak hanya bermanfaat untuk anak. penerapan batasan ini juga membantu kita para orangtua lebih mudah dalam menyesuaikan diri dan memenuhi kebutuhan dua anak di rumah. Misalnya begini, aturan dasar di rumah adalah bermain bola dilakukan di luar rumah. Anak yang paham dengan aturan ini tidak akan bermain di dalam rumah karena tahu resikonya bermain bola di rumah lebih besar, yaitu bisa memecahkan furniture rumah atau membahayakan adiknya jika terkena lemparan bola. Saat si Kakak sudah mampu mengikuti aturan di rumah, akan lebih mudah bagi orangtua dalam menjalankan hari-hari membersamai balita dan bayi.

Menikmati Proses

Sebagai ibu baru, jujur, semua pengalaman ini cukup melelahkan, apalagi kami jarang mendapat bantuan saudara yang bisa baby sitting di rumah. Untungnya, saya masih dibantu oleh asisten yang pulang pergi untuk urusan bersih-bersih rumah, mencuci, menyeterika sehingga beban agak berkurang. Memiliki bayi baru membuat saya harus bisa membagi perhatian saya untuk dua anak tanpa membuat salah satunya merasa terabaikan. Meskipun kelihatannya berat, tapi dengan menikmati setiap prosesnya ada banyak hal yang bisa saya syukuri juga. Punya adik baru kelihatannya menyenangkan untuk Sola, kami merasa lebih “kaya” dengan bertambahnya adik kecil, dan suasana hari-hari kami yang semakin berwarna meskipun masih di rumah saja. Untuk ibu-ibu yang sedang menantikan anak kedua, atau yang sedang membersamai dua anak seperti saya, semoga tips ini bermanfaat ya!

You May Also Like

Review Hipseat i-Angel Carrier

Review Hipseat i-Angel Carrier

Salah satu kegalauan saya waktu mau kedatangan si kakak adalah perihal menggendong. Pakai gendongan apa yang cocok, bagaimana cara menggendong yang benar, dan lain-lainnya. Kalau jaman orangtua kita ya gendong pake jarik aja, selesai. Tetapi semakin kesini kan makin...

Let’s Read to Our Kids, 8 Tips Membacakan Buku

Let’s Read to Our Kids, 8 Tips Membacakan Buku

Halo semuanya,Setelah beberapa waktu akhirnya bisa kembali menulis di blog. Maklumlah, harus mengatur waktu mengurus bayi, si kakak, dan urusan rumah. Meskipun banyak penyesuaian di rumah karena kehadiran anggota keluarga baru, saya tetap semangat menulis....

50 Comments

  1. Diah

    Selamat ya, bunda dan kakak. Wah, pengalaman luar biasa mendidik putra-putri, berapapun jumlahnya tetap berkesan.

    Terima kasih tipsnya. Saya rasa ilmu parenting seperti ini perlu diketahui calon pasangan suami istri. Bagaimanapun kehadiran bayi adalah tanggung jawab berdua.

    Dulu saya punya anak kedua saat si sulung berusia 14 bulan. Iya, kesundulan. Mendidik mereka seperti satu paket aja. Hehehe…

    Anak ketiga selisih umurnya 7 tahun dari si nomor dua. Beda lagi cerita mempersiapkan jadi kakaknya.

    Reply
    • Helena Magdalena

      Wah pengalaman Mbak lebih banyak dan lebih berwarna lagi dari saya. Berapapun jumlah anak ttp berkesan yaah. Hehehe

      Reply
  2. Mechta

    Terima kasih sharingnya mba.. Insya Allah bermanfaat nih, terutama utk pembaca yg sedang menyiapkan putera/puterinya utk menyambut adik baru..

    Reply
  3. nurulrahma

    Wihihiii, DRAMA punya adek baru memang kerap menghinggapi nak kanak yaaa
    semogaaa semua sehaaatt, tumbuh kembang optimal.
    siblings saling menyayangi sampaaaaiii tua nanti 😀

    Reply
    • Helena Magdalena

      Amin amin..biar pas kecil bnyk cemburuan tp pas gede lebih akrab ke saudara perempuan daripada ke mamanya *pantauan saya aja sih hahaha

      Reply
  4. Uniek Kaswarganti

    Anakku yg jarak usia lebih dari 5 tahun juga masih tetap ada rasa cemburu pada si kakak. Hanya saja munculnya ketika adiknya sudah berusia 2 tahunan, di saat si adik sudah mulai naik egonya dan ngerebutin barang-barang kakaknya. :))

    Reply
    • Helena Magdalena

      Cemburu2an anak2 tuh gemesin tp agak nyebelin apalagi kl rebutan mainan.wkwkwk

      Reply
  5. Cindy Vania

    Selamat ya mbaaa atas kelahirannya. Semoga anak2 akur terus dan ga perlu ngalamin sibling rivalry pas agak gedean 🙂
    Semangaaatt

    Reply
      • Rach Alida

        Halo mba. Sepakat deh kalau memang harus sounding ke anak bahwa dia akan ada adik. Dan satu sisi aku dulu ajak kakak untuk beli keperluan adiknya

        Reply
  6. Rach Alida

    Selamat ya mba. Tak mudah menurutku memang mengajarkan seorang adik kepada kakaknya. Saya sendiri aja sempat menolak kehadiran adik dulu. Hahaha. Tapi alhamdulillah anakku menerima dengan baik adiknya 🙂
    Sehat selalu mba

    Reply
    • Helena Magdalena

      Alhamdulilah ya mbak 🙂 semuanya jalanin proses aja ya mbak perlahan pasti si kakak bs nyesuain diri dg situasi baru

      Reply
  7. winda - dajourneys.com

    kok gemes liat foto adek melet2 gitu hahaaa saya pernah punya keinginan punya anak kedua mbak, tapi ga yakin bisa adil dan ngasih perhatian dan waktu yang cukup buat keduanya, makanya sampai sekarang masih satu mbak, kebanyakan mikir hahaaa

    Reply
    • Winda - dajourneys.com

      Btw selamat buat kelahiran anak kedua nya ya mbak, semoga sehat2 dan akur selalu samapi deasa nanti

      Reply
    • Helena Magdalena

      Hahahaha si dede emang lg demen melet2…iy pertimbangan kapasitas diri juga harus dipikirkan ya, krn kita jg yg akan ngurus mereka jd harus sesuai dgn pribadi masing2

      Reply
  8. Reyne Raea

    Aaahhh kiyuttt banget sih nak anak cantik ini :*
    Lucu ya punya anak ciwi-ciwi, meski kebayang banget tuh tantangannya punya adik di usia segitu ya.
    Anak saya usia 7 tahun baru punya adik, itupun capernyaaa minta ampun, dan kadang dia semacam kesal dengana diknya, maklum kelamaan jadi anak tunggal hahaha

    Reply
    • Diah

      Sesama ibu dari anak-anak laki, rasanya lihat bayi perempuan gini so amazing.

      Reply
  9. Andiyani Achmad

    wah jadi kebayang kalo nanti anakku satu-satunya mendadak punya adik gimana ya sikap dan cara menerima keberadaan adiknya

    Reply
    • Uniek Kaswarganti

      Kalau udah besar Insya Allah lebih siap untuk berbagi mama dengan adiknya ya. Asal sejak dini dikondisikan untuk biasa melakukan beberapa pekerjaan rumah yang ringan sendiri, misal beresin kasur, mainan, menata buku, menyapu dll. Rasa cemburu tetap ada, tapi Insya Allah bisa lebih mudah mengatasinya kalau kita mandirikan dari jauh hari.

      Reply
  10. Dessy Achieriny

    Anakku bedanya 4 tahun Alhamdulilah gak ada drama rebutan mainan karena kakaknya ngalah banget dan seneng punya adik.

    Reply
  11. Bibi Titi Teliti

    Selamat yah Kakak Sola udah punya adik lucu dan gumush hehe
    Memang kakak harus selalu dilibatkan supaya gak terjadi drama dan pertikaian di rumah sih yaaah hehe
    Anak aku jaraknya 4 tahun sih, kadang suka adaaaa aja drama rebutan, biasanya sih remote tv hahaha

    Reply
  12. Keke Naima

    Pengalaman saya pun kakak memang harus dilibatkan bila memiliki adik. Sejauh ini sih mereka akur. Tetapi, kakaknya pernah merasa cemburu juga

    Reply
    • Uniek Kaswarganti

      Pasti yaa.. rasa cemburu tetap ada. Orangtua yang pelan-pelan mengarahkan dan tetap mendampinginya agar tidak merasa tersisih akibat kehadiran adiknya itu.

      Reply
  13. Dana Anjani

    Sebagai anak bungsu, I know how it feels become adek adek yang punya jarak 1 tahun sama kakaknya. Bikin mama dulu rempong ngurusin bayi dua orang yang gak ada akurnya.
    Anyway, thanks for sharing nya ya mbak.

    Reply
    • Helena Magdalena

      Ini bicara dari sisi sbg anak ya mbak ehebeheh…thx mbak ku 🙂

      Reply
  14. Nchie HAnie

    NAh, ujung2nya menikmati sebuah proses adalah kuncinya yaa, dengan tips2 di atas semua akan indah pada masanya.
    Duh si KAka pun jadi seneng punya adek, meski mamaknya lelah. tetep semangat membersamai mereka sewaktu kecil yang ga akan terulang lagi.

    Reply
    • Helena Magdalena

      Betullll….toh semuanya gak akan terus begini..anak2 akan bertumbuh seiring dgn kemampuan adaptasinya. Emaknya aja kudu strong lah hahaha

      Reply
  15. Mellisa

    Biasanya kalau kakak adek beda usia nya sedikit itu yang sulit ya bagi waktunya dan kesiapan kakak. Ternyata penting ya, mempersiapkan si kakak agar lebih siap menerima adik baru bahkan berbulan2 sebelumnya.

    Reply
  16. lendyagasshi

    Menikmati proses.
    Suka banget sama kata-kata ini. Membuat kita sebagai orangtua juga sadar bahwa segala yang kita tanamkan tidak tumbuh dengan instan.
    Namun buah manisnya akan ada ketika anak-anak tumbuh bersama.

    Reply
    • Helena Magdalena

      Iya banget mbak, smua butuh proses dan kl kt yakin pasti semuanya smooth lancar kayak jalan toll deh wkwkwk

      Reply
      • lendyagasshi

        Kalau sang kaka sudah mandiri dan “merasa” dibutuhkan karena selalu dilibatkan dalam mengurus sang adik, in syaa Allah semakin sayang sama sang adik yaa..
        Analoginya bikin serem juga, ternyata… Ketika kita mengaku sayang, tapi pulang ke rumah malah bawa yang baru.
        heuheu….

        Reply
  17. Ratnasari

    Waah selamat yaa Kak atas kelahiran anak keduanya, sehat-sehat selalu buat kakak dan adik akur-akur yaa sampai dewasa 🙂

    Reply
  18. Hani S.

    Menikmati prosesnya adalah cara terbaik, saat Putra keduaku lahir, si Kakak antusias sekali. Hingga tiba saatnya adik kecil yg tadinya cuma pasrah diapa2in, mulai bisa berontak, “protes”, dan sekarang udah bisa bawelin balik kalau Kakaknya ngomel, mulai deh tuh Sang Kakak minta Mamanya buat “balikin Adek ke Perut Mama”, haha. Harus dikasih pengertian pelan2 banget antar keduanya, dan selalu diingatkan kalau mereka berdua kelak akan selalu membutuhkan satu dengan yg lainnya. Punya dua Anak cowok luar biasa deh, puyeng2 bahagia :))

    Reply
  19. Ellyzabeth

    Dulu diceritain mama waktu adikku lahir aku semacam ngeliatin mama lagi gendong adikku dengan muka cemberut. Lalu mama suru papa untuk temenin aku supaya merasa adil dan gak dipilih kasih.

    Reply
  20. Desri Desri

    betul banget mba, kakak ku juga lagi hamil anak kedua, sementara anak pertamanya baru usia 3 tahun dan cemburuan banget.

    Reply
  21. demia

    waa gemes banget siiih, jadi inget dulu juga waktu aku punya adik katanya cemburuan karena ngerasa ada saingan gitu hihihihi

    Reply
  22. Ivonie

    pengalaman pas hamil anak kedua, kakaknya excited banget tiap periksa selalu ikut cuma pas lahir ada kalanya dia seperti cemburu gitu walau udah disounding hihi

    Reply
  23. Suciarti Wahyuningtyas

    Kok gemes banget sih itu lihat pose adiknya, hihihihi… Aku jadi ingat waktu aku masih kecil, kata mamahku waktu ada adikku lahir, aku cenderung cemburu. Tapi sekarang ini anakku selalu nanyain deh “kapan aku punya adik bun?”

    Reply
  24. Sri Al Hidayati

    Waah kalau gini saya juga jadi pengen punya anak lagi, masyaAllah. Jadi ingat Aska seneng banget pas punya adik baru. Makasih mbak tips tipsnya jadi recall lagi

    Reply
  25. Indah Nuria

    Aku juga ingat pengalaman waktu Bo punya adik Obi. Sejak Obi masih di perut Bo sudah kita ajak ngobrol kalau a baby sister is coming dan Bo selalu ikuta bantu persiapkan ini itu untuk adiknya

    Reply
    • indah nuria

      tapi memang normal dan wajar sh kalau ada sibling rivalry.. yang penting tidak berlebihan yaaa

      Reply
  26. nyi Penengah Dewanti

    Seru ya mbak, proses dan menikmati dalam menjalani. Meskipun belum hamil, saya menikmati ceritamu mba dan banyak mengambil pelajaran.
    Semangat dan sehat selalu sekeluarga ya Mba.

    Reply
    • Afifah

      Anak pertama dan kedua pengalamannya bisa berbeda, ya, Mbak. Kadang-kadang kehadiran adik berpotensi membuat kakak iri. Perlu trik tertentu supaya bisa tetap adil dan kakak bisa menerima kehadiran adik, ya.

      Reply
  27. April Hamsa | Parenting Blogger keluargahamsa.com

    Biasanya kakak2 tu pinter2 kok, kyk ada naluri alamiah bahwa mereka akan ada saudara hehe. Tapi emanbg pas hamil kyknya perlu kita sounding bahwa nanti dia akan punya saudara yaa 😀

    Reply
  28. Kartika Nugmalia

    Tantangan banget kala punya anggota baru dalam keluarga sementara si Kakak juga masih terhitung anak-anak ya. Aku ngerasain banget ini mbak. Memmang harus dipersiapkan terutama si kakak supaya lebih excited menyambut adik ya.

    Reply
  29. Bundabiya.com

    iya, mbak, anak pertamaku juga suka kalau dilibatkan. walaupun nggak selalu mau, tetapi rasa penasarannya mudah terpantik dan jadi lebih mengenal adiknya

    Reply
  30. Lily Kanaya

    Kadang lelah tapi melihat sikecil tersenyum aja udah bisa bikin cape as a mom hilang, amazing mom

    Reply
  31. Dian Farida Ismyama

    Aku sedih ga bisa optimal mendampingi anak pertama dan anak kedua ku saat mereka akan punya adik. Terutama yg ke anak pertama, dia bener2 sampai caper dan adik ga boleh sama aku. Mana pas itu masih ldr pula. Untung udah hire pengasuh untuk adik, akibatnya adik yg ngalah

    Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest

Share This