Tentang Kerja pada Anak

by | Sep 6, 2021 | Education, Montessori | 8 comments

Kalau dulu ada yang bilang, anak ibarat kertas kosong sehingga orangtua berperan seutuhnya dalam perkembangan anak, orangtualah yang membentuk anak. Kini, kita tau kalau hal itu gak lagi dianggap sesuai. Menurut Montessori, anak memiliki kontribusi penting dalam perkembangannya. Peran orang dewasalah untuk memfasilitasi hal tersebut agar dapat berlangsung optimal, yaitu dengan prepared evironment yang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak dan tidak menginterupsi atau menawarkan bantuan yang tidak perlu. Anak menjalani peran sebagai murid dan guru bagi dirinya sendiri.

Anak-anak kan seharusnya main, bukan kerja…

Sekarang kita lihat sebentar ke kerja milik orang dewasa. Kerja orang dewasa itu bentuknya lebih kepada produktifitas. Ya kita kerja biar dapet cuan, bisa belanja kebutuhan, bayar ini itu, buat nabung atau investasi. Kita kerja biar tugas-tugas kita cepet selesai, lebih ringan, kalau perlu dengan lebih sedikit  usaha. Prinsipnya macam prinsip ekonomi: berusaha seminimal mungkin untuk dapet hasil semaksimal mungkin. Kita ga keberatan kalau pekerjaan kita dipermudah dengan teknologi. Let’s say…udah capek pulang kantor, tapi ternyata lantai rumah belum bersih. Ya pake vakum aja lebih ringan kerjanya. Kita juga ga keberatan mendelegasikan kerja dengan orang lain agar lebih ringan. Tujuannya mau apa sudah tau.

Beda kerja pada anak-anak. Mereka ada di masa “here and now”. Contoh nih, kalo lagi bebenah barang dan mau dipindah ke ruangan lain, demi hemat waktu, kita kumpulin jadi satu semua, baru diangkat sekaligus. Berkebalikan dengan anak-anak. Biasanya anak-anak lebih suka memindahkan barang satu persatu. Mereka lagi melatih kekuatan otot besarnya, gerakan kaki dan tangan, koordinasi, dan sebagainya. Lalu apa yang terjadi? Terus orangtuanya ga sabar dan “mencuri usaha” mereka dengan alasan ingin membantu. Padahal mah karena lama, ga sabar woy.. Wkwkwk.

Spontaneous Activity

Apa arti kerja untuk anak? Kerja bagi anak adalah sebuah usaha untuk “menciptakan” dirinya sebagai orang dewasa di masa depan. Waktu masih sangat kecil, gerakan anak masih belum terkontrol, ia menendang-nendang tanpa arah, kemudian seiring bertambah usia perlahan mengangkat kepala, mulai duduk, mulai meraih benda-benda, dll. Ia bekerja dengan otot-otot tubuhnya. Tidak ada yang mengarahkannya, ia menjalankan fungsi tubuhnya sendiri.

Ia terpikat dengan kegiatan “now and here”. Dasar ketertarikan anak ada pada proses belajar dan pengulangan/ repetisi gerakan pada hal yang ingin dia kuasai dan saat ia bisa ia semakin tertarik mencobanya lagi? Coba habis ini, temen-temen kasih kesempatan anaknya mencoba hal yang menarik bagi dia, mungkin mencoba mengancing baju sendiri, mencoba pakai kaos kaki sendiri, mencoba pakai sepatu sendiri. Sekali berhasil, mukanya bakal kegirangan dan jadi “ketagihan” mengulangi gerakan-gerakan tersebut agar semakin mahir.

Inilah yang disebut spontaneous activity dalam Montessori. Perkembangan anak terbuka dari dalam melalui berbagai kegiatan kerja yang bermakna atas benda-benda di sekitarnya. Ia adalah murid sekaligus guru untuk dirinya sendiri untuk mencapai perkembangan mental dan kemandiriannya.

Spontaneous activity bisa terjadi dengan menawarkan anak-anak benda-benda yang membutuhkan gerakan otot tertentu yang sesuai dengan tahap perkembangannya; atau bisa dibilang learning by doing. Inilah kerja mereka, konsentrasi dan ketekunan adalah hal yang menakjubkan. Yang tadinya pegang pensil masih belum kuat, gerakannya lari kesana kesini, seiring dengan latihan (dalam kondisi yang kondusif dan tanpa interupsi) anak jadi fokus dan kemampuan gerakannya memegang dan menggerakkan pensil menjadi lebih terarah.

Play is the work of a child

PERTANYAANNYA BUNDAAA….ANAK SAYA MASA BELAJAR MULU YEKAN?

Engga dong, wkwkwk. Play is the work of child. Jadi bermain adalah waktu dimana mereka belajar sambil berlatih. Segala gerakan baru yang awalnya dilakukan anak dengan cara yang clumsy atau kikuk, seacara perlahan gerakan-gerakan tersebut menjadi penuh kontrol. Benda-benda permainannya bisa menjadi alat untuk “kerja”nya ini. Sebelum anak menulis menggunakan pensil, ia bermain dengan playdough, menjumput koin jatuh, membantu memungut makanan yang berjatuhan, memeras sponge sambil main air, menyortir pompom dengan tong, buka tutup botol minuman ibu, dll.

Sebelum anak lancar memakai sepatu sendiri, ia berlatih posisi duduk yang nyaman, mengatur gerakan kaki agar mudah memasukkan kakinya, mengatur gerakan tangan agar bisa mencapai sepatu, menyesuaikan gerakan tubuh menunduk, berlutut, miring. Awalnya kaku dan aneh, tapi dengan latihan gerakan itu menjadi lebih terarah dan terkontrol.

“If he is allowed to use his spontaneous activity in a tranquil environment without interference or unasked for help, he is indeed engaged in a most important work: he is building the man he will one day be.” –Maria Montessori, Montessori Speaks to Parents.

Tulisan ini disarikan dari buku Montessori Speaks to Parents.

Tulisan ini adalah milik saya, dilarang menyalin tulisan ini. Terima kasih 🙂

This article is mine, please do not copy. Thank you for your honesty 🙂

You May Also Like

Free Printable: Alphabet & Tracing Cards

Free Printable: Alphabet & Tracing Cards

Yuhuuu...ibu-ibu sekalian... Sudah bulan Agustus ya, berarti mungkin sudah 2-4 minggu berjalan kegiatan tahun ajaran baru 2021/2022. Tapi tahun ajaran mah di sekolah ya, kalo di rumah belajar bisa setiap saat sambil main-main. Nah, berhubung banyak yang DM aku di...

Montessori Ilmu Budaya: Tentang Imajinasi

Montessori Ilmu Budaya: Tentang Imajinasi

Pembelajaran Montessori dalam area ilmu budaya didesain untuk memperkenalkan dunia luar kepada anak. Kurikulum ini kaya akan pembelajaran yang menarik imajinasi anak keluar untuk melihat hal yang berbeda-beda di berbagai belahan dunia, berbagai macam makhluk hidup,...

Berkenalan dengan Matematika: Korespondensi Satu-Satu

Berkenalan dengan Matematika: Korespondensi Satu-Satu

Beberapa waktu yang lalu, ada seorang mama yang DM saya melalui instagram dan bertanya, "anak saya belum tahu huruf (apalagi membaca) dan berhitung sama sekali. Apakah anak saya ketinggalan?" Dalam Montessori, kita meyakini bahwa setiap anak memiliki inner teacher...

8 Comments

  1. herva yulyanti

    aku juga suka membiarkan anakku untuk beresin mainannya yang berserakan dan bener banget kalau aku yang beresin pasti digereyekin tapi anakku beda satu2 memang memakan waktu tapi disitu juga aku ajarkan untuk tanggung jawab karena udah berantakin..

    sempat baca juga bermain merupakan cara belajar anak jadi ga melulu belajar itu ya harus duduk manis ya mba

    Reply
  2. Rani R Tyas

    Kayaknya memang sebelum masuk ke TK, sebaiknya anak sudah diajarkan melatih motoriknya ya Mbak? Aku agak nyesel sih, anakku yg kedua ini kalau nulis meskipun itu mengikuti pola masih ndredeg – gemetar gitu lah. Padahal ya udah main playdough dll. Mungkin besok-besok mau aku ajak kerja mengupas cangkang telur ya. hahahha

    Reply
  3. Elvina Yanti

    Aku punya adik yang kalau habis main emang PR banget buat membersihkan barang-barang yang udah dibongkar. Tapi, kalau udah lihat Aku mulai beresin, dia kadang mulai ikutan bantuin gitu. Jadi kaya semacam ada pancingan dulu baru gerak, heuheu…

    Reply
  4. Raja Lubis

    Sangat menarik dan insightfull sekali point of view-nya mengenai ‘kerja’ pada anak. Saya juga merasakannya ketika membimbing anak-anak usia SD kelas 1 atau 2 ketika belajar online. Banyak yang nulisnya nggak rapi di kertas, dan acak-acakan pula. Tapi lambat laun mereka bisa menulis dengan rapi. Yang terpenting saat mereka menulis tidak rapi, jangan dimarahin apalagi dibandingkan dengan anak-anak lain.

    Reply
  5. Arni

    Yang paling mudah sih meminta anak untuk membereskan mainnya usai dipakai
    Itu udah belajar bekerja sekaligus melatih tanggung jawab
    Semua anak butuh proses. Asal orang tuanya konsisten dan satu kata antara ayah dan ibu maka anak akan jadi penurut

    Reply
  6. lendyagassi

    Belajar banget untuk tidak menjadi orangtua yang reaktif.
    Karena setiap perkataan dan ction kita sangat berdampak bagaimana mereka melakukan pekerjaan dan mengambil keputusan kelak yaa…

    Reply
  7. antung apriana

    sebenarnya pengen menerapkan metode montesori sederhana buat anak-anak di rumah. tapi kadang ini anak-anaknya malah nggak tertarik gimana ya, mbak. kayak kukasih mainan pinset gitu cuma tertarik beberapa kali habis itu mereka lebih memilih free style kadang main pasir di halaman rumah pakai cetakan gitu atau malah ngeberantakin mainannya. heu

    Reply
  8. Gina Nelwan

    Ini termasuk teknik montessori ya dalam mendidik anak? Teman saya pernah sharing juga soal teknik ini, tapi kayanya untuk saya ibu yang bekerja, sepertinya agak pe-er nih untuk menerapkan montessori. Bagus sih, cuma apa daya ku tak punya keleluasaan waktu huhuhu. Dan saya percaya semua niat orang tua itu pasti baik untuk anaknya apapun cara mendidiknya.

    Reply

Leave a Reply to lendyagassi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest

Share This