Uncategorized

Tentang Ibu yang Bertumbuh

Beberapa hari yang lalu banyak selebrasi Hari Kesehatan Mental se-dunia. Feed instagram saya penuh dengan live IG, flyer ucapan atau quote yang berkaitan dengan hal tersebut. Jika dulu, kesehatan mental rasa-rasanya tidak pernah saya dengar, kini hal itu semakin nyaring disuarakan. Kesehatan mental perlu diperhatikan oleh setiap orang, apalagi ibu rumah tangga seperti saya. Karena katanya, peran ibu rumah tangga adalah yang paling rentan mengalami stres bahkan sampai depresi. Bener apa bener?

Saya sendiri adalah IRT full timer yang menghabiskan 24 jam sehari bersama anak-anak. Sebagai ibu, saya selalu membersamai anak-anak berikut dengan rengekan, tangisan, keluhan, sekaligus tawa dan kelucuan mereka. Dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu saya hanya berinteraksi langsung dengan anak-anak dan suami. Belum lagi ditambah rutinitas pekerjaan yang sama setiap hari. Lama-lama saya merasa seperti robot. Bangun tidur otomatis langsung menuju dapur menyiapkan bubur MPASI, menyiapkan lauk pauk untuk dimasak, mengurus pakaian kotor dan pakaian bersih untuk diseterika, dan seterusnya. Tanpa pandemi aja sudah berat, apalagi kenyataannya sekarang kita harus membatasi interaksi dengan orang lain. Pergaulan sosial saya pun menjadi sangat terbatas. Kalau dulu setidaknya 2x seminggu bisa menghadiri perkumpulan di gereja dan berinteraksi dengan orang lain. Hal tersebut sudah cukup membuat saya merasa ada beban yang terlepas. Tetapi sekarang? Boro-boro mau kumpul kan. 

Yang kita sudah sama-sama tahu, saat kita merasa letih, emosi pun menjadi tidak stabil. Kita menjadi lebih mudah terpancing dan menjadi marah. Inilah yang menjadi salah satu alasan saya mengikuti salah satu webinar parenting yang dibawakan oleh psikolog Deepika, founder dari The Open Connection. Saya mencintai anak-anak saya, tapi kok belakangan saya mulai gampang terpancing kesal. Dan saat itu terjadi, saya malah semakin menyesali diri kok bisa-bisanya saya kesal sama anak sendiri. Pusing kan?

Polyvagal Theory

Dalam materi webinar, disampaikan bahwa sebenarnya emosi-emosi yang kita alami adalah sesuatu yang wajar. Jika ditilik dari teori mengenai sistem saraf, Polyvagal Theory, manusia berada dalam kondisi sistem saraf yang selalu berpindah-pindah mulai dari sympathetic, dorsal vagus, atau ventral vagus. Pakai contoh aja ya biar lebih gampang.

Pada saat ibu sedang duduk tenang, nonton tv atau membaca buku, beristirahat maka pada saat itu sistem saraf yang bekerja adalah ventral vagus. Disini, ibu rileks dan tenang. Saat anak memanggil dan meminta sesuatu kepada ibu, ibu langsung beranjak dari posisi sebelumnya dan bekerja “oh, anak saya pup harus ke toilet untuk dibersihkan” atau “oh, anak saya nangis karena lapar berarti harus kasih makanan”. Saat itu sistem saraf yang bekerja adalah sympathetic. Ketika anak merengek, ibu mulai terpancing emosi kesal/marah, saat itu juga sistem saraf sympathetic yang berperan. Nah, ini semua bisa berpindah-pindah secara otomatis berulang kali di sepanjang hari

Dorsal vagus adalah ketika ibu freeze (tubuhnya shut down) saat mengalami tekanan dan tidak bisa berfungsi. Mungkin contoh yang paling ekstrem terjadi pada korban pemerkosaan yang tidak mampu melawan. Bukan tidak mau, tetapi pada saat itu sistem sarafnya colapse sehingga tidak bisa berpikir/bertindak untuk melawan.

Deepika menjelaskan, bahwa dalam sehari-hari kita bisa berpindah-pindah state, dimana hal itu adalah normal. Tapi yang menjadi catatan disini adalah jika emosi yang dikeluarkan ibu menjadi terlalu berlebihan sebagai respon dari permintaan anak/suami yang mungkin sebenarnya biasa saja. “Eh, kok bisa ya gue ngamuk sama anak padahal dia cuman minta air putih”, “kok bisa ya tadi marah-marah padahal cuma perkara sepele” dan seterusnya. Lebih jauh, menurut Deepika, saat ada emosi besar yang kita alami, sebenarnya ada inner child kita yang sedang aktif dan perlu diselesaikan.

Emotional Charge : Belajar Mengenal Diri

Tidak ada orang sempurna, begitu pun seorang ibu. Kita hari ini adalah kumpulan diri kita di masa kecil dulu, di hari-hari kemarin. Untuk mengetahui “kenapa sih kok bisa mengalami emosi besar seperti itu, ada perasaan yang meledak-ledak” caranya adalah kembali belajar mengenali diri sendiri

Proses mengenali diri sendiri ini tentu gak mudah. Karena seringkali yang menjadi penghambat adalah lingkungan yang kurang mendukung. Butuh tempat yang aman untuk dapat berproses. Misalnya dengan menulis jurnal, menggambar, atau berbicara pada diri sendiri (dengan rekaman audio). 

Jauuuuhhh sebelum saya berkenalan dengan materi ini ternyata saya sudah duluan melakukan jurnaling. Sangat membantu menurut saya. Apalagi dulu semasa banyak penyesuaian dengan keluarga pihak suami setelah menikah. Menulis adalah cara saya dapat mengungkapkan segala pikiran dan perasaan yang saya alami. Dari tulisan-tulisan tsb, saya bisa menelusuri apa yang sebenarnya saya alami, saya takutkan, saya harapkan, dsb.

Proses menulis menjadi hal melegakan karena tidak ada penghakiman atau penilaian. Semua yang saya pikir dan rasakan, seutuhnya diterima oleh buku jurnal saya. Bisa bayangkan betapa enaknya kalau seandainya saya bisa melakukan hal tsb pada seseorang, tanpa dinilai. Sekarang, saya jadi kembali menyempatkan diri menuliskan isi pikiran dan perasaan saya di jurnal. Dan ini bener-bener jadi “me time” yang menyegarkan buat saya.

Berlatih menjadi mindfulness

Salah satu yang dapat dilakukan ketika sedang dilanda emosi yang besar adalah dengan melakukan GROUNDING EXERCISE. Ini adalah aktivitas yang bisa kita lakukan untuk “kembali” ke masa kini saat kita hilang orientasi karena emosi yang besar tadi. Jadi kita mengembalikan kesadaran diri dan menjadi tenang dengan menggunakan feedback dari tubuh. Inget kan tadi dari teori di atas, tubuh kita merespon emosi yang kita rasakan, jadi ini sekarang dibalik: saat merasa emosi besar, kita berusaha menetralkannya dengan bantuan sikap tubuh, yaitu dengan belly breathing dan butterfly hug.

Cara melakukan belly breathing adalah bernapas dengan perut. Tarik napas artinya perut membesat, buang napas perut mengempis. Kita fokus masuk dan keluarnya udara saat bernapas. Hal ini membantu kita untuk kembali ke masa sekarang dan fokus pada hal yang sedang terjadi, yaitu bernapas. Saat bernapas ada kalanya pikiran kita kesana kemari dan menimbulkan emosi/perasaan tertentu. Tetapi disini kita hanya menerima perasaan tsb, tanpa evaluasi tanpa penilaian apapun. Seiring dengan kita mengembuskan napas keluar, perasaan negatif itu ikut terbuang, seakan kita diingatkan bahwa perasaan/emosi negatif hanyalah sementara -yang nantinya pasti akan hilang.

Insight pribadi : Labellah emosimu dan terima hal itu

Jujur, saya pribadi agak merasa gimana gitu kalau apa-apa dikaitkan dengan inner child. Bahwa ada yang belum selesai di masa kecil dulu sehingga efeknya terasa sekarang saat kita sudah menjadi orangtua. Untuk saat ini, itu pendapat saya. Yang ada dalam pikiran saya, saat orang dewasa mengalami emosi yang besar/meledak kurang lebih sama dengan TANTRUM pada anak. Bagaimana pendekatan saya pada tantrum anak, demikian sebaiknya dilakukan pada diri sendiri. How?

  1. Menamai perasaan tersebut (labelling) – apakah saya sedih, marah, kecewa, takut dsb

2. Menerima perasaan tersebut (acknowledge) – ya saya memang sedih karena ini, saya merasa marah karena itu, dsb. Semua perasaan ini boleh saya rasakan. Semua perasaan itu valid, tapi tidak semua perilaku dapat diterima. Marah boleh, tapi memukul anak tidak boleh (ini saya lho yaa).

3. Memberi waktu untuk menenangkan diri (calm down) dengan cara belly breathing/butterfly hug/ lainnya yang sesuai dan cocok dengan kita.

4. Saat kita sudah lebih tenang, maka akan lebih mudah berpikir dan belajar mengenali diri

Catatan penting buat saya adalah sama seperti anak-anak bertumbuh, seorang ibu pun bertumbuh setiap hari. Saat dilanda emosi yang besar, ibu ga perlu pura-pura kuat, justru mengakui dan menerima perasaan itu pada akhirnya bisa menjadikan kita hari ini orang yang lebih baik dari kemarin 🙂  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *