Tentang Ibu yang Bertumbuh

by | Oct 13, 2020 | Psychology, Reflections | 30 comments

Beberapa hari yang lalu banyak selebrasi Hari Kesehatan Mental se-dunia. Feed instagram saya penuh dengan live IG, flyer ucapan atau quote yang berkaitan dengan hal tersebut. Jika dulu, kesehatan mental rasa-rasanya tidak pernah saya dengar, kini hal itu semakin nyaring disuarakan. Kesehatan mental perlu diperhatikan oleh setiap orang, apalagi ibu rumah tangga seperti saya. Karena katanya, peran ibu rumah tangga adalah yang paling rentan mengalami stres bahkan sampai depresi. Bener apa bener?

Saya sendiri adalah IRT full timer yang menghabiskan 24 jam sehari bersama anak-anak. Sebagai ibu, saya selalu membersamai anak-anak berikut dengan rengekan, tangisan, keluhan, sekaligus tawa dan kelucuan mereka. Dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu saya hanya berinteraksi langsung dengan anak-anak dan suami. Belum lagi ditambah rutinitas pekerjaan yang sama setiap hari. Lama-lama saya merasa seperti robot. Bangun tidur otomatis langsung menuju dapur menyiapkan bubur MPASI, menyiapkan lauk pauk untuk dimasak, mengurus pakaian kotor dan pakaian bersih untuk diseterika, dan seterusnya. Tanpa pandemi aja sudah berat, apalagi kenyataannya sekarang kita harus membatasi interaksi dengan orang lain. Pergaulan sosial saya pun menjadi sangat terbatas. Kalau dulu setidaknya 2x seminggu bisa menghadiri perkumpulan di gereja dan berinteraksi dengan orang lain. Hal tersebut sudah cukup membuat saya merasa ada beban yang terlepas. Tetapi sekarang? Boro-boro mau kumpul kan. 

Yang kita sudah sama-sama tahu, saat kita merasa letih, emosi pun menjadi tidak stabil. Kita menjadi lebih mudah terpancing dan menjadi marah. Inilah yang menjadi salah satu alasan saya mengikuti salah satu webinar parenting yang dibawakan oleh psikolog Deepika, founder dari The Open Connection. Saya mencintai anak-anak saya, tapi kok belakangan saya mulai gampang terpancing kesal. Dan saat itu terjadi, saya malah semakin menyesali diri kok bisa-bisanya saya kesal sama anak sendiri. Pusing kan?

Polyvagal Theory

Dalam materi webinar, disampaikan bahwa sebenarnya emosi-emosi yang kita alami adalah sesuatu yang wajar. Jika ditilik dari teori mengenai sistem saraf, Polyvagal Theory, manusia berada dalam kondisi sistem saraf yang selalu berpindah-pindah mulai dari sympathetic, dorsal vagus, atau ventral vagus. Pakai contoh aja ya biar lebih gampang.

Pada saat ibu sedang duduk tenang, nonton tv atau membaca buku, beristirahat maka pada saat itu sistem saraf yang bekerja adalah ventral vagus. Disini, ibu rileks dan tenang. Saat anak memanggil dan meminta sesuatu kepada ibu, ibu langsung beranjak dari posisi sebelumnya dan bekerja “oh, anak saya pup harus ke toilet untuk dibersihkan” atau “oh, anak saya nangis karena lapar berarti harus kasih makanan”. Saat itu sistem saraf yang bekerja adalah sympathetic. Ketika anak merengek, ibu mulai terpancing emosi kesal/marah, saat itu juga sistem saraf sympathetic yang berperan. Nah, ini semua bisa berpindah-pindah secara otomatis berulang kali di sepanjang hari

Dorsal vagus adalah ketika ibu freeze (tubuhnya shut down) saat mengalami tekanan dan tidak bisa berfungsi. Mungkin contoh yang paling ekstrem terjadi pada korban pemerkosaan yang tidak mampu melawan. Bukan tidak mau, tetapi pada saat itu sistem sarafnya colapse sehingga tidak bisa berpikir/bertindak untuk melawan.

Deepika menjelaskan, bahwa dalam sehari-hari kita bisa berpindah-pindah state, dimana hal itu adalah normal. Tapi yang menjadi catatan disini adalah jika emosi yang dikeluarkan ibu menjadi terlalu berlebihan sebagai respon dari permintaan anak/suami yang mungkin sebenarnya biasa saja. “Eh, kok bisa ya gue ngamuk sama anak padahal dia cuman minta air putih”, “kok bisa ya tadi marah-marah padahal cuma perkara sepele” dan seterusnya. Lebih jauh, menurut Deepika, saat ada emosi besar yang kita alami, sebenarnya ada inner child kita yang sedang aktif dan perlu diselesaikan.

Emotional Charge : Belajar Mengenal Diri

Tidak ada orang sempurna, begitu pun seorang ibu. Kita hari ini adalah kumpulan diri kita di masa kecil dulu, di hari-hari kemarin. Untuk mengetahui “kenapa sih kok bisa mengalami emosi besar seperti itu, ada perasaan yang meledak-ledak” caranya adalah kembali belajar mengenali diri sendiri

Proses mengenali diri sendiri ini tentu gak mudah. Karena seringkali yang menjadi penghambat adalah lingkungan yang kurang mendukung. Butuh tempat yang aman untuk dapat berproses. Misalnya dengan menulis jurnal, menggambar, atau berbicara pada diri sendiri (dengan rekaman audio). 

Jauuuuhhh sebelum saya berkenalan dengan materi ini ternyata saya sudah duluan melakukan jurnaling. Sangat membantu menurut saya. Apalagi dulu semasa banyak penyesuaian dengan keluarga pihak suami setelah menikah. Menulis adalah cara saya dapat mengungkapkan segala pikiran dan perasaan yang saya alami. Dari tulisan-tulisan tsb, saya bisa menelusuri apa yang sebenarnya saya alami, saya takutkan, saya harapkan, dsb.

Proses menulis menjadi hal melegakan karena tidak ada penghakiman atau penilaian. Semua yang saya pikir dan rasakan, seutuhnya diterima oleh buku jurnal saya. Bisa bayangkan betapa enaknya kalau seandainya saya bisa melakukan hal tsb pada seseorang, tanpa dinilai. Sekarang, saya jadi kembali menyempatkan diri menuliskan isi pikiran dan perasaan saya di jurnal. Dan ini bener-bener jadi “me time” yang menyegarkan buat saya.

Berlatih menjadi mindfulness

Salah satu yang dapat dilakukan ketika sedang dilanda emosi yang besar adalah dengan melakukan GROUNDING EXERCISE. Ini adalah aktivitas yang bisa kita lakukan untuk “kembali” ke masa kini saat kita hilang orientasi karena emosi yang besar tadi. Jadi kita mengembalikan kesadaran diri dan menjadi tenang dengan menggunakan feedback dari tubuh. Inget kan tadi dari teori di atas, tubuh kita merespon emosi yang kita rasakan, jadi ini sekarang dibalik: saat merasa emosi besar, kita berusaha menetralkannya dengan bantuan sikap tubuh, yaitu dengan belly breathing dan butterfly hug.

Cara melakukan belly breathing adalah bernapas dengan perut. Tarik napas artinya perut membesat, buang napas perut mengempis. Kita fokus masuk dan keluarnya udara saat bernapas. Hal ini membantu kita untuk kembali ke masa sekarang dan fokus pada hal yang sedang terjadi, yaitu bernapas. Saat bernapas ada kalanya pikiran kita kesana kemari dan menimbulkan emosi/perasaan tertentu. Tetapi disini kita hanya menerima perasaan tsb, tanpa evaluasi tanpa penilaian apapun. Seiring dengan kita mengembuskan napas keluar, perasaan negatif itu ikut terbuang, seakan kita diingatkan bahwa perasaan/emosi negatif hanyalah sementara -yang nantinya pasti akan hilang.

Insight pribadi : Labellah emosimu dan terima hal itu

Jujur, saya pribadi agak merasa gimana gitu kalau apa-apa dikaitkan dengan inner child. Bahwa ada yang belum selesai di masa kecil dulu sehingga efeknya terasa sekarang saat kita sudah menjadi orangtua. Untuk saat ini, itu pendapat saya. Yang ada dalam pikiran saya, saat orang dewasa mengalami emosi yang besar/meledak kurang lebih sama dengan TANTRUM pada anak. Bagaimana pendekatan saya pada tantrum anak, demikian sebaiknya dilakukan pada diri sendiri. How?

  1. Menamai perasaan tersebut (labelling) – apakah saya sedih, marah, kecewa, takut dsb

2. Menerima perasaan tersebut (acknowledge) – ya saya memang sedih karena ini, saya merasa marah karena itu, dsb. Semua perasaan ini boleh saya rasakan. Semua perasaan itu valid, tapi tidak semua perilaku dapat diterima. Marah boleh, tapi memukul anak tidak boleh (ini saya lho yaa).

3. Memberi waktu untuk menenangkan diri (calm down) dengan cara belly breathing/butterfly hug/ lainnya yang sesuai dan cocok dengan kita.

4. Saat kita sudah lebih tenang, maka akan lebih mudah berpikir dan belajar mengenali diri

Catatan penting buat saya adalah sama seperti anak-anak bertumbuh, seorang ibu pun bertumbuh setiap hari. Saat dilanda emosi yang besar, ibu ga perlu pura-pura kuat, justru mengakui dan menerima perasaan itu pada akhirnya bisa menjadikan kita hari ini orang yang lebih baik dari kemarin 🙂  

You May Also Like

Setop Eksploitasi Anak untuk Kampanye Rokok

Setop Eksploitasi Anak untuk Kampanye Rokok

SETOP EKSPLOITASI ANAK UNTUK KAMPANYE ROKOK Pendidikan adalah cara mencetak generasi berkualitas di masa mendatang. 40-50 tahun lagi, anak cucu kitalah yang akan membangun bangsa ini. Tapi bagaimana kalau sejak sekarang mereka telah dipaparkan pada rokok, termasuk...

Satu Langkah Kecil: Memulai Menjadi Narablog

Satu Langkah Kecil: Memulai Menjadi Narablog

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menyampaikan ke seorang teman saya kalau saya ingin sekali melakukan sesuatu yang berbeda tahun ini tapi belum tahu apa. Awalnya ditertawakan sih. "Yah mau apa  lagi sih sudahlah jadi IRT saja, masak, mengurus anak,...

Hello 2019! A New Journey Begins

Hello 2019! A New Journey Begins

Hello 2019!     Akhirnya, setelah selama ini hanya wacana, saya memutuskan untuk mulai menulis di blog. Sedikit banyak demi meringankan isi kepala yang selama ini tanpa pelampiasan hahaha 🤣   Biasanya saya memulai tahun baru dengan memiliki beberapa resolusi....

30 Comments

  1. Cicajoli

    kok relate ya tulisan ini dengan kondisi ku skrg. Akutu merasa bertumbuh juga loh Mba, sejak punya ponaan, belajar lebih peka, kontrol emosi dan mencoba ambil waktu untuk main bareng mereka, duh senang banget.

    hmm, apalagi kalau anak sendiri nantinya ya hehe 🙂

    Reply
    • Eka Mustika

      bener banget Mbak kita butuh penyaluran emosi walaupun hanya lewat jurnal dan saya setuju banget bahwa Emang apa-apa itu nggak bisa dikaitkan dengan inner Child

      Reply
  2. fivit

    seneng bacanya, dan tema tema ini lg sangat diangkat dimana mana, kewarasan ibu memang yg utama ya Mak, bener banget, aku juga jadi ikut- ikut kelas begini biar mindfullness sama diri, benahi diri,cintai diri baru kita bisa mencintai sekitar kita, good idea itu bagian yg rekam suara sendiri dan ngomong sendiri, lama ga ngomong- ngomong sama orang jadi kaku rasanya kmrn disuru ngomong di forum hahahaha

    Reply
  3. Putri salsabila

    Setujuuu banget! Kita musti lebih paham atau sekedar googling soal mental health, karena mental health terkadang ditemukan disekitar kita dan dampaknya buruk kalau kita salah kaprah menarik dibagian ” Menulis adalah cara saya dapat mengungkapkan segala pikiran dan perasaan yang saya alami” ini juga udah aku buktiin di diriku sendiri nih kak manjurr bgtt.

    Reply
    • winda - dajourneys.com

      kalau saya dulu setelah melahirkan, dokternya mengingatkan, bu, yang penting setelah melahirkan itu mencintai diri sendiri dulu, sayang sama diri ibu sendiri, kasih reward buat ibu sendiri ya 🙂 setelah itu ibu baru bisa menjadi ibu yang baik buat anak ibu *makjleb

      Reply
  4. mutia nurul rahmah

    kalau jenis tulisan seperti ini, paling cocok kuberitahu ke adikku yang lagi mendalami hal seperti ini

    Reply
  5. Melati Octavia

    Makasih ya ilmu nya ya kak…, apalagi nanti buat bekal ketika berumahtangga

    Reply
  6. Ananda Nazief

    Duh, jadi rindu nongkrong sama emak 1 ini, sambil ngomongin hokben wkwkwk
    Anyway jadi emak emang sulit, tapi emak hanyalah manusia biasa, ya kan…

    Reply
    • Helena Magdalena

      Emak juga kadang baperan..eh laperan…hahahaha kapan hokben lg kita :))

      Reply
  7. Hairil

    enak bacanya kak. yang paling kena itu sih soal mindfulness ini bagus sekali. emang masalah kita ini kadang bisa agak lebih ringan dengan penerimaan. nais share kak!

    Reply
  8. nchie hanie

    So simple banget bacaannya, sukaa deh. Dan caranya pun simple untuk selalu menjadi Ibu yang bertumbuh.
    Aku suka mindfulness dari dulu, ya sudah terima diri apa adanya dalam keadaan apapun, dengan menyadari, mengakui dan melepaskan semuanya .
    Semoga Mama2 menyadarinya yaa..

    Reply
    • Helena Magdalena

      Betul, kadang sulit menyadari karna sudah dari dulu digaungkan jadi ibu itu harus serba sempurna..pdhl jadi ibu pun banyak lika likunya hihihi

      Reply
  9. Rach Alida

    Wah baru tahu aku nih mba. Makasih ya. Seringkali seorang ibu merasa dia udah harus bisa mengatasi semuanya. Padahal ini tak benar. Bagaimana pun ibu juga harus mengenali dirinya juga dengan baik. Makasih tipsnya mba

    Reply
  10. Dewa Ayu

    Mba aku juga ngalamin, pas situasi normal datang ke event ketemu temen adalah salah satu previllege utk bisa me time. Sekarang…boro boro deh ampun kalau ga diimbangi dengan doa udah stress kali ya

    Reply
  11. Dessy Achieriny

    Setiap manusia gak hanya ibu perlu memiliki tempat cerita, merasa didengar, disupport. Apalagi seorang ibu yang berkutat di rumah mengurus anak terus menerus. Tindakan kecil dalam bentuk perhatian bisa jadi kekuatan dalam kesehatan mental. Emosi meluap tidak terkontrol faktor lainnya juga bisa karena kelelahan merasa sendiri mengurus semuanya. Jadi banyak belajar lagi aku setelah baca artikel ini. Thanks mbak

    Reply
  12. YSalma

    Sangat penting seorang ibu mengetahui kondisi emosinya ya mba. Sebab memaksakan diri merasa ‘sok kuat’ itu malah membuat beban emosi semakin bertambah dan imbasnya pada anak2. Makasih sudah diingatkan kembali melalui tulisan ini mba.

    Reply
  13. Yuni

    Aku baca tulisan ini jadi koreksi pada diri sendiri…selama ini emang emosiku suka meledak…terlebih kalau dijanjiin sesuatu tapi nyatanya janji itu tidak juga dipenuhi…ini yang bikin aku suka marah bahkan pelampiasannya bisa ke suami atau anak. Terimakasih pencerahannya ya mbak….bisa buat introspeksi pada diri sendiri.

    Reply
  14. Linimasaade

    Noted banget ini mbak. Aku suka salut sama ibu-ibu yang berjuang untuk mengendalikan emosi demi keluarga dan diri sendiri.

    Reply
  15. Mugniar

    inner child yang sedang aktif dan perlu diselesaikan ini juga saya alami … kalau lagi sadar bisa cepat baiknya tapi kalau lagi kurang terkendali, suka nyesal sendiri. Harus belajar terus untuk lebih aware …

    Reply
  16. Uniek Kaswarganti

    Iya sih, ga selalu tentang inner child ya. Seseorang yang dalam keadaan tertekan, wajar saja mengalami ledakan emosi. Butuh latihan khusus bertahun-tahun untuk bisa mengendalikannya, apalagi jika kondisi lingkungan rumahnya tak terbiasa mengajarkannya untuk mengendalikan emosi, ya kan.
    Terima kasih untuk sharing ini mba. Mengingatkanku untuk makin sabar dari hari ke hari.

    Reply
  17. Kata Shyntako

    Soal inner child ini juga aku setuju mba, karena teorinya masuk akal menurutku, aku dari dulu termasuk yang suka banget baca tentang psikologi soalnya. Dimulai dengan jujur dan menerima kondisi diriku itu penting mba, dan jika diperlukan tidak ada salahnya kita konsul sama psikolog biar dapat solusi. Happy mentah health awareness!

    Reply
  18. herva yulyanti

    Aku baru tahu ini mba istilahnya ini hingga yang Dorsal vagus gitu, aku juga ngerasain banget emosi meledak2 emang yah butuh mindfullnes mencoba untuk menerima..

    Reply
  19. Okti Li

    Membutuhkan tempat untuk curhat itu memang wajar dan realitas ya. Apalagi seorang ibu dengan segala permasalahannya, mulai urusan sendiri, keluarga, anak, dan masa depan. Semuanya baik dijalankan dengan penuh kesyukuran dan mindfullness…

    Reply
  20. Ida Tahmidah

    Masa pandemi ini mengajarkan aku banyak hal termasuk menjadi merasa semakin berusaha utk memanfaatkan waktuku, jadinya aku banyak kegiatan yang bermanfaat buat sekitar alhamdulillah….

    Reply
  21. Siska Dwyta

    Wah Mbak terima kasih sudah berbagi postingan yang menginspirasi ini. Sampai saat ini saya emosi saya masih gampang meledak. Saya tidak tahu apakah ini ada hubungannya dengan masa kecil saya atau tidak tapi saya setuju dengan pesan yang Mbak sampaikan

    “Saat dilanda emosi yang besar, ibu ga perlu pura-pura kuat, justru mengakui dan menerima perasaan itu pada akhirnya bisa menjadikan kita hari ini orang yang lebih baik dari kemarin” *noted banget ini

    Reply
  22. Dawiah

    Ibu yang bertumbuh ibaratnya anak yang sedang bertumbuh dan berkembang, dan paling utama adalah menerima dri apa adaya. Suka dengan tulisan ini, dan sangat diperlukan bukan hanya selama masa pandemi tetapi sampai akhir hidup kita butuh asupan ilmu demi kebahagiaan diri.

    Reply
  23. lendyagasshi

    Berasa tulisannya buat aku.
    Heuehuu~
    Akutu tipikal orang yang sangat bersemangat sekali dan bisa sangat tidak bersemangat sekali kalau kena suatu hal yag tidak mengenakkan.
    Sepertinya butuh banget berhenti sejenak, mengenal kembali diri sendiri.

    Reply
  24. Emanuella Christianti

    Waaaa banyak ilmu baru ini, makasi banyak ya Mbak sharingnya…. Love banget bagian mengenal diri sendiri dan menerima emosi yang ada. Semangaaat!!!!

    Reply
  25. Bundabiya.com

    mindfull ini banyak manfaatnya ya, mbak. kalau di aku sendiri paling kerasa adalah mengenali tanda kalau mulai emosi, mulai ga sehat, dan lain-lain. meskipun ya belum optimal dan gak selalu bisa terkontrol dalam setiap situasi

    Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest

Share This